Jika Bumi Sebesar Kelereng

Salah satu penyebab kaum bumi datar sulit memahami ilmu astronomi adalah mereka tidak mampu memahami skala kosmik, baik besar maupun jaraknya. Ini terbukti pada peristiwa Gerhana Bulan Total (GBT) pada akhir Januari 2018 yg lalu. Karena kegagalan memahami skala, diagram-diagram yg menjelaskan peristiwa GBT secara ilmiah juga sulit mereka terima.

Membuat diagram tata surya dengan skala yg benar nyaris tidak mungkin dilakukan karena kendala ukuran kosmik yg super besar tersebut. Karena itulah hampir seluruh penggambaran tata surya dalam penjelasan ilmiah tidak menggunakan skala yg betul-betul tepat. Tujuannya adalah untuk memudahkan saja. Tapi jika yg membaca tidak mengerti masalah skala ini, memang bisa jadi timbul salah paham. Maka sebenarnya bukan 100% salah kaum bumi datar juga jika mereka sulit paham. Kesalahan mereka yg terbesar adalah malas belajar ilmu pengetahuan yg benar dari sumber yg benar. Jika mereka mau belajar, mereka pasti paham masalah skala ini.

earth-solar-system
Ilustrasi tata surya tidak dalam skala yg benar.

Untuk memahami seberapa besar dan luas tata surya, saya coba perkecil ukuran Bumi menjadi sebesar kelereng atau benda bulat dengan diameter 1 centimeter. Saya pikir ini ukuran yg tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar untuk memahami skala tata surya, khususnya Bulan, Bumi, dan Matahari. Jika Bumi sebesar kelereng maka Bulan adalah benda bulat dengan diameter 3 milimeter dan jaraknya dari Bumi sejauh 30 centimeter. Jika Bumi sebesar kelereng maka Matahari adalah benda bulat dengan diameter 1,1 meter dan jaraknya dari Bumi sejauh 110 meter.

Dengan skala begitu, bisa membayangkan besar dan jarak antara Bumi–Matahari? Jika masih sulit membayangkan, silakan ambil sebuah kelereng dan sebuah bola besar berukuran ±1,1 meter. Lalu bawa keduanya ke sebuah lapangan. Letakkan keduanya dengan jarak ±110 meter. Itulah kira-kira besar dan jarak antara Bumi dan Matahari, jika Bumi kita perkecil menjadi sebuah kelereng. Dengan jarak dan besar seperti itu, nyaris tidak mungkin memindahkannya ke atas kertas dengan skala yg benar sebab Bumi tidak akan lebih besar dari sebuah titik tinta pulpen yg kecil. Bahkan memindahkannya ke layar komputer yg besar pun juga belum cukup luas. Itulah sebabnya ilustrasi gerhana di atas kertas tidak bisa menggunakan skala yg tepat, terutama jaraknya. Maka ilustrasi gerhana biasanya tidak dengan skala yg tepat namun masih dengan prinsip yg benar. Pahamilah ilustrasi gerhana pada bagaimana proses gerhana terjadi, bukan pada ukuran skala ilustrasinya.

Nah… kita baru bicara tentang skala Matahari, Bumi dan Bulan. Bagaimana dengan benda-benda langit lainnya? Dengan Bumi sebesar kelereng, sistem tata surya membutuhkan luasan dengan radius lebih dari 11 kilometer. Jika kita paham skala kosmik, kita akan paham betapa angkasa itu amat sangat luar biasa besar dan luas dengan banyak ruang kosong di antaranya. Begitu besar dan luasnya, bahkan cahaya yg kecepatannya tertinggi di alam semesta, terasa lambat. Kecepatan cahaya adalah 300 juta meter per detik atau ±1 milyar kilometer per jam. Bagi manusia, kecepatan seperti itu tentu tak terbayangkan. Tapi cahaya butuh waktu 8,3 menit untuk menempuh jarak dari Matahari ke Bumi. Kembali ke skala Bumi sebesar kelereng di atas, bayangkan cahaya perlu waktu 8,3 menit untuk menempuh jarak 110 meter. Lambat sekali bukan?

Demikian juga kecepatan rotasi Bumi. Kaum bumi datar menganggap kecepatan putar Bumi seperti gasing sehingga air tak mungkin bisa menempel di permukaannya. Itu anggapan yg salah! Walaupun kecepatan ±1675 kilometer per jam itu terasa sangat cepat bagi manusia, tapi bagi Bumi yg kelilingnya ±40 ribu kilometer, kecepatan itu terasa lambat karena Bumi sangat besar. Buktinya, untuk menyelesaikan satu kali putaran saja, Bumi butuh waktu hampir 24 jam! Coba ambil sebuah bola basket atau bola sepak, lalu putar sedemikian hingga 1 kali putaran butuh waktu ±24 jam. Itulah kecepatan putar Bumi yg sebenarnya. Lambat sekali bukan?

Demikian pula dengan perbedaan sudut. Di atas kertas, sudut 5° tampak kecil. Tapi jika sudut 5° (sudut orbit Bulan terhadap Bumi) itu ditarik hingga membentang sejauh 384 ribu kilometer (jarak antara Bumi dan Bulan) maka ada jarak 1700 kilometer di antara sudut tersebut. Bukan jarak yg pendek, bahkan untuk ukuran Bumi dan Bulan. Selisih sudut dan jarak itulah yg menyebabkan gerhana Bulan tidak terjadi setiap bulan.

Bagi manusia, memahami ukuran angkasa itu seperti manusia kerdil masuk ke dunia manusia raksasa. Bagi si kerdil, semua benda terasa besar, semua jarak terasa jauh, dan semua gerakan terasa cepat. Tapi bagi si raksasa, semua tampak biasa saja. Pemahaman skala dalam sains itu sangat penting karena alam semesta tersusun dari hal yg sangat kecil hingga yg sangat besar.

Jadi, sekali lagi, saran saya pada kaum bumi datar adalah belajar, belajar, dan belajar. Alam semesta itu sangat luas dan besar. Apa yg tampak dari pengamatan inderawi manusia, belum tentu itulah yg sebenarnya. Para ilmuwan dan cerdik pandai sejak dahulu kala telah berusaha memecahkan berbagai misteri fenomena alam. Hasil kerja mereka kita nikmati sekarang sebagai ilmu pengetahuan alam. Masa’ kita mementahkan lagi hasil kerja keras mereka? Oleh karena itu, jangan sia-siakan ilmu yg telah dibuktikan secara ilmiah tersebut, yaitu dengan cara mempelajarinya. Semakin sedikit ilmu alam yg kita ketahui, semakin sulit kita bisa memahami kerja alam semesta yg sebenarnya.

Salam akal sehat! 😊

_____
– Gambar diambil dari sini.

Iklan