Sains, Agama, dan Seni

the_creation_of_adam-michelangelo.jpg
The Creation of Adam – Michelangelo (1512), Italy

Manusia adalah makhluk hidup yg unik sekaligus rumit. Manusia berusaha memahami alam semesta dan segala isinya dengan menggunakan banyak pendekatan. Manusia pun berusaha memahami manusia juga dengan banyak pendekatan. Setiap pendekatan memiliki konsep, prinsip, metode, dan lingkup yg berbeda. Setiap pendekatan harus diterima dan dipahami sesuai konsep, prinsip, metode dan lingkup masing-masing. Kita tidak bisa –misalnya– pendekatan X dipahami dengan menggunakan konsep, prinsip, dan lingkup pendekatan Y karena pasti tidak akan sesuai. Apalagi mencampur-adukkan antar pendekatan, bisa jadi akan muncul pertentangan.

Kita ambil tiga contoh pendekatan, yaitu pendekatan sains, agama, dan seni. Sains adalah usaha manusia memahami alam semesta dengan pendekatan ilmu alam berdasarkan bukti ilmiah yg obyektif terhadap fakta alam. Agama adalah usaha manusia memahami alam semesta dengan pendekatan keyakinan melalui sumber-sumber suci dari Tuhan dan utusanNya. Seni adalah usaha manusia memahami alam semesta dengan pendekatan rasa dan emosi jiwa yg kreatif. Sains, agama, dan seni memiliki konsep, prinsip, metode, dan lingkup yg berbeda satu dengan lainnya. Masing-masing pendekatan punya konteks yg berbeda sehingga harus dipahami secara berbeda pula.

Weeping Woman 1937 by Pablo Picasso 1881-1973
The Weeping Woman – Pablo Picasso (1937), France

Satu obyek yg sama, misalnya manusia, pendekatan sains, agama dan seni bisa memberikan pemahaman yg sama sekali berbeda. Sains akan memberikan bukti ilmiah bahwa manusia adalah hasil proses evolusi dari hewan purba hingga akhirnya menjadi spesies manusia modern (homo sapiens) yg terjadi selama jutaan tahun. Agama akan mengatakan, berdasarkan dalil suci dari kitab suci dan nabi, bahwa manusia adalah makhluk istimewa yg diciptakan Tuhan dari tanah di surga lalu diturunkan ke Bumi. Seni akan menunjukkan indahnya jiwa dan raga manusia dalam berbagai ekspresi keindahan, misalnya berupa coretan cat di kanvas, pahatan di sebongkah batu, deretan kata dan bait puisi, atau lantunan nada dalam lagu.

Dalam setiap pendekatan pasti terdapat orang yg diakui ahli di bidang tersebut. Orang yg ahli sains disebut ilmuwan, orang yg ahli agama disebut ulama (istilahnya bisa berbeda di setiap agama), orang yg ahli seni disebut seniman. Jika kita bertanya pada setiap ahli tersebut, masing-masing akan memberi jawaban sesuai pendekatannya. Jika kita –misalnya– bertanya tentang obyek manusia, ilmuwan akan menjawab dengan ilmu alam, ahli agama akan menjawab dengan ajaran agamanya, dan seniman akan menjawab dengan karya seninya. Mana yg benar dan mana yg salah? Semuanya benar, sesuai pendekatan dan konteks masing-masing. Tidak ada yg salah, tidak perlu pula jadi masalah, apalagi jadi konflik.

Jadi masalah ketika kita menilai suatu pendekatan tertentu dengan menggunakan konsep, prinsip, metode, dan lingkup dari pendekatan lain yg berbeda. Misalnya, dengan contoh manusia di atas, ulama menilai penjelasan ilmuwan salah karena tidak sesuai dengan ajaran agamanya; ilmuwan menilai lukisan seniman salah karena ukuran tubuh manusia dalam lukisan tidak proporsional seperti ukuran tubuh manusia sebenarnya; atau seniman patung menilai ajaran agama salah karena melarang membuat patung manusia telanjang; dan sebagainya, dan seterusnya. Semuanya jadi saling menyalahkan, situasi sosial pun jadi kacau dan ribut, bahkan muncul konflik.

the_persistence_of_memory-salvador_dali
The Persistence of Memory – Salvador Dali (1931), Spain

Maka sangat penting bagi kita untuk memahami setiap pendekatan sesuai konsep, prinsip, metode, dan lingkup masing-masing. Kita harus adil yaitu dengan menggunakan “kacamata” yg tepat untuk memahami dan menilai masing-masing pendekatan. Untuk memahami sains, gunakanlah kacamata sains maka akan tampak kebenaran ilmiah dalam alam semesta. Untuk memahami agama, gunakanlah kacamata agama (yg sesuai) maka akan tampak kuasa Tuhan dan luhurnya ajaran agama. Untuk memahami seni, gunakanlah kacamata seni maka akan tampak keindahan sebuah karya seni. Kacamata yg keliru akan merusak semuanya, termasuk pengguna kacamata itu sendiri.

impossible_triangleKerumitan jejaring neuron dalam syaraf otak manusia sangat mirip dengan jejaring gravitasi antar benda langit di alam semesta. Jumlah neuron dalam otak manusia memiliki nilai yg setara dengan jumlah galaksi dalam alam semesta. Manusia adalah makhluk hidup yg unik sekaligus rumit. Demikian juga alam semesta. Memahami manusia hanya dengan satu kacamata saja tentu tidak cukup. Demikian juga alam semesta. Semakin banyak kacamata yg bisa kita gunakan, semakin banyak ilmu yg kita pahami, maka semakin luas wawasan pemahaman kita pada alam semesta, dan juga pemahaman kita pada manusia itu sendiri.

Salam akal sehat! 😊