Sains dan Agama

Kaum bumi datar seringkali mencampur-adukkan sains dengan agama. Padahal sains dan agama memiliki prinsip dan konsep pemahaman yg sangat berbeda. Agama itu bersumber dari Tuhan (melalui nabi dan kitab suci), kebenarannya bersifat mutlak dan abadi tapi privat dan subyektif, serta basisnya adalah keyakinan (iman atau dogma). Agama tak bisa diyakini dengan pengamatan, karena banyak hal ghaib (tak terindera). Sementara sains itu bersumber dari hasil pengamatan dan olah pikir manusia (melalui para ilmuwan dan penelitiannya), kebenarannya bersifat relatif dan sementara tapi universal dan obyektif, dan basisnya adalah pembuktian (baik secara empiris maupun logis). Sains tak bisa dipahami dengan keyakinan. Karena itu, memahami sains tidak bisa menggunakan prinsip dan konsep agama, dan juga sebaliknya. Walaupun demikian, agama dan sains tidak (harus) saling meniadakan, justru bisa saling melengkapi jika kita bisa memahami keduanya sesuai cara dan tujuannya masing-masing.

Nabi menyampaikan firman dan ajaran Tuhan, bukan bukti-bukti saintifik tentang alam semesta. Nabi mengajarkan moral dan ritual, bukan berat jenis maupun gravitasi. Kitab suci itu berisi catatan firman Tuhan, bukan referensi saintifik tentang bukti-bukti fenomena alam karena kitab suci bukan jurnal sains. Agama itu berbicara tentang Tuhan, tuntunan hidup, dan moral manusia, bukan (semata) tentang sains. Agama sering kali berbicara tentang alam dengan cara yg inspiratif, bukan teknis. Kitab suci tidak memberikan rumusan gaya gravitasi, atau hukum elektromagnetik, atau penjelasan rinci bagaimana alam semesta bekerja. Manusialah yg harus berusaha memahami alam semesta dengan akal-pikiran yg diberikan Tuhan. Itu sebabnya ilmuwan-ilmuwan jaman dahulu selalu mencari inspirasi dari kitab suci, kemudian dilanjutkan dengan pengamatan dan eksperimen untuk memahami secara detil cara alam bekerja karena kitab suci tidak menjelaskan sedetil itu.

Karena konsep dan prinsip dari agama dan sains itu sangat berbeda, mencampur-adukkan keduanya bisa merugikan keduanya, bahkan bisa merusak keduanya. Contoh… membenarkan isi kitab suci dengan sains. Sains yg sifatnya relatif dan sementara tentu tidak bisa digunakan untuk membenarkan agama yg sifatnya mutlak dan abadi, sebab jika suatu saat sains yg digunakan itu terbukti salah maka otomatis agamanya juga menjadi salah. Demikian juga jika sains dibenarkan dengan dalil agama. Sains yg digunakan tersebut akan menjadi sakral (disucikan) dan tetap sehingga sains akan terhenti, atau minimal terhambat perkembangannya, sebab ilmuwan tak berani mengutak-atiknya lagi.

Kesalahan ini (mencampur-adukkan agama dan sains) sebenarnya tak melulu dilakukan kaum bumi datar, tapi juga dilakukan sebagian kaum bumi bulat (biasanya yg masih awam tentang sains). Tapi dari pengamatan saya, kaum bumi datar lebih banyak menggunakan cara ini, khususnya dalam memahami bentuk Bumi.

science vs religion
Sains menjawab ‘apa’, ‘kapan’, ‘dimana’, dan ‘bagaimana’. Agama menjawab ‘mengapa’.

Karena itu, mari kita hentikan upaya-upaya membenturkan sains dengan agama (apa pun itu). Gunakan “kacamata” yg tepat untuk memahami segala sesuatu sesuai dengan konsep dan prinsip dari ilmu yg mendasarinya. Belajarlah kepada guru-guru yg sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing, serta carilah ilmu dari sumber-sumber dan referensi yg valid serta kredibel.

Salam akal sehat! 😊

Iklan

Satu pemikiran pada “Sains dan Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s