Tuhan dan Bencana Alam

Baru-baru ini saudara-saudara kita di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah diguncang gempa bumi yg cukup keras, tak hanya sekali tapi hingga berkali-kali (gempa susulan). Yg di Sulawesi Tengah malah diikuti dengan gelombang tsunami yg cukup besar yg menghantam daerah-daerah di tepi pantai. Tak cukup itu, di darat pun banyak tanah yg ambles (runtuh) serta pencairan tanah (soil liquefaction). Rentetan gejolak alam sedahsyat itu tentu saja mengakibatkan banyak korban jiwa, kerusakan infrastruktur, kemacetan ekonomi, serta trauma sosial.

mesjid.reuters.com
Mesjid runtuh diterjang tsunami di Palu.
sumber: reuters.com

Lazimnya manusia yg memiliki akal yg sehat dan nurani yg baik, banyak orang di luar daerah bencana yg bersedih dan turut berduka atas kesusahan yg menimpa saudara-saudara kita di sana lalu mendoakan keselamatan bagi seluruh orang di daerah bencana. Kemudian dengan segera setiap orang berusaha memberikan bantuan yg bisa dilakukan. Ada yg langsung berangkat membantu masyarakat di lokasi bencana, ada yg menggalang dana dan bantuan, ada yg mengirimkan bantuan, dan sebagainya. Tidak hanya dari dalam negeri, simpati dan bantuan pun mengalir dari pemerintah dan masyarakat luar negeri.

Namun, di tengah bencana dan kesusahan itu, masih ada saja orang-orang yg seolah tidak punya otak dan hati. Ada sekumpulan orang yg mengatakan bahwa gempa bumi (dan bencana alam lainnya) adalah hukuman (azab) bagi orang-orang di daerah bencana sebagai balasan akibat mereka mengabaikan atau menentang perintah Tuhan. Lalu dengan congkaknya sekumpulan orang itu menyuruh para korban bencana untuk segera bertaubat pada Tuhan. Kumpulan orang ini telah menghakimi orang yg sedang kesusahan dengan mencatut nama Tuhan, seolah mereka adalah wakil Tuhan yg serba tahu segala kehendak Tuhan.

mesjid.lombok.kompas.com
Mesjid ambruk diguncang gempa di Lombok.
sumber: kompas.com

Kemudian ada lagi sekumpulan orang yg mengatakan bahwa gempa bumi (dan bencana alam lainnya) adalah wujud kemarahan Tuhan karena ada pihak (dalam kasus ini yg dituding adalah negara) yg telah berbuat jahat pada tokoh agama tertentu. Lalu secara sepihak sekumpulan orang itu meminta pihak tertuduh untuk menghentikan perbuatan jahatnya serta meminta maaf pada tokoh agama yg dimaksud, agar kemarahan Tuhan segera berhenti (berikut bencana alam yg ditimbulkannya). Kumpulan orang ini telah menghakimi pihak tertentu yg tidak terkait dengan mencatut nama Tuhan, seolah mereka adalah asisten pribadi Tuhan yg serba tahu gejolak perasaan Tuhan.

Kedua kumpulan orang di atas adalah orang-orang sombong yg merasa mereka adalah orang yg paling ‘alim, paling sholeh, paling suci, paling benar, serta paling dekat dengan Tuhan. Mereka merasa paling tahu segala kehendak bahkan perasaan Tuhan. Mereka mengangkat diri mereka sendiri sebagai juru bicara Tuhan. Tentu saja, semua itu bohong belaka. Jaman sekarang sudah tidak ada nabi. Tidak ada orang yg bisa menerima wahyu Tuhan, yg bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan, yg mengerti kehendak Tuhan sebenarnya. Semua orang, siapa saja termasuk yg ahli agama sekali pun, tidak akan tahu apa sejatinya kehendak Tuhan, apalagi perasaaan-Nya. Mereka yg merasa berhak menjadi juru bicara Tuhan justru sebenarnya sedang merendahkan Tuhan.

