Bukti Ilmiah Gravitasi Itu Lemah*

Sudah diketahui semua orang bahwa kaum bumi datar menolak fakta alam gravitasi yg sudah terbukti benar secara ilmiah. Mereka sering bertanya tentang bukti gravitasi. Misalnya, jika gravitasi itu ada, mengapa kupu-kupu bisa terbang? Jika gravitasi betul-betul ada, mengapa Bulan tidak ditarik dan jatuh ke Bumi? Dan berbagai pertanyaan konyol lainnya, yg seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi jika mereka mau belajar ilmu pengetahuan alam ke sumber-sumber ilmu yg benar.

solar_system_gravity

Menurut model baku (standard model) dalam sains modern, ada empat gaya dasar yg berlaku di alam semesta. Jika diurutkan mulai dari yg terkuat hingga yg terlemah, empat gaya dasar tersebut adalah:

1. Gaya nuklir kuat,
2. Gaya elektromagnetik,
3. Gaya nuklir lemah, dan
4. Gaya gravitasi.

Gaya nuklir kuat adalah gaya yg paling kuat tapi hanya bekerja pada jarak yg sangat dekat, kurang dari 10 femtometer. Gaya inilah yg membentuk ikatan inti atom; proton dan neutron. Gaya yg lebih lemah dari itu adalah gaya elektromagnetik, tapi bisa bekerja hingga jarak sangat jauh, mendekati tak-terhingga. Karena sifatnya yg kuat dan bekerja hingga jarak jauh, gaya elektromagnetik adalah gaya yg paling mudah diamati di alam. Gaya yg lebih lemah selanjutnya adalah gaya nuklir lemah. Seperti gaya nuklir kuat, gaya ini hanya bekerja pada jarak yg sangat dekat, yaitu kurang dari 10 attometter. Gaya ini yg bertanggung jawab pada proses peluruhan beta (beta decay) yg berguna dalam teknik penentuan umur benda berdasarkan peluruhan unsur karbonnya (carbon dating).

Nah, gaya yg terlemah dari keempat gaya dasar tersebut adalah gravitasi. Sebagai perbandingan, jika dimisalkan kekuatan gaya gravitasi sama dengan 1, maka kekuatan gaya nuklir lemah adalah sekitar 10 trilyun trilyun kali lebih kuat dari gravitasi. Kekuatan gaya elektromagnetik adalah sekitar seribu milyar trilyun trilyun kali lebih kuat dari gravitasi. Kekuatan gaya nuklir kuat adalah sekitar seratus ribu milyar trilyun trilyun kali lebih kuat dari dari gravitasi. Berapa banyak nolnya itu? Karena gaya gravitasi berasal dari massa benda, maka diperlukan massa yg amat sangat besar agar gaya gravitasi bisa terasa kekuatannya. Walaupun gayanya sangat lemah jika dibandingkan dengan gaya alam yg lain, gravitasi mampu bekerja hingga jarak yg sangat jauh, mendekati tak-terhingga; mirip dengan gaya elektromagnetik. Maka wajar jika orang yg tidak paham sains sering menyamakan gaya gravitasi dengan gaya elektromagnetik. Dan karena lemahnya gaya gravitasi, pengukurannya pun jadi cukup sulit. Butuh alat yg sensitif serta peneliti yg ahli untuk bisa mengukur besaran gravitasi. Maka bisa dimaklumi jika sebagian orang –karena tidak paham– menganggap gravitasi itu tidak ada.

Begitu lemahnya gaya gravitasi, kepakan sayap seekor kupu-kupu kecil sudah cukup kuat untuk melawan gravitasi Bumi. Kita pun bisa melawan gaya gravitasi Bumi dengan mudah. Misalnya dengan kaki kita melompat ke atas, maka kita sudah bisa melawan gravitasi. Lalu, mengapa setelah melompat kita jatuh lagi? Karena kita tidak bisa menerapkan gaya perlawanan itu secara terus menerus. Ketika perlawanan dari gaya dorong kaki itu “habis”, maka gaya gravitasi kembali menarik kita ke pusat Bumi. Bisa melawan gravitasi bukan berarti bisa lepas dari gravitasi. Sekadar melawan memang mudah, hanya butuh energi yg relatif kecil. Tetapi lepas dari gaya gravitasi, butuh energi yg sangat besar. Efek gaya gravitasi adalah adanya percepatan menuju pusat massa, yg mana untuk Bumi besarnya adalah 9,8 m/detik². Maka, agar sebuah benda bisa lepas dari gaya gravitasi Bumi, diperlukan kekuatan yg lebih besar dari gaya gravitasi Bumi dan bekerja secara terus-menerus. Dari permukaan Bumi, dibutuhkan kecepatan minimum sekitar 11.200 meter/detik atau 40.300 km/jam agar bisa lepas dari tarikan gaya gravitasi Bumi.

