Apakah Riset Ilmiah Itu?

Kaum bumi datar sering mengatakan bahwa mereka sudah melakukan riset ilmiah bentuk Bumi. Lalu dengan sombongnya mereka menyatakan bahwa yg benar Bumi itu datar dan Bumi bulat itu salah. Mereka pikir mereka lebih pintar dari ilmuwan sedunia yg telah membuktikan secara ilmiah bahwa Bumi itu bulat. Sungguh kaum yg jenius. Mungkin IQ mereka 500, jika dijumlahkan semua kaum bumi datar.

Salah satu sifat dasar manusia adalah rasa ingin tahu. Dari situlah muncul keinginan untuk mencari, bertanya, berpikir, mengkaji, dan melakukan percobaan (eksperimen). Untuk memenuhi rasa ingin tahunya, manusia mengamati, mengukur, bahkan mengutak-atik benda atau makhluk atau peristiwa di alam. Dari upaya tersebut diharapkan manusia bisa memahami cara kerja alam (nature) untuk tujuan kebaikan hidup manusia. Proses dari ingin tahu, bertanya, mengamati atau mengukur atau mengutak-atik, berpikir (analisis), hingga diperoleh jawaban atau kesimpulan inilah yg kemudian disebut penelitian atau riset. Penelitian adalah salah satu cara manusia dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Secara formal, penelitian didefinisikan sebagai upaya penyelidikan (pengamatan, pengukuran, perhitungan, dsb) secara sistematis dengan metode tertentu terhadap benda atau makhluk atau peristiwa di alam untuk menghasilkan pengetahuan baru atau yg lebih baik.

Setiap orang, siapa pun, boleh melakukan penelitian. Sejak di sekolah, kita juga sudah diajarkan berbagai macam penelitian. Tapi tidak semua penelitian bisa disebut sebagai penelitian ilmiah. Bahkan ilmuwan yg sering melakukan penelitian pun tidak semua penelitiannya bisa disebut penelitian ilmiah. Ada syarat-syarat yg harus dipenuhi agar sebuah penelitian layak disebut sebagai penelitian ilmiah. Jika kita menempuh pendidikan S1 atau sarjana, akan diajarkan mata kuliah bernama Metode Penelitian (Research Methodology) yg menjelaskan penelitian ilmiah secara rinci. Saya tidak mungkin menjelaskan materi kuliah dalam satu tulisan saja, maka saya akan jelaskan hal-hal yg penting yg harus dilakukan atau tersedia dalam sebuah penelitian sehingga penelitian itu layak disebut sebagai penelitian ilmiah.

science_comics_de_heer.jpg
Ilustrasi metode ilmiah dari buku Science: A Discovery in Comics.

Metode Penelitian Ilmiah

Seperti yg sudah pernah saya singgung di tulisan “Ah, Itu kan Hanya Teori Saja!”, metode penelitian secara garis besar terdiri dari:

