Teori Konspirasi Itu Merusak

Banyak para ahli media menyatakan bahwa kita sedang memasuki era pasca-kebenaran (post-truth), yaitu era di mana kita memilih dan menentukan sendiri hal yg kita terima sebagai kebenaran. Hal-hal yg rentan bias (karena faktor-faktor seperti emosi, keyakinan, wawasan, golongan, lingkungan, kepentingan, dll), rentan manipulasi, rentan rekayasa, dan sebagainya, lebih diyakini sebagai kebenaran daripada hal obyektif yg berdasarkan fakta dan informasi yg absah dan bebas bias. Kebenaran di era pasca-kebenaran adalah kebenaran pribadi yg bersifat subyektif, bukan lagi kebenaran sejati yg bersifat obyektif. Era pasca-kebenaran ini dimulai sejak maraknya penggunaan media sosial.

Di era pasca-kebenaran ini, banyak beredar kabar bohong (hoax), berita palsu (fake news), sains palsu (pseudo-science), dan teori konspirasi omong kosong yg semuanya itu adalah informasi yg salah dan bohong. Informasi yg salah dan bohong dibuat oleh pihak-pihak yg tidak bertanggung jawab dengan tujuan untuk menggiring opini publik ke arah tertentu. Dengan trik psikologis, publik akan merasa terancam jika menolak informasi yg salah dan bohong tersebut. Sayangnya, cara itu sukses karena banyak orang yg dengan yakin menganggap informasi yg salah dan bohong itu sebagai kebenaran. Orang yg telah jadi korban informasi salah dan bohong biasanya sulit menerima kebenaran sejati.

Terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat sering kali menjadi contoh besar era pasca-kebenaran. Tentu ada banyak contoh lain, seperti kasus Brexit di Inggris misalnya, juga sering jadi bukti era pasca-kebenaran. Di Indonesia, kita sudah merasakan hingar bingar politik sejak pemilu presiden tahun 2014 lalu yg penuh dengan kabar bohong dan berita palsu. Di era pasca-kebenaran ini, garis pembatas antara kebenaran yg sejati dengan kebenaran palsu menjadi semakin kabur dan sulit dibedakan. Hanya: orang-orang yg masih mampu menjaga keadilan dan rasionalitas dalam berpikir; yg masih mampu melakukan verifikasi dan konfirmasi informasi; yg masih mampu bertahan dari trik-trik emosional para pembuat hoax; yg punya wawasan ilmu pengetahuan memadai; dan yg masih mampu bersikap bijak menghadapi silang-sengketa informasi; yg bisa terhindar dari jebakan fitnah di era pasca-kebenaran.

Dari empat hal yg merusak di era pasca-kebenaran ini, yaitu: kabar bohong, berita palsu, sains palsu, dan teori konspirasi, hal yg terakhir adalah jenis kebohongan yg paling merusak dan sulit dilawan. Kabar bohong bisa diuji kebenarannya dengan konfirmasi ke penyebar kabar. Berita palsu bisa diuji kebenarannya dengan konfirmasi ke sumber berita. Sains palsu bisa diuji kebenarannya dengan konfirmasi ke sumber sains yg terpercaya. Semua itu masih tersedia sumber primer informasi untuk menguji kebenarannya. Namun teori konspirasi tidak bisa semudah itu menguji kebenarannya. Teori konspirasi dibangun berdasarkan asumsi dan praduga tanpa dukungan bukti apa pun. Yg disebut “bukti” dalam teori konspirasi pun juga bukan bukti obyektif, melainkan info olahan yg perlu ditelusuri lebih lanjut keabsahannya. Bahkan seringkali yg membuat teori konspirasi itu pun tidak jelas identitasnya, dengan alasan menjaga privasi dan keamanan. Tentu ini hanya trik untuk kabur dari tanggung jawab saja.

Teori konspirasi omong kosong menjadi semakin diyakini benar apabila dibungkus dengan dalil-dalil agama. Korban teori konspirasi umumnya adalah orang-orang bodoh yg kurang wawasan informasi dan ilmu pengetahuan sehingga sangat mudah dihasut dengan isu-isu SARA (suku, agama, ras, dan antar-golongan). Korban teori konspirasi yg terhasut isu SARA akan membela mati-matian teori konspirasi tersebut sebagai kebenaran sejati, bahkan kebenaran dari Tuhan. Mereka merasa sedang membela agama dan Tuhannya. Maka, siapa pun –termasuk ahli agama– yg menolak teori konspirasi tersebut akan dicap sebagai anti-agama dan anti-Tuhan. Mungkin terdengar konyol, ahli agama kok dibilang anti-agama dan anti-Tuhan? Tapi begitulah faktanya. Bukankah akhir-akhir ini kita sudah semakin lazim mendengar tuduhan atheis, kafir, penyembah setan, antek dajjal, dsb pada orang-orang yg berusaha meluruskan teori konspirasi omong kosong?

