Menghadapi Kaum Bumi Datar Secara Beradab

Dalam beberapa debat terakhir, ada beberapa orang dari kaum bumi datar yg protes pada saya (dan kawan-kawan pencinta sains lainnya) karena gaya kami yg dianggap terlalu keras dalam merisak (bully) mereka. Bisa jadi karena kami akhir-akhir ini lebih sering mengatakan kata ‘bodoh’, ‘bebal’, ‘intelektual terbelakang’, dan ‘pamer kebodohan’ pada mereka saat berdebat.

honestly_arrogant

Sebagian dari kaum bumi datar yg protes tersebut beralasan bahwa orang yg beradab (berakhlak) itu lebih baik daripada orang yg berilmu. Saya setuju sekali dengan argumen tersebut. Setidaknya mereka mengakui jika kami ini berilmu. Tapi… seperti biasa, kaum bumi datar itu tak bisa bercermin, atau mungkin juga tak punya cermin. Seperti yg sering saya bilang, mereka itu ibarat “buruk rupa cermin dibelah”. Dunia mereka serba terbalik; yg benar disalahkan, yg salah dibenarkan; yg bodoh dianggap pintar, yg pintar dianggap bodoh; info bohong dipercaya, yg benar malah ditolak; orang bodoh dipuja, orang pintar dicaci; dan seterusnya. Mereka menuntut orang lain beradab, tapi mereka sendiri lebih tidak beradab dari orang yg mereka katakan tak beradab. Itulah pemahaman ‘beradab’ menurut versi kaum bumi datar.

Memang guru saya pernah mengajarkan bahwa “dahulukan adab daripada ilmu” yg artinya kita harus paham adab dulu sebelum paham ilmu. Dan orang yg berilmu seharusnya juga beradab. Tapi guru saya juga mengajarkan bahwa Tuhan menyuruh kita untuk membaca, belajar, dan berpikir. Nabi mengajarkan kita untuk menuntut ilmu sejak lahir hingga ajal menjemput. Demikian pentingnya ilmu di mata Tuhan sehingga Tuhan pun meninggikan derajat orang berilmu di atas orang yg tidak berilmu. Tidak sama kedudukan orang yg berilmu dan orang tidak berilmu, orang berilmu lebih tinggi posisinya. Bahkan orang atheis pun juga memiliki etika yg sama, hormati ilmu dan orang berilmu. Oleh karena itu, kita harus beradab pada orang berilmu dengan cara menghormati orangnya dan menghargai ilmunya, bahkan saat kita tidak sependapat dengan (sebagian) pendapat orang berilmu tersebut. Begitulah adab kita pada ilmu dan orang berilmu.

Nah, sekarang kita perhatikan perilaku sebagian besar kaum bumi datar di grup ini. Apakah mereka menghormati ilmu? Tidak! Mereka merendahkan ilmu yg benar (khususnya sains modern) dengan mengatakan sains itu bohong, rekayasa, tipuan, dan sebagainya, tanpa bukti ilmiah satu pun. Pokoknya sains modern yg tak sesuai faham bumi datar itu salah. Apakah mereka menghormati orang berilmu? Tidak! Mereka merendahkan para ilmuwan yg berilmu benar dengan mengatakan ilmuwan itu hanya berasumsi, berkhayal, mengira-ngira saja, cuma teori tanpa bukti, antek elit global, dan sebagai, tanpa bukti sah satu pun. Bahkan ketika ada ilmuwan besar meninggal dunia, mereka pun tanpa malu menghujat ilmuwan tersebut. Pokoknya ilmuwan yg tidak mendukung faham bumi datar itu salah. Bahkan sebagian kaum bumi datar juga merendahkan ahli agama (ulama) yg berilmu benar dengan mengatakan ulama itu sudah jadi bagian dari elit global, dibohongi atau dibodohi elit global, fatwanya salah, dan sebagainya, juga tanpa bukti kuat satu pun. Mereka menolak ajaran Tuhan untuk menghargai ilmu dan menghormati orang berilmu. Tolong katakan pada saya, apakah perilaku kaum bumi datar itu beradab?