  1. Ajukan pertanyaan yg menunjukkan masalah yg akan diteliti dan dicari jawabannya dengan penelitian. Hindari pertanyaan yg terlalu luas lingkupnya karena penelitian akan terlalu rumit atau sulit, pertimbangkan sumber daya juga. Contoh, bagaimana bentuk Bumi? Usahakan pertanyaan yg spesifik terhadap benda atau peristiwa apa yg akan diamati. Contoh, apakah ukuran tampak Matahari tetap sama sejak terbit hingga tenggelam? Secara kolektif, pertanyaan-pertanyaan yg spesifik bisa digunakan untuk penyusunan teori ilmiah yg lebih terpadu.
  1. Kumpulkan informasi terkait masalah yg akan diteliti, terutama studi pustaka terhadap penelitian ilmiah dan teori-teori ilmiah yg telah ada dan terkait dengan permasalahan. Termasuk informasi dan ilmu seputar teknis penelitian seperti cara pengamatan, pengukuran, perhitungan; jenis alat ukur atau alat pengamat dan kalibrasinya; metode perhitungan atau rumus yg selama ini digunakan (jika ada); dan lain sebagainya. Semua itu sebagai bekal dalam perencanaan penelitian sehingga penelitian bisa dilakukan dengan baik, benar, dan aman.
  1. Bangun hipotesis atau dugaan jawaban yg akan muncul dari penelitian. Hipotesis harus dibangun berdasarkan ilmu yg telah ada dan terbukti benar, atau perhitungan dari model matematis, atau konsekuensi logis yg seharusnya muncul, bukan perkiraan tanpa dasar sama sekali. Jika dugaan jawaban dibangun tanpa landasan ilmu atau fakta apa pun, maka itu disebut asumsi. Hipotesis (atau asumsi) ini harus terbukti salah atau benar di akhir penelitian.
  1. Lakukan percobaan sesuai metode yg direncanakan. Metode percobaan harus memenuhi sifat-sifat berikut: 
    • Obyektif, yaitu percobaan bisa dilakukan orang lain sehingga penelitian terhindar dari bias sifat atau kepentingan peneliti. Syarat ini juga untuk memenuhi prinsip penelitian yg repeatable (bisa diulang) dan testable (bisa diuji) oleh siapa pun.
    • Empiris, yaitu percobaan dilakukan terhadap fakta atau kenyataan yg akan diteliti, baik dari alam sebenarnya maupun dari pemodelan (jika dilakukan secara tidak langsung). Syarat ini untuk menghilangkan pengaruh, pengalaman, sikap, atau pendapat subyektif dari peneliti.
    • Tepat dan teliti, yaitu percobaan harus bisa mengambil data dengan tingkat ketepatan (accuracy) dan ketelitian (precision) yg memadai. Syarat ini untuk mendapatkan data yg sah (valid) dan bisa diandalkan (reliable) untuk proses analisis selanjutnya.
  1. Rekam data yg diperoleh selama percobaan secara utuh dan lengkap. Data hasil percobaan harus disajikan secara jujur dan apa adanya. Kejujuran adalah salah satu prinsip dalam sains yg dipegang teguh oleh seluruh ilmuwan di dunia. Penyembunyian atau penghilangan sebagian data percobaan dianggap sebagai kecurangan yg berakibat pada penolakan terhadap penelitian yg dilakukan. Ilmuwan yg melakukan kecurangan bisa dikenai sanksi, baik secara moral, administratif, maupun hukum.
  1. Ambil kesimpulan dengan analisis terhadap data yg diperoleh dari percobaan. Analisis data membutuhkan ilmu pengolahan data dan statistik. Pengambilan kesimpulan harus memenuhi prinsip-prinsip penalaran yg benar (metode induktif atau deduktif) dengan dukungan dari hasil percobaan. Kesimpulan juga harus bisa memberi konfirmasi apakah hipotesis (atau asumsi) yg diberikan sebelumnya adalah sah (valid) dan benar (correct).
  1. Terbitkan laporan tertulis kepada pihak-pihak yg berkepentingan (stakeholder). Laporan harus menyertakan seluruh bagian dalam proses penelitian, mulai dari masalah, sumber informasi, hipotesis yg diajukan, metode percobaan, instrumen penelitian, data yg diperoleh, hingga kesimpulan akhir. Laporan penelitian tidak cukup hanya dibuat tapi juga harus diterbitkan (published). Jika penelitian bersifat tertutup maka diterbitkan secara terbatas. Jika penelitian bersifat terbuka maka diterbitkan ke publik melalui berbagai penerbitan jurnal ilmiah.

Sebuah penelitian ilmiah harus memenuhi seluruh syarat metode penelitian di atas. Sebuah penelitian yg tidak memenuhi metode penelitian dan melanggar prinsip-prinsip ilmiah, tidak layak disebut sebagai penelitian ilmiah. Ini semua diajarkan di jenjang pendidikan tinggi (sarjana, magister, doktor). Itu sebabnya di akhir setiap pendidikan tinggi ada kewajiban membuat penelitian dan laporan ilmiah tertulis (skripsi, tesis, disertasi) walaupun diterbitkan secara terbatas (hanya di kampus yg bersangkutan).

Setelah laporan ilmiah terbit, proses selanjutnya adalah kajian sejawat (peer-review). Ilmuwan-ilmuwan lain akan mengulang atau menguji penelitian yg telah terbit untuk memastikan (confirm) penelitian tersebut absah dan hipotesisnya benar. Semakin banyak ilmuwan yg menerima hipotesis dan semakin banyak penelitian lain yg mendukung hipotesis peneliti yg bersangkutan, hipotesis tersebut akan diterima menjadi teori ilmiah. Jika teori ilmiah mampu bertahan dalam waktu lama, tidak ada hipotesis lain yg menggugurkan atau memberikan jawaban yg lebih baik, maka teori ilmiah tersebut akan diterima sebagai ilmu pengetahuan. Demikian gambaran umum rangkaian proses sebuah hipotesis (gagasan ilmiah) menjadi sebuah ilmu.

Kembali lagi ke klaim kaum bumi datar yg katanya sudah melakukan riset dan membuktikan Bumi itu datar. Apa yg mereka tunjukkan sebagai “penelitian” ternyata tak-lebih dari gambar, foto, atau potongan video yg tidak jelas siapa yg membuat, kapan dibuat, bagaimana dibuat, tidak ada teknik pengamatan, tidak ada data-data pengukuran, tidak ada analisis, dan sebagainya. Dan tentu saja, tidak ada laporan ilmiah tertulis. Hal yg seperti itu jelas tidak layak disebut riset, apalagi riset ilmiah. Lalu ujug-ujug mereka menyimpulkan Bumi itu datar berdasarkan “bukti penelitian” tersebut. Sungguh sebuah lompatan berpikir yg menakjubkan!

Ya, begitulah jika orang tidak paham ilmu tapi berlagak pintar. Merasa diri benar padahal justru pamer kebodohan. Itulah kelakuan kaum bumi datar. Semoga kita semua terhindar dari “virus kebodohan” yg merusak ilmu dan pendidikan bernama “faham bumi datar”.

Salam akal sehat! 😊

Iklan

Satu pemikiran pada “Apakah Riset Ilmiah Itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s