Fakta, Hipotesis, Teori, dan Hukum

Dalam grup debat bumi datar, saya sering menemukan orang yg tidak paham perbedaan antara fakta, hipotesis, teori, dan hukum dalam sains. Jika hanya kaum bumi datar yg tidak paham, saya maklum. Namun ternyata tidak hanya kaum bumi datar saja, tapi sebagian orang yg mengakui Bumi bulat juga tidak paham. Fakta yg cukup menyedihkan, ada orang yg mengakui kebenaran sains tapi tak paham konsep dan prinsip dasar sains. Padahal semua itu sudah dijelaskan dengan rinci dalam mata kuliah/pelajaran Metodologi Ilmiah atau Metodologi Penelitian.

Salah satu buku teks rujukan belajar metodologi penelitian yg ilmiah.

Orang awam yg tidak paham sains umumnya memaknai “teori” sebagai dugaan yg belum terbukti. Itu pemahaman yg keliru (miskonsepsi) tetapi banyak digunakan orang di luar konteks ilmiah dalam percakapan sehari-hari. Namun bagi orang yg paham sains, tentu pemahaman ‘teori’—atau lengkapnya ‘teori ilmiah’—sangat berbeda dengan pemahaman orang awam umumnya. Hal ini sudah saya bahas dalam artikel “Ah, Itu kan Hanya Teori Saja!

Untuk lebih memperjelas, kali ini saya akan membahas perbedaan antara fakta, hipotesis, teori, dan hukum dalam sains. Seperti biasa, saya usahakan dengan bahasa yg sederhana agar lebih mudah dimengerti. Begini…

FAKTA

Fakta adalah peristiwa atau kondisi di alam nyata yg bisa disaksikan semua orang dan diakui sebagai kebenaran (truth) yg obyektif. Contoh: “saat ini sedang hujan”, “siang ini matahari bersinar terang”, “malam ini bulan sedang purnama”, “jika kita lepas pensil di udara maka pensil akan jatuh ke tanah”, dan sebagainya. Semua orang yg mengalami peristiwa yg sama pasti akan menyaksikan fakta yg sama.

Namun dalam sains tidak ada kebenaran mutlak. Sains tidak mengenal kebenaran yg tetap (abadi) atau 100% tepat. Kebenaran ilmiah selalu tak pasti (uncertain) atau bersifat relatif. Seberapa pun kecil kemungkinannya, sains tetap menganggap segala hal bisa salah, termasuk fakta. Apa pun yg dianggap benar saat ini bisa salah di masa depan. Istilahnya disebut falsifiable (bisa salah atau disalahkan).

Dengan demikian, segala peristiwa atau kondisi di alam nyata yg tidak bisa disaksikan oleh banyak orang secara obyektif dan konsisten tidak bisa disebut fakta. Contoh: “aku melihat kuntilanak lewat”, “malaikat terbuat dari cahaya”, “semalam ada pesawat alien mendarat di atas rumahku”, “Si Bejo adalah presiden terpilih tahun 2111”, dan sebagainya. Segala sesuatu yg bukan fakta alam biasanya disebut ghaib (tak nyata).

HIPOTESIS

Hipotesis adalah gagasan (ide) yg berusaha menjelaskan fakta alam tertentu. Contoh: “hujan terjadi karena air turun dari awan”, “matahari bersinar terang karena terbuat dari api”, “cahaya bulan bersumber dari pantulan sinar matahari”, “pensil di udara jatuh ke tanah karena ada perbedaan berat jenis”, dan sebagainya. Siapa pun boleh menyusun hipotesis masing-masing.

Namun hipotesis dalam sains bukan penjelasan ngawur atau mengarang bebas tanpa landasan ilmu. Hipotesis disusun dengan dukungan kajian pustaka dari ilmu-ilmu yg sudah terbukti dan diakui benar di dunia sains. Karena hipotesis masih berupa gagasan maka hipotesis bisa salah juga bisa benar sehingga dibutuhkan kajian lebih lanjut untuk membuktikan sebuah hipotesis adalah benar atau salah.

Dengan demikian, segala hipotesis yg tidak berlandaskan sains yg benar pasti ditolak dalam sains. Misalnya hipotesis berdasarkan kitab suci agama tertentu atau hanya keyakinan saja. Contoh: “bumi berbentuk lempeng datar berdasarkan ayat nomor 69 surat P dalam kitab suci X”, “saya yakin bulan adalah robot buatan alien”, “bulan terbelah dua adalah fakta karena sabda utusan Tuhan menyatakan begitu”, dan sebagainya.

