Tahapan Dalam Belajar

read-book-knowledge

Di grup bumi datar saya perhatikan banyak sekali kaum bumi datar yg mengaku bodoh dan ingin belajar tapi bukannya belajar malah ribut bertanya dan berdebat. Kali ini saya akan coba menjelaskan bagaimana tahapan belajar yg baik dan benar. Penjelasan ini ditujukan pada orang yg sudah mampu berpikir dengan baik dan mandiri, bukan kanak-kanak usia di bawah 7 tahun yg masih perlu dibantu proses berpikirnya.

Tahap pertama dalam belajar adalah membaca. Membaca bertujuan untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Bentuk utama bacaan yg disarankan adalah berupa buku. Makanya ada pepatah “buku adalah jendela ilmu pengetahuan”. Mengapa buku? Karena buku itu sebagian besar isinya adalah teks yg sifatnya pasif sehingga kita bisa membaca sesuai dengan kemampuan kita menyerap dan memahami makna yg terkandung dalam teks tersebut. Membaca akan merangsang otak dan akal kita untuk aktif berpikir dalam proses mencerna dan membangun pemahaman berdasarkan teks yg kita baca. Karena buku sifatnya pasif dan searah, kita tidak harus membaca sekaligus seluruh isi buku. Kita bisa baca per bagian, lalu biarkan mengendap dulu di otak sambil dipikir secara seksama hingga kita betul-betul paham.

Tentu kita harus membaca buku yg isinya adalah ilmu dan pengetahuan yg benar, bukan sekadar informasi abal-abal. Bagaimana kita tahu sebuah buku itu isinya bisa dipertanggung-jawabkan? Mudah saja. Buku pertama yg kita baca harus buku yg ditulis oleh orang yg ilmunya sudah dikenal dan diakui di dunianya. Jika ingin belajar ilmu fisika maka bacalah buku yg ditulis oleh ilmuwan fisika yg dikenal dan diakui keahliannya di dunia fisika. Jangan baca buku ilmu fisika yg ditulis oleh ahli ekonomi –misalnya– karena walaupun sama-sama ahli tapi ilmunya berbeda. Apalagi buku ilmu fisika yg ditulis oleh dukun pijat, sebaiknya dihindari saja. Setelah selesai buku pertama, buku selanjutnya adalah buku yg dirujuk atau disarankan oleh buku pertama tadi (biasanya ada di bagian Daftar Pustaka). Ini artinya kita harus tahu dulu siapa saja tokoh-tokoh ilmuwan yg bisa dijadikan rujukan. Cara yg lebih mudah? Baca buku pertama dari yg disediakan oleh kurikulum resmi pendidikan, atau buku pelajaran sekolah. Saran saya, sebaiknya kita membaca setidaknya 3 buku untuk setiap ilmu yg ingin kita pelajari.

Di dunia modern sekarang, di mana teknologi sudah ada di genggaman, konsep buku sudah berkembang lebih canggih. Sekarang “buku” tersedia dalam berbagai rupa bentuk. Ada buku elektronik (buku-el atau ebook), ada buku suara (audio book), ada seri artikel di situs web (yg jika digabungkan akan sama saja dengan buku), dan sebagainya. Saya pribadi lebih menyukai buku-el di ponsel karena lebih praktis sebab bisa dibaca di mana saja, kapan saja, sambil melakukan apa saja. Jika buku saja masih belum cukup memuaskan, bisa dilanjutkan dengan belajar dari media modern yg lebih canggih dari buku, seperti animasi, video, hingga simulasi yg lebih dinamis dan interaktif. Namun semua itu prinsip dasarnya sama saja dengan buku, hanya ragam media dan metode interaksinya lebih banyak.

