Ilmuwan Tidak Memuja Akal Apalagi Menyembah NASA

Kaum bumi datar sering mengatakan bahwa para pencinta ilmu, terutama para ilmuwan, adalah pemuja akal. Bahkan kaum bumi datar bilang sebagian orang juga menyembah NASA (badan antariksa negara Amerika). Tentu saja itu tidak benar, bahkan konyol. Tidak ada seorang pun yg mencintai ilmu lalu memuja akalnya, apalagi menyembah NASA segala. Seperti yg sudah sering kali saya sampaikan, ilmu itu dipelajari dan dipahami, bukan diyakini apalagi disembah.

Einstein pernah menyatakan, “Tuhan tidak bermain dadu”, ketika melihat ketidak-pastian dalam mekanika kuantum. Saat itu Einstein justru sedang membela keyakinannya dan melawan akalnya. Namun berbagai hasil riset ilmiah para ilmuwan menunjukkan bahwa mekanika kuantum memang memiliki ketidak-pastian. Maka, mau tidak mau Einstein pun harus menerima fakta bahwa memang sifat mekanika kuantum adalah tidak pasti (probabilitas). Mekanika kuantum kemudian diterima sebagai landasan fisika modern saat ini.

Hal yg serupa juga terjadi pada Schrödinger yg menolak rumusan Paul Dirac yg memprediksi adanya positron (partikel serupa elektron tapi bermuatan positif). Schrödinger menuduh prediksi Dirac hanya karena adanya salah hitung dalam rumus Dirac. Saat itu Schrödinger sedang membela akalnya terhadap hasil rumusan Dirac. Namun lagi-lagi berbagai hasil riset ilmiah para ilmuwan menunjukkan bahwa positron itu memang ada. Maka, mau tidak mau Schrödinger pun harus mengakui fakta bahwa positron memang ada.

Banyak lagi kisah ilmuwan seperti di atas yg harus menerima fakta alam walaupun tidak sesuai dengan pemikirannya. Ilmuwan, berikut semua orang yg mempelajari ilmu alam (sains), tidak pernah memuja akal. Akal hanyalah alat untuk memahami berbagai fenomena yg terjadi di alam semesta. Akal tidak membuat hukum alam. Akal tidak bisa mengarahkan agar perilaku alam harus begini-begitu. Ilmuwan hanya berusaha mengejawantahkan fenomena alam menjadi rumusan matematis sehingga bisa dipahami oleh seluruh manusia. Dari rumusan matematis itu kemudian para ahli rancang-bangun (engineer alias insinyur) menciptakan teknologi sehingga bisa dinikmati oleh seluruh manusia dan membangun peradaban manusia.

Jadi keliru besar jika kaum bumi datar menuduh sains itu bertentangan dengan agama atau dibangun atas dasar prinsip atheisme. Sains dibangun dengan bukti-bukti ilmiah dari hasil riset ilmiah oleh para ilmuwan yg dilakukan secara obyektif. Sains tidak dibangun dengan pendapat ilmuwan, tidak dibangun dengan asumsi, tidak dibangun dengan khayalan atau imajinasi, tidak dibangun dengan dogma atau keyakinan apalagi agama. Sains dibangun dari fakta-fakta yg ada di alam. Apapun yg dihasilkan dari riset ilmiah ilmuwan, ya begitulah fakta alam yg terjadi dan bisa diamati serta dibuktikan.

degrasse_tyson_make_sense.jpg

Akal manusia itu dinamis dan berkembang. Tentu saja ini hanya berlaku pada manusia yg mau mengembangkan akal dan pengetahuannya. Peradaban manusia modern saat ini yg serba canggih, yg seolah tak masuk akal bagi orang-orang yg tak paham sains, justru hanya bisa terjadi karena ilmuwan tidak memuja akalnya. Apa yg telah dirumuskan dari hasil riset ilmuwan sebelumnya akan terus diubah dan diperbarui oleh riset ilmiah terbaru dari ilmuwan selanjutnya. Nah, jika akal saja tidak dipuja, apatah lagi menyembah badan sains? Tuduhan ilmuwan menyembah NASA itu benar-benar menggelikan. Tuduhan seperti itu hanya muncul dari orang-orang bodoh yg tidak paham sains dan bagaimana metode sains bekerja.

Namun ada segolongan manusia yg seolah tidak mau menggunakan akal mereka. Manusia yg hanya bisa pasrah apa adanya pada dogma-dogma tertentu, yg umumnya berupa ajaran agama dengan pemahaman dari masa lalu. Manusia yg akalnya menolak informasi dan pengetahuan baru yg ada di jaman modern. Manusia yg hanya mau menerima informasi dari puluhan abad yg silam dari akal manusia di jaman itu. Manusia yg memilih menolak fakta terbaru demi ajaran dogmatis dari masa lalu. Ironisnya, agama mereka tidak pernah menganjurkan demikian. Mereka inilah yg saya sebut sebagai pemuja dogma alias “mabuk agama”.

Sebagian, jika tidak bisa dikatakan sebagian besar, kaum bumi datar adalah para pemuja dogma. Mereka ini jenis kaum bumi datar yg fanatik dan radikal. Mereka tanpa malu dan segan menghina para pencinta ilmu, ilmuwan sedunia, termasuk para ahli agama mereka sendiri yg menolak bumi datar. Lagi-lagi ini sebuah ironi karena agama mereka justru mengecam sikap yg demikian. Itu sebabnya saya katakan mereka adalah “teroris intelektual” yg bertujuan merusak ilmu pengetahuan dan pendidikan di jaman modern ini dengan dalih agama. Satu kata untuk mereka, yaitu: LAWAN!

Salam akal sehat! 😊