Emas Bukan Uang Terbaik

Kaum bumi datar mengatakan sistem mata uang yg saat ini digunakan oleh seluruh negara di dunia adalah sistem yg jahat atau zalim. Sistem yg dimaksud adalah fiat money yaitu mata uang yg tak dicadang dengan emas bernilai setara. Kaum bumi datar mengajak semua orang kembali ke sistem yg menurut mereka baik dan adil, yaitu representative money yaitu mata uang yg dicadang dengan emas bernilai setara. Lebih khusus, kaum bumi datar muslim mengajak muslim beralih ke sistem commodity money dengan uang dinar (koin emas) dan dirham (koin perak) yg katanya adalah ajaran Islam.

Namun, benarkah tuduhan kaum bumi datar bahwa sistem fiat money (FM) adalah sistem yg jahat dan lebih buruk dari sistem representative money (RM) dan commodity money (CM)? Benarkah inflasi sebagai akibat dari sistem fiat money adalah mutlak buruk? Dengan asumsi seluruh negara di dunia menerapkan sistem representative money, mari kita kaji bersama.

Dewan Emas Dunia (World Gold Council) memperkirakan jumlah emas di dunia yg pernah ditambang sejak manusia mengenal emas adalah sekitar 190.000 ton. Dewan Emas Dunia juga memperkirakan jumlah emas yg belum ditambang manusia adalah sekitar 54.000 ton. Maka jumlah emas yg tersedia di dunia maksimal sebanyak 244.000 ton. Beberapa institusi lain memperkirakan jumlah yg kurang lebih sama. Dengan sedikit optimistik, kita anggap maksimal ada 250.000 ton emas di dunia, setelah seluruh emas habis ditambang. Setelah itu maka praktis tak ada lagi emas yg tersisa di Bumi.

money_gold.jpeg

Dengan sistem RM, total jumlah uang yg beredar di dunia tidak bisa melebihi jumlah emas tersebut sebab sudah tidak ada lagi emas yg tersedia sebagai pencadang. Jika dinilai dengan mata uang rupiah, dengan harga emas saat tulisan ini dibuat adalah sekitar 700.000 rupiah per gram, maka nilainya sebesar 175⋅10¹⁵ atau 175.000 trilyun rupiah. Jika seluruh uang ini dibagikan secara merata ke seluruh manusia di dunia, dengan jumlah manusia saat tulisan ini dibuat adalah sekitar 7 milyar orang, maka setiap orang mendapat “jatah” kekayaan sebesar 25 juta rupiah untuk digunakan seumur hidup. 

Masalahnya, emas tidak bisa bertambah lagi, sementara manusia terus bertambah. Keduanya tidak bisa dilawan atau dicegah karena sudah hukum alam. Kecuali ada pemimpin yg cukup sadis untuk melakukan genosida pada rakyatnya sendiri. Konsekuesinya, semakin banyak jumlah manusia, semakin meningkat perputaran ekonomi, semakin besar pula nilai ekonomi yg dihasilkan manusia. Pada akhirnya akan tercapai suatu kondisi di mana jumlah uang yg beredar (atau emas yg dicadangkan) tidak cukup lagi memenuhi kebutuhan manusia dan nilai ekonomi yg dihasilkan manusia.

Saat itu terjadi, semua orang akan menahan uang dan emas yg mereka miliki daripada menggunakannya untuk berbelanja atau berbisnis. Uang jadi lebih berharga daripada produk dan jasa. Inilah yg disebut deflasi. Orang punya uang tapi tidak mau melepas uangnya. Jika deflasi tidak segera diatasi akan berakibat resesi atau krisis ekonomi. Pabrik-pabrik tutup, bisnis gulung tikar, petani tidak menanam, nelayan tidak melaut, pengangguran di mana-mana. Rakyat mulai resah karena hidup susah. Rakyat pun mulai protes ke pemerintah karena tekanan ekonomi. Bahkan orang-orang yg menyarankan sistem RM pun pasti akan protes juga. Kondisi negara makin runyam.

Di skala internasional, kondisinya juga tidak lebih baik. Setiap negara di dunia tidak bisa mencetak uang baru untuk memancing perputaran roda ekonomi. Melakukan transaksi emas dengan negara lain tidak mungkin dilakukan sebab negara lain juga sedang menghadapi masalah yg sama. Jika ada negara yg nekat, yg terjadi adalah invasi militer alias perang untuk merebut emas dan membunuh rakyat negara lain. Kekacauan terjadi di mana-mana di seluruh dunia. Apa ada pemimpin negara yg membiarkan kondisi itu betul-betul terwujud? Apa ada orang waras yg ingin semua itu terjadi?

Itulah sebabnya sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 banyak pemimpin negara yg mengambil kebijakan sistem FM. Bank negara tidak lagi diwajibkan punya cadangan emas sesuai jumlah uang yg dimilikinya. Nilai uang yg beredar di masyarakat dijamin dan diatur oleh negara atau pemerintah yg dipilih dan dipercaya oleh masyarakat (demokrasi). Sistem RM maupun CM sudah tidak cocok lagi digunakan di jaman sekarang. Keduanya hanya cocok digunakan di jaman dahulu kala, saat populasi manusia masih sedikit, tambang emas masih berlimpah, dan nilai perputaran ekonomi masih rendah.

Dengan menerapkan sistem FM, negara bisa lebih leluasa mengatur jumlah uang sesuai dengan kondisi ekonomi negara tersebut. Karena sudah tidak bergantung pada cadangan emas, negara bisa mencetak uang sesuai tingkat produktivitas ekonomi yg terjadi (berdasarkan hukum supply and demand). Roda ekonomi dunia terus berputar tanpa harus tergantung pada emas. Semua negara bisa makmur, rakyat sejahtera, dan roda ekonomi berputar dengan sehat. Dunia pun tetap damai dan bisa maju berkembang dalam segala bidang, seperti yg kita nikmati bersama di abad ke-21 ini.

Tentu tidak ada sistem yg 100% baik dan 0% buruk. Masing-masing sistem pasti punya kelebihan dan kekurangan. Namun dengan memperhatikan kondisi jaman, sistem FM bukan lagi pilihan tetapi sudah jadi kebutuhan dan konsekuensi logis dari kondisi jaman sekarang. Jadi, setelah kita kaji resiko buruk dari sistem RM (secara tidak langsung juga CM), masihkah anda berpikir bahwa FM itu mutlak buruk dan RM/CM itu mutlak baik? 

Salam akal sehat! 😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s