Tahap kedua dalam belajar adalah bertanya. Setelah kita membaca buku, biasanya tidak 100% isinya bisa kita pahami dengan baik. Mungkin ada banyak pertanyaan yg tidak kita temukan jawabannya di buku. Maka untuk mencari jawabannya, kita perlu bertanya pada orang lain. Ini adalah proses belajar dua arah, tanya-jawab. Seperti saat mencari buku, bertanya pun juga jangan ke sembarangan orang. Bertanyalah pada orang yg memiliki ilmu yg benar serta ilmunya lebih tinggi dari kita. Jika kita masih SD, bertanyalah setidaknya pada lulusan SD. Jika masih SMA, bertanyalah pada lulusan SMA. Dan seterusnya, lebih tinggi lebih baik. Cara yg mudah? Bertanyalah pada guru atau dosen yg ilmunya sesuai. Di internet pun begitu. Jangan bertanya pada orang tidak jelas dan asing di internet atau media sosial sebab kita tidak tahu apa latar ilmu dan keahliannya, kecuali sudah terbukti identitas dan rekam jejaknya. Bertanya pada orang yg salah bisa mendapat ilmu yg salah sehingga alih-alih makin pintar malah kita makin bodoh. Itu yg terjadi pada kaum bumi datar. Di internet, siapa pun bisa menjadi apa pun. Hati-hati.

Tahap ketiga dalam belajar adalah diskusi. Kita sudah membaca buku, sudah lebih paham setelah mendapat tambahan ilmu dari orang lain, tapi masih ada keraguan atau belum puas dengan penjelasan yg ada. Keraguan bisa jadi karena mungkin masih ada yg belum kita pahami atau kita punya pemikiran lain yg berbeda dari apa yg sudah kita pelajari. Diskusi adalah interaksi antar dua atau lebih manusia untuk saling berbagi dan bertukar pendapat atau pemahaman berdasarkan ilmu masing-masing. Pertukaran pendapat dan pemahaman ini bisa menjadi sumber jawaban atas hal-hal yg masih kita ragukan sebelumnya. Bukan tidak mungkin pula dari diskusi akan menghasilkan pemahaman baru yg lebih baik. Jelas syaratnya bahwa setiap pihak yg berdiskusi harus punya bekal ilmu yg setara. Jika ada salah satu pihak yg ilmunya lebih tinggi, apalagi bedanya jauh, maka yg terjadi akan cenderung pada tanya-jawab atau kembali ke tahap kedua.

Dalam ilmu alam, tahap ketiga bisa juga dilakukan atau disertai dengan percobaan atau eksperimen (baik sendiri atau bersama) untuk membuktikan ilmu yg telah kita baca dan pahami. Sebagaimana diskusi, syarat untuk melakukan percobaan adalah kita harus punya bekal ilmunya dulu. Jangan ujug-ujug bikin percobaan begitu saja. Bukan saja itu sia-sia karena tidak bisa dipertanggung-jawabkan, tapi juga bisa berbahaya dan mungkin akan mencelakakan kita. Lagipula, percobaan apa yg akan kita lakukan jika kita belum mengerti dasar ilmunya? Contohnya, kita tidak paham ilmu kimia dan cara melakukan eksperimen, tapi langsung sok tahu masuk ke laboratorium dan mencampurkan segala cairan yg ada di sana. Jangan berharap kita bisa berubah jadi superhero ala The Flash, yg terjadi bisa saja gedung laboratoriumnya meledak! Dan kita mati sebagai korban, lalu besoknya masuk koran.

Tahap keempat dalam belajar adalah mengajar. Loh, belajar kok mengajar? Ya, mengajar pun adalah salah satu bentuk belajar. Dalam setiap proses mengajar yg baik dan benar, pengajar bisa mendapatkan ilmu dan informasi baru yg akan menambah pemahamannya. Mengajar akan terus mengasah ilmu dan pemahaman kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Mengajar itu tidak harus menjadi guru atau dosen. Di setiap kesempatan kita bisa mengajari orang lain yg bertanya tentang ilmu pada kita. Syarat untuk mengajar adalah kita harus bisa mempertanggung-jawabkan apa yg kita ajarkan pada orang lain. Kita hanya boleh mengajarkan ilmu yg kita pahami atau keahlian yg kita kuasai dengan baik. Jangan mengajarkan ilmu atau pengetahuan yg kita belum pahami betul atau yg kita masih ada keraguan di dalamnya. Jika ada orang yg mengajarkan ilmu yg salah, baik karena memang ilmunya salah atau pemahaman pengajarnya yg salah, harus kita tegur karena itu sama saja dengan menyebarkan kebodohan. Kebodohan harus kita lawan dengan ilmu pengetahuan yg benar.

