Berpikir Ilmiah

Kaum bumi datar sering membanggakan diri sebagai orang yg suka berpikir. Tapi mereka tampaknya tidak paham bahwa berpikir pun juga perlu ilmu. Berpikir tanpa ilmu bisa salah, baik dalam proses maupun hasil berpikirnya. Ada alasan mengapa wahyu pertama yg turun dari Tuhan kepada seorang Nabi yg mulia di salah satu agama terkemuka di Indonesia adalah perintah membaca (iqra’), bukan perintah berpikir. Lalu apakah berpikir (thinking) itu? Dan bagaimana cara berpikir yg ilmiah (scientific thinking)?

Berpikir dengan Benar

Setiap manusia tentu ingin hidup bahagia dan sukses. Untuk mencapai hidup yg demikian, manusia dihadapkan pada berbagai masalah hidup yg seringkali tidak mudah. Agar bisa menentukan solusi yg tepat, yaitu solusi yg paling sesuai, aman, nyaman, dan resiko terkecil, dari berbagai solusi yg mungkin, manusia dituntut harus bisa berpikir. Tuntutan berpikir inilah yg membuat manusia purba berevolusi menjadi manusia modern (homo sapiens) dengan kemampuan otak yg terbaik di muka Bumi. Di antara seluruh makhluk hidup di Bumi, hanya manusia yg mengenal konsep kesadaran (consciousness), berpendapat (reasoning), dan pengetahuan (knowledge) hingga bisa membangun peradaban (civilization).¹

Sedemikian pentingnya kemampuan berpikir bagi manusia, seorang filsuf dan ilmuwan terkenal dari Perancis bernama René Descartes pernah berkata, “cogito ergo sum” yg artinya “aku berpikir, maka aku ada”. Bagi manusia, berpikir juga menunjukkan keberadaan (existence), bukan sekadar kebenaran (truth). Jika seorang manusia tidak lagi mampu berpikir, sejatinya dia sebagai manusia telah tidak ada, atau dianggap tidak ada, walaupun secara fisik masih ada. Namun, berpikir saja tidak cukup. Berpikir juga membutuhkan ilmu agar proses dan hasil berpikirnya benar.

degrasse_tyson - bullshit.jpg

Secara umum, pengertian berpikir adalah proses penentuan keputusan dengan cara mengolah pengetahuan yg telah ada sebelumnya sehingga diperoleh keputusan yg terbaik. Perhatikan bahwa ada syarat pengetahuan yg telah ada sebelumnya. Tidak bisa disebut berpikir jika tidak ada pengetahuan yg mendahuluinya atau mendasarinya. Tujuan berpikir dapat digolongkan dalam tiga hal, yaitu:

  • Mendapat jawaban atas pertanyaan,
  • Mencari penyelesaian atas permasalahan,
  • Menentukan pilihan dari berbagai kemungkinan.

Pengetahuan, Ilmu, dan Sains

Pengetahuan (knowledge) adalah segala yg kita dapatkan dari pengalaman diri sendiri atau informasi dari orang lain yg kita anggap benar. Sekedar tahu saja tidak bisa disebut pengetahuan. Dan karena hanya dianggap benar (dengan alasan tertentu), maka pengetahuan kita belum tentu kebenaran yg sejati. Pengetahuan bisa saja salah, bisa juga benar. Masih ada unsur subyektivitas dalam pengetahuan. Jika pengetahuan yg salah digunakan dalam berpikir maka hasil berpikirnya juga pasti salah.

Contoh: bintang berbentuk segilima adalah pengetahuan yg salah bagi orang yg telah belajar ilmu astronomi, namun menjadi pengetahuan yg benar bagi kanak-kanak yg belum bersekolah. Benar-salah pengetahuan ditentukan berdasarkan ilmu, bukan anggapan pribadi.

Ilmu atau ilmu pengetahuan (science) adalah segala pengetahuan yg diperoleh dengan cara yg sistematis melalui metode tertentu oleh orang berilmu (ahli) yg kita yakini benar. Dan karena hanya diyakini benar (dengan alasan tertentu), maka suatu ilmu belum tentu kebenaran yg sejati. Ilmu pun bisa saja salah, bisa juga benar. Kebenaran ilmu pengetahuan bisa memiliki banyak ragam yg masing-masing mendaku dirinyalah kebenaran sejati (yg lain bukan).