kapal.travelingyuk.com
Sebuah kapal masuk ke daratan dibawa tsunami di Palu.
sumber: travelingyuk.com

Bumi dan alam semesta itu tidak pernah diam. Bumi dan alam semesta itu dinamis dan selalu bergerak berdasarkan hukum-hukum alam yg tetap dan universal. Dan semua pergerakan itu sudah terjadi jauh sebelum manusia hadir di muka Bumi. Gempa, tsunami, pencairan tanah, badai, suhu ekstrim, gunung meletus, dan sebagainya adalah fenomena alam biasa yg sewajarnya terjadi di sebuah planet seperti Bumi. Manusia kemudian menyebutnya ‘bencana’ karena fenomena alam tersebut merugikan kehidupan manusia. Manusia tidak menyebut fenomena alam yg sama di planet lain sebagai ‘bencana’ karena tidak/belum ada manusia yg tinggal di planet lain. Jika terjadi gempa di planet lain yg tidak ada manusia, lalu siapa yg sedang dihukum oleh Tuhan? Mungkinkah batu-batuan tak bernyawa itu penuh dosa?

Bisa jadi Tuhan memang sedang marah. Bisa jadi Tuhan memang menghukum. Bisa jadi Tuhan sedang menguji manusia. Bisa jadi itu bencana, bisa jadi itu anugerah. Ada tak terbatas kemungkinan motivasi Tuhan menghendaki terjadinya fenomena alam tertentu. Namun tidak ada satu pun manusia jaman sekarang yg bisa mengetahui apa kehendak Tuhan yg sebenarnya. Maka dari itu, daripada bersikap sok tahu dan berbohong, sebaiknya biarlah itu menjadi urusan Tuhan saja. Kita yg masih merasa manusia ini tidak perlu ikut menjadi Tuhan. Kualat nanti! Manusia ya berlakulah sebagai manusia yg seharusnya, yaitu manusia yg berbadan sehat, berotak cerdas, dan berhati baik, serta jadilah hamba Tuhan yg taat. Jika kita yg tertimpa musibah, hadapilah dengan sabar dan lakukan evaluasi diri karena bisa jadi musibah itu karena kesalahan atau kelalaian kita sendiri. Jika orang lain yg tertimba musibah maka kita sebagai manusia wajib membantunya, bukan malah menyalahkan dan menghakiminya.

haarp.theverge.com
Fasilitas penelitian HAARP di Alaska.
sumber: theverge.com

Lalu ada lagi sekumpulan orang yg mengatakan bahwa gempa dan fenomena alam tertentu tidak lagi alami, bukan perbuatan Tuhan, melainkan hasil perbuatan manusia. Mereka menuduh ada sekelompok manusia cerdas tapi jahat yg ingin merugikan dan menyakiti manusia lain menggunakan teknologi canggih. Teknologi canggih ini konon katanya mampu mengendalikan gerakan Bumi, bahkan mengendalikan pikiran manusia. Dikatakan pula, kelompok manusia cerdas tapi jahat itu adalah bagian dari elit global yg konon katanya telah menguasai seluruh sumber daya di Bumi. Sungguh menakjubkan, bukan? Siapakah yg berkata demikian? Ya, dugaan anda benar… kumpulan orang tersebut kita kenal sebagai kaum bumi datar.

Rasanya saya tidak perlu lagi menjelaskan panjang lebar tentang siapa dan bagaimana kaum bumi datar itu. Atau mungkin singkat saja ya… Kaum bumi datar adalah pembuat dan penyebar hoax, kebohongan, dan kebodohan bertujuan untuk merusak pengetahuan dan pendidikan di masyarakat serta menjauhkan manusia dari ilmu dan Tuhan. Jadi, tidak ada satu pun informasi apalagi ilmu terkait sains dari mereka yg layak kita percaya.

Salam akal sehat! 😊

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s