Tahap kelima atau yg terakhir dalam belajar adalah berkarya. Berkarya adalah upaya mewujudkan ilmu yg kita pahami atau keahlian yg kita kuasai menjadi sesuatu yg bisa berguna bagi khalayak umum. Seperti mengajar, berkarya pun juga bagian dari proses belajar. Dari setiap karya yg kita buat, kita akan mendapatkan pengalaman baru yg bisa membentuk pemahaman baru yg lebih baik, atau bahkan bisa membangun ilmu yg baru. Karya bisa berupa apa saja, bisa tulisan, bisa produk, bisa layanan, bisa jasa, bisa seni, bisa riset, dan apa pun yg bisa bermanfaat untuk masyarakat. Dalam konteks akademik, setiap ilmu itu harus bisa diwujudkan dalam bentuk tulisan atau buku agar ilmunya bisa dibaca dan dimanfaatkan orang lain. Itu sebabnya mengapa ada tuntutan menghasilkan karya ilmiah di jenjang pendidikan tinggi. Berkarya sebagai tahap tertinggi dalam belajar tentu membutuhkan ilmu yg cukup serta upaya yg keras. Karena itu sudah seharusnya kita bisa menghargai karya orang lain.

Pada akhirnya, belajar adalah sebuah proses panjang yg dimulai sejak kita lahir dan akan berakhir setelah raga dan akal kita tak bisa bekerja lagi. Orang bodoh bukanlah orang yg kurang ilmu, melainkan orang yg merasa cukup dengan ilmunya dan berhenti belajar. Orang pintar bukanlah orang yg banyak ilmu, melainkan orang yg tak pernah merasa cukup dengan ilmunya dan terus belajar. Tentu ilmu yg dimaksud adalah ilmu yg baik dan benar.

Nah, kembali ke kaum bumi datar yg mengaku bodoh dan ingin belajar. Jika betul-betul kalian ingin belajar, maka lakukanlah mulai tahap pertama yaitu membaca. Sudah berapa banyak buku ilmu alam modern yg kalian baca dan pahami? Lalu lanjutkan ke tahap kedua yaitu bertanya. Sudah berapa guru atau dosen yg kalian tanya tentang ilmu alam agar lebih paham? Jika kedua tahapan tersebut sudah kalian lewati sehingga kalian sudah cukup punya bekal ilmu alam yg benar, mari kita lanjutkan ke tahap ketiga, yaitu diskusi. Bisa?

Salam akal sehat! 😊

_____
– Gambar diambil dari sini.

Iklan

2 pemikiran pada “Tahapan Dalam Belajar

  1. Mungkin boleh saya tambahkan satu tahap lagi sebelum tahapan yang pertama, yaitu niat dan memposisikan diri untuk menerima ilmu. Bagaimana cara memposiskan diri? Kalau saya sih biasanya cukup merendahkan hati. Sebab, “dengan merendahkan hati, ilmu bisa gampang masuk ke akal pikiran kita”. (Deddy Mizwar dalam ‘Kiamat Sudah Dekat’)

    Btw, artikelnya bagus sekali. Di sini saya bisa belajar lewat perspektif yang berbeda. Terimakasih, tulisannya mencerahkan… 😀

    Suka

    1. Betul sekali, mas Iqbal. Namun niat lebih cocok dijadikan prasyarat belajar, bukan tahapan belajar itu sendiri.

      Terima kasih sudah mampir di blog saya. Terima kasih atas apresiasinya. Semoga menjadi manfaat. 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s