Sangat banyak pengetahuan yg bisa digolongkan sebagai ilmu. Namun ilmu belum bisa sepenuhnya menghilangkan pengaruh subyektivitas dan bias (kepentingan, opini, pilihan, dsb). Misalnya dalam ilmu sosial, ilmu politik, ilmu seni, ilmu agama, ilmu ekonomi, dan yg sejenis; biasanya memiliki banyak “versi” atau “aliran” dalam hal tertentu yg masing-masing mendaku kebenaran, minimal “lebih benar” dari yg lain. Walaupun tidak semua bagian dalam ilmu-ilmu tersebut subyektif, tapi juga tidak bisa dibilang seluruhnya obyektif.

Contoh: Si A baru saja belajar ilmu agama X dari ahli agama X, meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa agama X adalah agama yg paling benar. Namun si B yg telah lama belajar ilmu agama Y dari ahli agama Y, meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa agama Y adalah agama yg paling benar. Keduanya merasa sebagai pihak yg (paling) benar.

Sains atau ilmu [pengetahuan] alam (natural science) adalah segala ilmu pengetahuan tentang alam semesta yg diperoleh melalui penelitian ilmiah berdasarkan metode ilmiah oleh ahli sains (ilmuwan) yg terbukti benar. Dan karena terbukti benar secara ilmiah, maka sains diakui sebagai kebenaran [ilmiah] oleh siapa pun. Kebenaran ilmiah pun bukan kebenaran sejati karena kebenaran ilmiah bersifat relatif dan dinamis, yaitu hanya diakui benar selama belum ada bukti ilmiah lain yg menyalahkan. Kebenaran sains juga bersifat obyektif dan universal, yaitu bisa diterima (dan dibuktikan) oleh seluruh manusia dan berlaku sama di seluruh alam semesta.

Contoh: Ilmuwan John Dalton melalui penelitiannya pada tahun 1803 membuktikan bahwa atom adalah unsur terkecil dari materi yg tidak dapat dibagi lagi. Kemudian ilmuwan J.J. Thomson melalui penelitiannya pada tahun 1897 membuktikan adanya elektron yg bermuatan negatif dalam atom. Atom model Thomson digambarkan seperti bola pejal dengan elektron yg “menempel” pada bola atom, seperti roti kismis. Kebenaran model atom Dalton pun gugur. Demikian seterusnya hingga ilmuwan modern menemukan struktur atom kuantum yg terdiri dari inti proton dan neutron serta elektron yg mengorbit intinya, dimana proton dan neutron disusun oleh quark.

Perangkat Berpikir

Selain membutuhkan ilmu, berpikir juga membutuhkan alat. Alat berpikir adalah logika atau penalaran. Banyak orang yg mengira setiap kali kita berpikir maka logikanya pasti benar. Atau jika kita berpikir maka segala yg bisa diterima pola pikir kita maka pasti masuk akal. Itu salah kaprah. Tidak semua orang yg berpikir itu logikanya benar. Atau tidak semua yg menurut kita masuk akal itu dijamin benar. Berlogika pun ada konsepnya, ada aturannya, ada metodenya. Itu semua disebut dengan ilmu logika. Berpikir tanpa pengetahuan dan penalaran yg benar akan menghasilkan yg disebut dengan sesat pikir (fallacy). 

Konsep-konsep penalaran yg penting dipahami, antara lain:

  • Definisi atau pengertian, adalah penjelasan berupa ciri atau batasan pada suatu obyek sehingga mengantarkan pikiran seseorang hanya kepada obyek tersebut saja, bukan pada obyek yg lain.
  • Entitas, adalah sesuatu yg berada atau berwujud yg menunjukkan sesuatu tersebut sebagai sebuah obyek, biasanya berdasarkan definisi obyek.
  • Identitas, adalah sesuatu yg unik/khas yg dimiliki sebuah obyek yg bisa membedakan obyek tersebut dari obyek lain dalam entitas yg sama.
  • Himpunan, adalah kumpulan obyek-obyek berdasarkan ciri atau batasan yg sama sehingga membedakan dari kumpulan obyek-obyek yg lain.
  • Jenjang atau hirarki, adalah tingkatan obyek berdasarkan ciri atau batasan yg sama sehingga membedakan dari obyek lain di tingkatan yg berbeda.
  • dan lain sebagainya.