Salah satu contoh teori konspirasi omong kosong yg akhir-akhir ini muncul kembali adalah teori konspirasi bumi datar, yg dipicu oleh buku berjudul sama karya Eric Dubay. Teori konspirasi ini bergaung di masyarakat kita, khususnya di internet dan media sosial, setelah munculnya kanal Youtube video Flat Earth 101 buatan seseorang dengan nama palsu Boss Darling. Baik buku maupun videonya, semuanya berisi informasi yg salah dan bohong. Video FE 101 lebih kental bungkus agamanya, menyodorkan dalil agama dengan metode “cocoklogi” sebagai “bukti” bahwa Bumi itu memang datar. Cara pendekatan yg sangat “cocok” bagi masyarakat kita yg umumnya muslim religius tapi masih sangat rendah literasi sainsnya. Benar belaka apa yg dikatakan oleh ilmuwan dan filsuf muslim, Ibnu Rusyd, yg menyatakan “jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah hal yg batil dengan agama”.

Apa yg Dirusak Oleh Teori Konspirasi?

Hal pertama dan utama yg dirusak oleh teori konspirasi adalah standar kebenaran. Kebenaran sejati itu harus berlandaskan ilmu yg benar dan fakta yg valid dari orang yg ahli dan berilmu. Teori konspirasi merusak standar ini sehingga kebenaran bisa saja berlandaskan ilmu yg salah (atau tanpa ilmu apa pun) dan fakta yg sumir dari orang yg tidak jelas keahlian dan ilmunya. Teori konspirasi bumi datar, misalnya, tidak punya landasan ilmu alam yg benar, tidak punya bukti dan fakta ilmiah yg valid, serta dibuat oleh orang yg tidak jelas identitasnya, apalagi keahlian dan ilmunya. Namun karena dibungkus dengan dalil agama dan trik psikologis maka banyak orang yg mempercayainya begitu saja tanpa ada upaya untuk mengkaji dan menguji kebenaran teori tersebut.

Hal kedua yg dirusak teori konspirasi adalah ilmu dan pendidikan di masyarakat. Ilmu adalah hasil karya orang berilmu (ilmuwan) yg sudah teruji dan terbukti benar serta diakui dunia. Pendidikan adalah cara sistematis (kurikulum) untuk menyebarkan ilmu yg benar ke masyarakat dunia. Tidak ada satu pun bangsa di dunia yg ingin masyarakatnya jadi bodoh. Maka semua ilmu yg akan diajarkan melalui pendidikan di setiap negara pasti ilmu yg sudah teruji dan terbukti benar. Teori konspirasi merusak mekanisme ilmu dan pendidikan yg sudah mapan tersebut. Ilmu yg benar ditolak, pendidikan yg benar pun ditolak, sehingga masyarakat malah mendapat ilmu yg salah dengan metode pendidikan yg salah pula. Masyarakat yg seharusnya bisa menjadi makin pintar dan maju malah dipaksa jadi bodoh dan mundur karena tertinggal dalam ilmu dan pendidikan.

Bayangkan saja… Jutaan penelitian ilmiah oleh ribuan ilmuwan sedunia berdasarkan perhitungan dan pengamatan di dunia nyata yg sudah teruji dan terbukti secara obyektif, ditolak seketika hanya dengan kumpulan video buatan orang yg tidak jelas. Demikian juga, jutaan materi dan kurikulum pendidikan yg disusun oleh ribuan akademisi sedunia berdasarkan ilmu pengetahuan yg sudah terbukti, ditolak seketika hanya dengan kumpulan informasi yg salah dan bohong dari orang yg bukan ahlinya. Yaitu orang yg merasa dirinya lebih pintar dari ribuan ilmuwan dan ribuan akademisi sedunia. Apakah mungkin orang tersebut lebih pintar dari jutaan ilmuwan dan akademisi sedunia? Mustahil. Apa mungkin jutaan ilmuwan dan akademisi sedunia tertipu oleh yg disebut sebagai “elit global”? Tidak mungkin. Jauh lebih mungkin si pembuat teori konspirasi itu yg sebenarnya berusaha membodohi kita semua.

Teori konspirasi apa pun itu lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya, pun jika ada manfaatnya. Jika anda berminat untuk melawan dan meluruskan teori konspirasi, silakan lakukan. Jika tidak berminat, lebih baik tinggalkan saja. Daripada tertipu informasi salah dan bohong dari orang yg tidak jelas dalam teori konspirasi bumi datar, lebih baik kita semua belajar ilmu yg benar dari orang yg berilmu dan ahli di bidangnya.

Salam akal sehat! 😊

Iklan