Teori Evolusi dan Ahli Agama – #2

# BAGIAN 2

Walaupun Darwin dalam bukunya tidak pernah menyinggung evolusi manusia, apalagi bilang manusia berasal dari kera, namun proses evolusi juga pasti terjadi pada manusia sebab manusia juga makhluk hidup. Dari sinilah kemudian muncul kontroversi sehingga lahirlah teori tandingan evolusi yaitu “teori” penciptaan atau teori kreasionis (kreasionisme). Teori penciptaan umumnya didukung oleh kalangan agamis (dari berbagai agama) yg menolak teori evolusi karena dianggap meniadakan peran Tuhan dalam penciptaan manusia. Karena landasan kreasionisme adalah agama maka bantahan yg diajukan bukanlah bantahan ilmiah melainkan bantahan dengan dalil-dalil agama. Tentu saja dalil agama tidak bisa menyalahkan bukti ilmiah sehingga kresionisme tidak bisa menggugurkan teori evolusi.

harun_yahya_atlas3
Buku “Atlas Penciptaan” (2007) oleh Harun Yahya.

Upaya kalangan kreasionis dalam menentang teori evolusi dan menyebarkan kreasionisme cukup masif. Di beberapa negara bahkan ada upaya untuk menghilangkan teori evolusi dari kurikulum pendidikan resmi, namun gagal. Di dunia Islam, banyak ulama konservatif yg mendakwahkan teori evolusi adalah teori anti-Tuhan yg harus ditolak. Seorang pegiat kreasionisme Islam yg terkenal adalah Adnan Oktar¹, penulis dari Turki yg bukan ulama juga bukan ilmuwan, menulis serial buku “Atlas of Creation” (Atlas Penciptaan) dengan nama pena Harun Yahya yg berisi propaganda kreasionisme. Dia lalu menyebarkan bukunya ke berbagai kampus dan lembaga sains di seluruh dunia.² Harun Yahya mengklaim (secara sepihak) bahwa karyanya berhasil meruntuhkan teori evolusi dengan telak.

Tentu saja semua klaim itu bohong belaka. Propaganda kreasionisme tidak ada bedanya dengan propaganda waham bumi datar, atau propaganda anti-sains lainnya. Tidak ada bantahan ilmiah di dalamnya, melainkan hanya kesalah-pahaman (miskonsepsi) terhadap sains dan kebohongan atas nama agama. Upaya-upaya membenturkan sains dan agama seperti itu sangat merusak dan merugikan agama, ilmu pengetahuan, dan masyarakat sekaligus. Sains dan agama adalah dua hal yg berbeda dan harus dipahami secara yg berbeda pula. Sains tidak anti pada Tuhan atau agama. Sains adalah ilmu, agama adalah keyakinan; keduanya bisa sejalan tapi tidak bisa dicampur-adukkan apalagi dibenturkan.

Ilmuwan-ilmuwan jaman dulu yg juga sekaligus ahli agama, seperti Ibn Khaldun dan Georges Lemaître (pendeta yg mengajukan gagasan ledakan besar alias big bang), membuktikan bahwa sains dan agama bisa diterima sekaligus tanpa harus saling meniadakan. Agama adalah ajaran Tuhan dan alam semesta adalah ciptaan Tuhan maka keduanya tidak perlu dipertentangkan karena sama-sama berasal dari Tuhan. Namun para ahli agama yg konservatif kurang bisa memahami sains, bahkan sebagian menolak sains, terutama sains yg dianggap melewati batas kuasa Tuhan. Batas kuasa Tuhan yg dimaksud juga kurang jelas. Secara logika pun salah karena mana mungkin manusia (makhluk) bisa melewati batas kuasa Tuhan? Mustahil.

Gregor_Mendel.jpg
Gregor Mendel, biarawan sekaligus ilmuwan biologi asal Austria, yg menjelaskan evolusi dengan teori penurunan sifat (hereditary) yg tidak diketahui oleh Darwin.

Para ahli agama di jaman modern ini seharusnya juga memahami sains, setidaknya secara umum. Pemikiran kolot (konservatif) para ahli agama akan membuat agama seolah anti terhadap ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban manusia. Padahal tanpa sains, kehidupan manusia –termasuk dalam beragama– tidak akan semudah dan senyaman sekarang. Jika ahli agama tidak mau memahami sains maka hindarilah berbicara sains tanpa ilmu yg memadai. Demikian juga para ilmuwan, jika tidak memahami agama maka hindarilah berbicara agama tanpa pengetahuan yg cukup, setidaknya jangan di ruang publik. Mohon para ahli ini berbicara sesuai kapasitas keilmuan dan keahliannya masing-masing, jangan “lompat pagar”.

Sebagian ahli agama yg juga paham sains memberikan 3 pendekatan dalam upaya untuk menyatukan teori evolusi dan agama. Pertama, menerima Adam (juga Hawa) sebagai campur tangan Tuhan alias keajaiban dalam proses evolusi manusia. Kedua, menerima teori evolusi semata-mata sebagai ilmu pengetahuan, bukan bagian dari agama atau keimanan. Ketiga, bersikap tidak tahu-menahu dan menyerahkan kebenaran sejati kepada Tuhan. Muslim menyebutnya dengan wallahu a’lam bishawab. Pendekatan ketiga tampak seperti fallacy God of the gaps, namun karena kita memang tidak tahu fakta yg sebenarnya maka sah-sah saja kita serahkan urusan itu kepada Tuhan. Pendekatan mana yg lebih cocok bagi kita merupakan keputusan masing-masing.

Kita sebagai orang awam juga harus berhati-hati dalam menerima informasi. Jika ingin belajar agama, belajarlah pada ahli agama. Jika ingin belajar ilmu alam, belajarlah pada ilmuwan. Jangan dibolak-balik. Demikian juga, abaikan informasi sains dari ahli agama yg tidak paham sains. Pun abaikan informasi agama dari ilmuwan yg tidak paham agama. Dengan demikian kita terhindar dari salah paham (miskonsepsi) baik pada agama maupun sains. Idealnya tentu belajar agama pada ahli agama yg paham sains dan belajar sains pada ilmuwan yg paham agama, tapi yg seperti itu tergolong langka.

Penjelasan Prof. Quraish Shihab, ulama tafsir Indonesia, tentang evolusi dan agama.

Salam akal sehat! 😊
–––––
¹ Adnan Oktar dan sekte keagamaan yg dipimpinnya ditangkap polisi Turki pada Juli 2018 karena terlibat berbagai aksi kejahatan.
² Harun Yahya (Adnan Oktar) tidak pernah diakui sebagai ilmuwan di dunia akademik, bahkan oleh kalangan ilmuwan muslim sendiri.