Ah, Itu kan Hanya Teori Saja!

Saat kita berdebat dengan kaum bumi datar, salah satu argumen andalan mereka untuk menolak penjelasan sains adalah kalimat “Itu kan hanya teori saja. Mana buktinya?” atau kalimat sejenis yg intinya teori ilmiah itu tidak punya bukti. Begini…

Ada dua pengertian ‘teori’, yaitu teori dalam makna ilmiah dan teori dalam makna non-ilmiah (percakapan sehari-hari). Dalam makna non-ilmiah, teori umumnya diartikan sebagai sebuah pendapat atau dugaan tanpa ada bukti atau semacam konsep yg belum ada penerapannya. Makanya lazim dalam percakapan sehari-hari, jika ada orang menduga tanpa ada bukti akan dicemooh dengan kalimat “itu cuma teorimu saja”. Secara kasar, makna teori non-ilmiah tidak jauh berbeda dengan omong kosong.

Namun, teori dalam makna ilmiah memiliki arti yg sama sekali berbeda. Teori ilmiah (scientific theory) adalah penjelasan atas suatu fenonema alam berdasarkan pengamatan terhadap fakta yg ada. Setiap teori ilmiah selalu diawali oleh yg disebut dengan hipotesis. Hipotesis adalah sebuah gagasan baru untuk menjelaskan suatu fenomena alam tapi belum didukung bukti (yg cukup). Namun hipotesis biasanya punya dukungan dari studi pustaka, atau sistem logika, atau pemodelan matematika. Teori dalam makna non-ilmiah lebih dekat dengan makna hipotesis dalam sains. Bedanya, teori non-ilmiah bisa berupa dugaan tanpa analisis sama sekali, alias dugaan ngawur atau ngaco. Sementara hipotesis adalah analisis terhadap fakta dan data hasil pengamatan dalam sebuah penelitian ilmiah. Hipotesis dari sebuah penelitian ilmiah disusun menjadi laporan ilmiah dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah agar diketahui oleh ilmuwan-ilmuwan lainnya.

Ilmuwan lain akan melakukan kajian terhadap laporan tersebut, bahkan tidak jarang yg melakukan ulang penelitiannya. Ini yg disebut dengan kajian sejawat (peer review). Seiring waktu, semakin banyak ilmuwan yg mengkaji serta mengakui (confirm) hipotesis tersebut benar dan penelitiannya sah (valid), maka hipotesis akan diterima sebagai teori ilmiah baru. Jika tidak ada ilmuwan lain atau hanya sedikit ilmuwan lain yg mengakui kebenaran hipotesis dan penelitian tersebut, maka statusnya tetap sebagai hipotesis saja, belum bisa diakui sebagai teori ilmiah. Jika tidak ada satu pun ilmuwan lain yg mengakui benar, apalagi malah ada yg menyatakan hipotesis dan penelitian tersebut salah dan tidak sah, maka hipotesis akan tertolak secara ilmiah. Inilah salah satu mekanisme obyektif dalam dunia ilmiah. Itu sebabnya dalam sains tidak ada konsep ‘percaya’ karena semua teori ilmiah harus berdasarkan bukti dan fakta pengamatan dalam penelitian ilmiah yg benar dan diakui. Tidak ada satu pun teori ilmiah yg tidak melewati proses kajian dan pengakuan ini.

Selain melakukan penelitian baru, ilmuwan juga melakukan kajian terhadap jurnal ilmiah hasil penelitian ilmuwan lain secara terus menerus untuk menemukan dan mendukung teori-teori ilmiah baru. Inilah pekerjaan sehari-hari yg dilakukan oleh para ilmuwan profesional. Karena itu, teori ilmiah bukanlah sebuah kebenaran yg bersifat mutlak dan abadi. Teori ilmiah yg sudah diterima hari ini bisa jadi besok berubah atau bahkan ditolak seiring dengan adanya hipotesis baru yg didukung bukti dan fakta dari penelitian baru. Teori-teori ilmiah yg diakui benar kemudian menjadi dasar ilmu bagi para insinyur (engineer) dalam merancang-bangun teknologi yg pada akhirnya akan dinikmati oleh seluruh manusia di Bumi ini. Tanpa kerja keras dan kerja sama ilmuwan dan insinyur, manusia tidak akan bisa menikmati peradaban modern yg serba canggih ini.

scientific method
Diagram proses metode ilmiah.

Dengan demikian, argumen kaum bumi datar di atas lagi-lagi menunjukkan bahwa mereka tidak paham sains. Teori ilmiah tidak sama dengan teori omong kosong seperti “teori” bumi datar. Teori ilmiah pasti mempunyai dukungan bukti dan fakta berdasarkan penelitian ilmiah. Baik itu teori gravitasi, teori evolusi, teori relativitas, dan teori-teori ilmiah lainnya, pasti memiliki bukti dan fakta dari penelitian ilmiah yg diakui banyak ilmuwan. Dengan argumen itu pula, kaum bumi datar juga telah merendahkan profesi ilmuwan dan insinyur yg telah bekerja keras untuk menemukan teori ilmiah dan menciptakan teknologi bagi manusia.

Dalam hal ini, justru yg pantas dicemooh sebagai teori (non-ilmiah) adalah faham bumi datar karena bumi datar itu cuma omong kosong tanpa bukti ilmiah apa pun. Bumi datar itu tidak sesuai dengan teori ilmiah yg benar, tidak ada jurnal ilmiahnya, tidak ada pemodelannya, tidak ada perhitungan matematisnya, dan tidak ada satu pun ilmuwan profesional yg mengakui kebenarannya. Benar apa yg dikatakan oleh bapak Thomas Djamaluddin, ketua LAPAN RI, bahwa faham bumi datar itu hanya dongeng pengantar tidur belaka. Dan hanya orang bodoh saja yg menganggap dongeng sebagai kebenaran.

“Bumi datar? Ah, itu kan hanya dongeng saja!”

Salam akal sehat! 😊

_____
– Gambar diambil dari sini.

Iklan