Seluruh benda di alam semesta yg memiliki massa, juga memiliki gaya gravitasi. Sebutir debu pun. Hasil penelitian dan pengamatan para ilmuwan menunjukkan bahwa besar gravitasi itu berbanding lurus dengan besar massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak terhadap benda lain, maka massa yg kecil dan jarak yg jauh akan mengurangi besaran gaya gravitasi yg dihasilkan. Sebaliknya, massa yg besar atau jarak yg dekat akan menambah besaran gaya gravitasi yg dihasilkan. Karena itu, sangat sulit sekali mengukur besar gravitasi sebuah benda kecil di permukaan sebuah benda yg memiliki gaya gravitasi sangat jauh lebih besar, misalnya mengukur gravitasi sebuah kelereng di atas permukaan Bumi. Diperlukan teknik pengamatan yg amat sangat teliti serta orang yg sangat ahli untuk bisa mengukur besaran gravitasi yg sangat kecil tersebut. Teknik pengukuran gravitasi di permukaan Bumi diciptakan oleh ilmuwan Henry Cavendish yg melengkapi kekosongan sebuah bilangan dalam rumus gravitasi Isaac Newton.

Karena mengukur besar gravitasi benda di permukaan Bumi sangat sulit, ilmuwan pun melakukan pengamatan pada benda-benda yg lebih besar, yaitu benda-benda langit. Langit pun menjadi laboratorium para ilmuwan fisika dan astronomi. Target pengamatan awal tentu saja benda-benda langit di tata surya kita sendiri, mulai dari Matahari hingga planet besar dan planet kerdil terjauh. Gaya gravitasi sangat terkait dengan massa dan kecepatan geraknya. Dengan mengamati pergerakan sebuah benda langit secara teliti dan dalam kurun waktu yg lama, ilmuwan bisa mengukur jarak, lintasan, dan kecepatan gerak benda langit tersebut. Jika jarak dan kecepatan bisa diukur dengan cukup akurat, maka massa benda pun bisa dihitung dengan cukup akurat pula. Dari pengamatan itulah para ilmuwan bisa menghitung massa benda-benda langit. Ilmuwan jaman dahulu telah mampu melakukan itu semua dan hasil penelitian mereka secara konsisten membuktikan gravitasi itu ada.

Para ilmuwan pernah berhasil mendeteksi keberadaan planet “baru”, murni hanya berdasarkan perhitungan matematis gravitasi. Perkiraan adanya planet baru itu berdasarkan adanya “gangguan” pada orbit Uranus. Hasil pengamatan selanjutnya membuktikan perhitungan matematis itu benar dan ada planet “baru” yg kemudian diberi nama Neptunus. Kecuali satu masalah, yaitu planet Merkurius, yg tidak sesuai antara pengamatan dan perhitungan rumus gravitasi ala Newton. Hal ini menjadi teka-teki bagi ilmuwan di masa itu sehingga muncul berbagai hipotesis, salah satunya adalah ada planet lain yg mengganggu gerakannya. Planet hipotesis itu dinamai Vulcan, yg tidak kunjung terbukti keberadaannya. Namun sains terus berkembang dari generasi ke generasi. Sekitar 250 tahun setelah Isaac Newton, hadirlah Albert Einstein yg memberikan penjelasan dan rumus gravitasi baru yg lebih baik dan akurat daripada gravitasi ala Newton, yg disebut dengan teori relativitas umum (general relativity). Teka-teki dan misteri planet Merkurius terpecahkan oleh rumusan gravitasi ala Einstein. Hipotesis adanya planet Vulcan pun gugur.

Tentu saja ada faktor pembulatan dalam perhitungan matematis, yg oleh sebagian orang yg tidak paham sains dianggap sebagai “perkiraan” atau “asumsi”. Anggapan demikian jelas salah karena jangankan dalam pengukuran matematis, dalam pengukuran dengan alat nyata seperti penggaris pun sebenarnya juga ada faktor pembulatan. 1 cm garis lurus yg kita buat dengan penggaris, belum tentu betul-betul 100% dijamin akurat 1 cm. Pembulatan dalam pengukuran adalah suatu keniscayaan yg tidak bisa dihindari. Namun, galat pembulatan yg amat sangat kecil serta tidak memberi dampak yg cukup signifikan, tidak membuat hasil pengukuran itu salah dan harus ditolak. Misalnya, kesalahan 1 meter pada pengukuran dengan orde jarak dalam satuan juta kilometer tentu sangat bisa ditoleransi. Jika kita paham makna “asumsi” maka galat pembulatan pun juga bukan “asumsi”.

Jadi, anggapan kaum bumi datar bahwa jika gravitasi ada maka seluruh benda harus menempel ke Bumi adalah anggapan yg konyol. Yg berkata begitu sejatinya sedang menunjukkan dirinya tidak paham gravitasi. Makanya, tanpa bosan saya selalu sampaikan… jika kita tidak paham ilmu maka belajarlah yg baik dan tekun pada sumber-sumber ilmu yg benar. Janganlah kita yg tidak paham lalu ilmunya yg disalahkan. Sikap seperti itu adalah sikap orang bodoh yg sombong. Itu yg biasanya ditunjukkan oleh kaum bumi datar. Makanya mereka jadi mati gaya.

Salam akal sehat! 😊 

_____
* Judul sengaja dibuat agak sensasional dan sedikit menyesatkan (misleading) untuk menarik minat pembaca. Sekalian April Mop! 😄

– Gambar diambil dari sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s