Metode-metode berpikir yg umum diketahui, antara lain:

  • Analogi (perbandingan), adalah metode pengambilan kesimpulan dengan membandingkan sesuatu dengan sesuatu yg lain yg serupa atau mirip dengan penekanan pada faktor-faktor tertentu yg dianggap penting.
  • Deduksi (pengkhususan), adalah metode pengambilan kesimpulan dari sesuatu yg bersifat umum menjadi sesuatu yg bersifat khusus.
  • Induksi (peng-umuman), adalah metode pengambilan kesimpulan dari sesuatu yg bersifat khusus menjadi sesuatu yg bersifat umum.
  • dan lain sebagainya.

Ilmu logika mempunyai bahasan yg luas. Tidak mungkin saya menjelaskan semuanya dalam satu tulisan ini saja. Saya akan membahas bagian ilmu logika lainnya dalam tulisan lain yg terkait. Atau jika anda ingin mempelajari lebih lanjut, silakan baca buku-buku tentang ilmu logika di perpustakaan.

Berpikir Secara Ilmiah

Dari penjelasan di atas, bisa kita simpulkan bahwa berpikir yg benar adalah berpikir yg berlandaskan ilmu yg benar dengan logika yg benar. Keduanya harus terpenuhi. Berpikir tanpa ilmu yg benar walaupun logikanya benar, hasilnya salah. Demikian juga berpikir dengan ilmu yg benar tapi logikanya salah, hasilnya juga salah.

Contoh A:

  • Premis 1: Fulan adalah seorang kakek.
  • Premis 2: Fulan adalah orang yg gundul.
  • Kesimpulan: Kakek adalah orang yg kepalanya gundul.

Contoh di atas memiliki premis dengan pengetahuan yg benar karena faktanya memang Fulan adalah seorang kakek dan kepalanya gundul. Logika penarikan kesimpulannya pun benar. Tapi kesimpulan yg diambil salah karena tidak sesuai dengan definisi ‘kakek’, walaupun faktanya benar. Ini contoh berpikir yg salah walaupun bangun logikanya benar.

Contoh B:

  • Premis 1: Kakek adalah seorang yg punya cucu.
  • Premis 2: Anu adalah cucu Fulan.
  • Kesimpulan: Fulan adalah seorang kakek.

Contoh di atas memiliki premis 1 berisi definisi yg benar dan premis 2 berisi pengetahuan tentang hubungan keluarga antara Anu dan Fulan (yg dianggap benar). Logika penarikan kesimpulannya pun benar. Secara berpikir yg benar, contoh di atas sah (valid). Tapi contoh ini belum tentu benar jika kita berpikir secara ilmiah.

Berpikir ilmiah tidak cukup hanya berpikir dengan benar. Berpikir ilmiah harus diikuti bukti ilmiah. Berpikir ilmiah mewajibkan setiap elemen dalam bangun logika disertai dengan bukti pendukung. Misalnya dalam contoh B di atas, premis 1 harus disertai bukti bahwa definisi ‘kakek adalah seorang yg punya cucu’ adalah benar, misalnya dengan menunjukkan referensi KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Premis 2 harus disertai bukti bahwa si Anu adalah benar-benar cucu si Fulan, misalnya dengan menunjukkan Kartu Keluarga. Jika premis 1 dan 2 telah disertai bukti yg sah maka kesimpulannya bisa diterima benar dan sah secara ilmiah.

Dalam penelitian ilmiah, tidak cukup premis yg sah dan kesimpulan yg benar secara ilmiah, tapi juga harus diakui (confirmed) sah dan benar oleh ilmuwan lain. Para ilmuwan selalu berusaha memastikan setiap hal dalam sains memiliki bukti yg sah baik secara logis, matematis, dan empiris. Tidak mudah membuat rekayasa, kesalahan, apalagi kebohongan dalam sains modern. Tuduhan kaum bumi datar bahwa sains modern itu bohong adalah fitnah yg tidak berdasar.

Kembali ke kaum bumi datar yg mengaku suka berpikir. Setelah anda memahami apa dan bagaimana berpikir ilmiah dari tulisan ini, tentu anda bisa menilai apakah kaum bumi datar memang telah berpikir dengan benar dan mampu berpikir secara ilmiah. Silakan anda jawab dengan jujur dan obyektif.

Salam akal sehat! 😊

_____
¹ Penelitian menunjukkan bahwa sebagian hewan juga mengenal kesadaran, alasan, dan pengetahuan, tetapi dalam tahap yg sangat dasar (primitif) sehingga belum mampu membangun peradaban.

Iklan