Sains dan Kemanusiaan

Di sela-sela kesibukan pekerjaan yg padat, akhirnya sore ini saya bisa menamatkan serial dokumentar sains berjudul Human Universe dari BBC. Walaupun masih belum sempat menghabiskan buku bacaan yg menumpuk, apalagi menyelesaikan tulisan yg mulai agak terlupakan, setidaknya ada satu hal yg bisa saya selesaikan.

Manusia dan peradabannya tidak bisa dilepaskan dari sains. Sains adalah karya terbesar sekaligus capaian tertinggi umat manusia. Bukti paling nyata dari kesempurnaan dan kemuliaan manusia, dengan akal dan nurani yg diberikan Tuhan, adalah sains. Manusia modern hari ini bisa memiliki peradaban yg sedemikian canggih dan hebat ini adalah berkat kemajuan kecerdasan manusia yg mengejawantah dalam sains dan diterapkan menjadi teknologi. Revolusi sains modern yg dimulai sejak masa Galileo Galilei dengan perangkat teleskopnya (yg sangat sederhana untuk ukuran hari ini) menjadi gerbang pembuka lahirnya manusia-manusia jenius dengan pemikiran dan karya-karya ilmiah yg luar biasa. 

Dari generasi ke generasi, sains dilanjutkan dan disempurnakan secara estafet dan terus-menerus. Manusia modern telah cukup cerdas untuk menyadari bahwa peradaban tidak mungkin dibangun oleh hanya satu generasi saja. Jika tidak ada kerjasama, saling percaya, dan saling menghargai, antar sesama manusia baik lintas generasi sekaligus lintas (suku) bangsa, maka manusia akan selamanya terjebak dalam peradaban purba yg primitif. Kesadaran komunitas berskala besar dan lintas generasi adalah salah satu keunggulan evolusi yg diraih manusia modern. Tanpa kesadaran komunitas itu, manusia akan terpecah dalam suku-suku kecil yg terpisah satu sama lain dan menimbulkan konflik berkepanjangan. Tanpa kesadaran komunitas sosial, bukan tidak mungkin manusia telah punah beberapa ribu tahun setelah kemunculannya.

Karena itu, setiap upaya perusakan dan penghancuran sains adalah sama saja dengan upaya perusakan dan penghancuran kemanusiaan. Jika para teroris itu merusak peradaban modern secara fisik, maka para anti-sains itu merusak peradaban modern secara intelektual. Jika para teroris itu bersenjatakan pistol dan bom, maka para anti-sains itu bersenjatakan kebodohan dan kebohongan. Gerakan anti-sains adalah terorisme terhadap kecerdasan dan ilmu pengetahuan manusia. Keduanya pun sama-sama menggunakan agama yg suci sebagai pembenar tindakan mereka yg salah. Kedua-duanya sama-sama teroris. Keduanya sama-sama jahat. Dan kedua-duanya sama-sama harus kita lawan. Bahkan saya berani bilang bahwa dalam jangka panjang, teroris anti-sains itu lebih berbahaya daripada teroris bersenjata api. Dan salah satu gerakan anti-sains itu adalah kaum bumi datar. 

Hari ini kita menyaksikan perjuangan para penegak hukum melawan teroris yg ingin merusak kehidupan kita. Para polisi yg gagah berani itu menjadi korban dalam upaya menjaga kehidupan manusia agar terbebas dari teror manusia-manusia durjana setengah gila. Sayang sekali, belum ada polisi sains yg ditugaskan melawan teroris anti-sains. Selama belum ada polisi sains, maka kita semua yg dianugerahi ilmu dan akal sehatlah yg seharusnya melawan para teroris anti-sains ini. Jika polisi menaklukkan teroris dengan senjata api dan tameng tahan peluru, maka untuk menaklukkan teroris anti-sains kita perlu senjata ilmu dan tameng akal sehat. Jika tujuan polisi adalah melumpuhkan teroris hingga tidak berdaya, maka tujuan kita adalah menyadarkan teroris anti-sains agar kembali ke jalan ilmu yg benar.

earth_curvature

Mari kita sejenak tundukkan kepala dan tegakkan kesadaran kita sebagai manusia, lalu masing-masing panjatkan doa pada Tuhan Yang Maha Tinggi. Semoga para polisi yg gugur dalam tugas hari ini mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Mulia. Dan semoga para teroris jahanam itu segera diadili dan mendapatkan hukuman yg setimpal sesuai kejahatannya masing-masing, baik hukum di dunia maupun hukum Tuhan di akhirat kelak.

Salam akal sehat nan damai.

_____

– Gambar diambil dari sini.

Iklan