Kecerdasan Buatan dan Kaum Bumi Datar

Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligent) dalam satu dekade terakhir ini berkembang sangat pesat melebihi perkembangannya dalam dua-tiga dekade sebelumnya. Teknologi kecerdasan buatan saat ini sudah keluar dari zona penelitian dan mulai digunakan manusia secara umum sebagai bagian dari peradaban modern yg serba digital dan berbasis komputer. Contoh nyata penerapan teknologi kecerdasan buatan yg telah bisa kita nikmati sehari-hari misalnya mesin layanan obrolan (chatbot), layanan asisten pintar di ponsel (smart digital assistant) seperti Google Now, Siri (Apple), Cortana (Microsoft), dan sebagainya. Penerapan teknologi kecerdasan buatan mulai merambah berbagai bidang industri, mulai dari layanan keuangan, kesehatan, jasa, perdagangan, otomotif, militer, dan –tentu saja– sains itu sendiri.

Sebagai sebuah ilmu, kecerdasan buatan bukan hal yg baru di dunia ilmiah. Penelitian seputar kecerdasan buatan sudah dirintis sejak manusia mampu menciptakan komputer pada tahun 1960-an. Banyak perguruan tinggi di berbagai negara telah melakukan penelitian seputar kecerdasan buatan dengan beragam teknik dan metode. Seiring semakin maju dan canggih ilmu kecerdasan buatan, para ilmuwan mulai bertanya-tanya… apakah kecerdasan buatan mampu memahami semesta secara ilmiah? Mampukah mesin mengamati alam, mengolah data, melakukan analisis, lalu membuat kesimpulan? Mampukah mesin membangun hipotesis atau bahkan menyusun model matematis (rumus) sendiri? Akankah mesin mampu memahami semesta lebih baik dari manusia? Hal ini sangat menarik karena jika komputer mampu melakukan itu semua maka dampaknya pada sains dan ilmuwan akan sangat besar, baik secara positif maupun negatif.

AI_in_science_2.jpg

Baru-baru ini, sekumpulan ilmuwan dari universitas sains dan teknologi, ETH Zurich, di Swiss menerbitkan jurnal ilmiah tentang penelitian mereka pada upaya penemuan konsep-konsep fisika dengan memanfaatkan kecerdasan buatan menggunakan sistem jaringan syaraf (neural network) bernama SciNet. Tim ilmuwan tersebut mengambil data-data hasil pengamatan dari berbagai penelitian ilmiah tentang fenomena alam tertentu lalu mengumpankannya pada SciNet. SciNet lalu mempelajari data-data yg diberikan untuk kemudian membuat prakiraan (prediksi) apa yg selanjutnya akan terjadi pada fenomena alam tersebut.

Tim ilmuwan memulai dari eksperimen sederhana seperti gerakan bandul berayun. SciNet bisa memprediksi dengan tepat bandul akan berayun dengan kecepatan tertentu. Hal itu hanya mungkin jika SciNet mampu memahami konsep-konsep dasar gaya dan gerak, termasuk adanya gaya gravitasi, dari kumpulan data. Ketika diberikan data tumbukan dua buah bola, SciNet bisa memprediksi dengan tepat berapa momentum sudut tiap bola setelah terjadi tumbukan. Hal itu hanya mungkin jika SciNet mampu memahami hukum kekekalan momentum dari kumpulan data.

Setelah SciNet sukses memahami konsep-konsep fisika dari fenomena-fenomena sederhana, tim ilmuwan mulai memberikan data-data dari fenomena alam yg lebih rumit. Pada akhirnya, tim ilmuwan memberikan data-data pengamatan antariksa, yaitu data-data tata surya meliputi Matahari, bulan, dan planet-planet. SciNet ternyata juga mampu memahami gerakan benda-benda langit dan sistem tata surya. Penelitian ini menunjukkan SciNet mampu mengenali beberapa fakta, antara lain:

  • Bumi mengorbit Matahari.
  • Planet-planet mengorbit Matahari.
  • Pergerakan planet-planet di tata surya.

SciNet juga mampu memberikan informasi posisi planet di langit malam Bumi dengan tepat berdasarkan lokasi pengamat. Semua itu menunjukkan bahwa mesin SciNet mengerti bahwa sistem tata surya kita adalah heliosentris dan, tentu saja, Bumi itu bulat.

Penelitian tim ilmuwan dari Swiss ini merupakan sebuah terobosan besar di dunia ilmiah. SciNet membuktikan bahwa mesin dengan kecerdasan buatan mampu terlibat dalam proses analisis data dan pengambilan kesimpulan secara mandiri. SciNet mampu menyimpulkan bahwa sistem tata surya kita adalah heliosentris hanya dalam beberapa jam saja. Sementara manusia butuh ratusan tahun untuk sampai pada kesimpulan yg sama, dengan korban jiwa pula. Dengan kemajuan ini, bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu ke depan teknologi kecerdasan buatan akan terlibat dalam proses kajian sejawat (peer review) atau bahkan dalam penyusunan teori ilmiah itu sendiri. Dengan kata lain, mesin menjadi ilmuwan.

Kelak, manusia akan belajar ilmu pada mesin. Setelah saya menyadari ini, saya teringat kaum bumi datar. Bagaimana mungkin di abad 21 ini, jaman modern di mana sains dan teknologi telah begitu canggih, masih ada manusia yg tidak mampu memahami ilmu alam (sains)? Komputer, yg notabene merupakan benda mati yg tidak punya akal, mampu memahami alam semesta secara mandiri hanya berdasarkan data-data mentah (raw data) dari hasil pengamatan para ilmuwan. Sementara kaum bumi datar yg tinggal mempelajari ilmu yg sudah matang saja tidak mampu.

Hal ini jadi bukti bahwa kaum bumi datar tidak lebih dari kumpulan orang-orang bodoh yg malas belajar, tapi berlagak sok pintar menyalahkan ilmuwan. Jika kita merasa bodoh maka seharusnya kita belajar ilmu yg benar pada orang yg ahli. Bukan malah sok pintar dan menyalahkan ilmu. Semoga mereka segera sadar dan kembali ke jalan ilmu yg benar.

Salam akal sehat! 😊

_____
– Gambar diambil dari sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s