Kaum bumi datar (sok) lupa bahwa para dedengkot bumi datar (terutama Bos Darling dan Eric Dubay) yg memulai semua ini dengan merendahkan ilmu pengetahuan yg benar. Mereka membuat fitnah dan teori konspirasi yg menyatakan bahwa sains modern itu bohong, tipuan, dan rekayasa elit global belaka. Yg namanya fitnah dan konspirasi, tentu tidak dilandasi bukti apa pun, hanya dugaan dan asumsi kosong. Propaganda faham bumi datar kemudian diyakini secara membabi-buta oleh para kaum bumi datar. Lalu mereka menambahkan fitnah-fitnah baru, bahkan sebagian membawa agama segala. Apakah perilaku seperti itu layak disebut beradab?

Ada aksi, tentu ada reaksi. Para pecinta sains pun membantah fitnah-fitnah tersebut dengan berbagi info dan ilmu yg benar. Tapi karena akalnya sudah terbutakan oleh doktrin faham bumi datar, kaum bumi datar menolak segala info dan ilmu yg benar. Bahkan fitnah mereka justru semakin gencar, termasuk berbagai caci maki dan hinaan. Maka konyol ketika kita melawan, lalu kaum bumi datar mendadak sok santun dan beradab, berlagak suci tanpa dosa, dan seolah-olah menjadi korban (playing victim), padahal justru golongan mereka yg memulai ini semua dengan fitnah, hinaan, dan kesombongan. Mereka juga lupa bahwa sikap (sok) santun tidak bisa membenarkan kesalahan dan kebohongan.

Di sisi lain, faktanya justru kaum bumi datar yg sebenarnya tidak berilmu, pemahamannya salah, penolak kebenaran, korban pembodohan, percaya kebohongan, dan terpedaya propaganda. Akibat dari mereka terlalu meyakini “kebenaran” doktrin faham bumi datar, akal mereka seperti tak berfungsi lagi. Tapi mereka berlagak seolah paham semua ilmu, merasa lebih pintar dari ribuan ilmuwan, dan sok lebih ‘alim dari para ulama. Jika elit global itu benar-benar ada, bisa jadi justru kaum bumi datar itulah yg sebenarnya antek elit global dalam gerakan pembodohan masyarakat. Tapi mereka tidak sadar dan tidak mau disadarkan. Apa pun yg kita lakukan; menjelaskan ilmu yg benar, memberi referensi yg benar, menunjukkan bukti dan fakta ilmiah yg valid, dan sebagainya; tetap saja mereka menolak dan ngotot dengan kebodohannya. Itu sebabnya kita sebut kaum bumi datar itu bodoh dan bebal, ya karena faktanya memang begitu. Dan parahnya lagi, mereka bangga dan memamerkan kebodohannya di media sosial dan internet. Sudahlah bodoh, sombong pula!

Lalu, bagaimana cara kita menghadapi orang bodoh yg sombong? Bagaimana kita menjawab tuntutan orang yg tidak berilmu dan tidak beradab? Bagaimana adab kita pada kaum bumi datar yg demikian? Seorang bijak pernah berkata, “bersikap sombong pada orang yg sombong adalah sedekah, sebab jika kita terus bersikap rendah hati maka mereka tidak akan sadar dan terus berada dalam kesesatan”. Sudah jelas kaum bumi datar itu tidak paham ilmu, bukan orang yg berilmu, serta sikapnya sombong. Maka kita tunjukkan saja faktanya bahwa mereka itu bodoh dan sombong. Dengan harapan agar mereka bisa berkaca sehingga mulai sadar diri dan mau belajar ilmu yg benar pada orang-orang yg berilmu benar. Walaupun terasa pahit, mari kita jujur saja… benar katakan benar, salah katakan salah, bodoh katakan bodoh. Itu bukan hinaan, tapi fakta. Begitulah cara beradab menghadapi kaum bumi datar yg tidak beradab!

Salam akal sehat yg beradab! 😊

_____
– Gambar diambil dari sini.

Iklan