TEORI

Teori ilmiah adalah penjelasan ilmiah terhadap sebuah fakta berdasarkan hipotesis yg telah terbukti benar secara ilmiah. Teori harus didukung bukti ilmiah yg diperoleh melalui riset ilmiah oleh ilmuwan. Itu pun belum cukup, hipotesis hanya akan diakui sebagai teori ilmiah jika dan hanya jika telah lolos uji kajian ilmiah oleh ilmuwan sedunia (istilahnya peer review).

Riset ilmiah adalah proses pembuktian hipotesis melalui serangkaian pengujian, pengukuran, pengamatan, dan analisis oleh ilmuwan terhadap fakta alam yg dimaksud. Analisis dilakukan terhadap data-data yg diperoleh selama proses riset berlangsung. Kesimpulan riset ilmiah harus obyektif berdasarkan hasil penelitian dan harus bebas dari subyektivitas pribadi (bias, pendapat, keyakinan) para ilmuwan pelaku riset. Laporan riset ilmiah oleh ilmuwan profesional harus diterbitkan sebagai jurnal ilmiah di kalangan ilmuwan dan akademisi dunia untuk memenuhi syarat riset tersebut bisa diamati (observable), diuji (testable), dan diulang (repeatable) secara obyektif. Tidak ada teori ilmiah tanpa jurnal ilmiah.

Dengan demikian, riset ilmiah tidak bisa dipatahkan atau ditolak dengan dalil agama. Teori ilmiah hanya bisa dipatahkan dengan teori ilmiah yg lebih baru. Maka tuduhan kaum bumi datar bahwa teori ilmiah hanyalah asumsi atau dugaan tanpa bukti adalah salah besar. Mereka tidak bisa bedakan makna ‘teori’ yg dipahami orang awam (termasuk mereka) dengan makna ‘teori’ dalam sains.

Video penjelasan tentang fakta, hipotesis, teori, dan hukum dalam sains.

HUKUM

Hukum adalah penjelasan ilmiah—umumnya berupa persamaan matematis—yg bersifat universal dan fundamental terhadap perilaku alam tertentu. Hukum membuktikan bagaimana alam bekerja, tapi tidak menjelaskan mengapa alam bekerja demikian atau penyebab alam bekerja demikian. Contoh: hukum universal gravitasi, hukum kekekalan massa dan energi, hukum termodinamika, dan sebagainya.

Hukum disusun berdasarkan peristiwa atau kondisi di alam yg sudah diakui oleh seluruh manusia (khususnya ilmuwan) sebagai fakta yg terjadi di alam. Namun demikian, kebenaran hukum pun tidak bersifat mutlak. Persamaan matematis menunjukkan adanya syarat, batasan, atau lingkup bagaimana suatu fakta alam bisa terjadi. Jika syarat, batasan, atau lingkunya tidak sesuai maka hukum pun tidak akan berlaku.

———

Berdasarkan penjelasan di atas maka anggapan awam bahwa hipotesis menjadi teori, lalu teori menjadi hukum, lalu hukum adalah fakta, adalah anggapan yg keliru. Hanya hipotesis yg bisa berubah menjadi teori, yg itu pun harus melalui riset ilmiah yg terbukti benar dan diakui benar oleh ilmuwan sedunia. Pemahaman yg tepat adalah fakta, teori, dan hukum merupakan hal yg berbeda dan berdiri masing-masing namun ketiga saling menguatkan dan penting dalam sains.

Demikian juga miskonsepsi yg lain seperti makhluk ghaib itu nyata, masa depan (yg belum terjadi) adalah fakta, teori sama dengan hipotesis, hukum bersifat mutlak, evolusi hanya teori bukan fakta, gravitasi hanya khayalan Newton atau Einstein, dan sebagainya yg banyak beredar di kalangan awam sains terutama di kaum bumi datar. Ironisnya, kaum bumi datar menyalahkan sains dengan menggunakan miskonsepsi tersebut. Bagaimana mungkin sesuatu yg keliru bisa menyalahkan yg benar?

Salam akal sehat! 😊