Ciri-Ciri Orang Pintar

Orang pintar adalah orang yg memiliki ilmu pengetahuan yg luas, bahkan kadang lintas bidang ilmu. Sebaliknya, orang bodoh adalah orang yg tidak atau kurang memiliki ilmu pengetahuan yg cukup. Kita bisa menyebut seseorang pintar jika wawasan ilmu pengetahuannya setara dengan ilmu pengetahuan yg diajarkan hingga jenjang SMA. Itu standar terendah orang pintar. Standar yg lebih tinggi adalah memiliki ilmu pengetahuan yg setara dengan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.

Namun tingkat pendidikan tidak menjamin seseorang jadi pintar. Seorang lulusan SMA belum tentu memahami semua ilmu pengetahuan yg diajarkan sejak SD hingga SMA. Demikian juga, seorang sarjana belum tentu memahami seluruh ilmu pengetahuan yg pernah ia terima sejak SD hingga lulus S-1 di perguruan tinggi. Sekolah formal juga bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Bisa saja ada orang pintar yg tidak sekolah namun memiliki ilmu pengetahuan lebih luas dari lulusan SMA, misalnya dengan banyak membaca buku ilmu.

Lalu bagaimana cara kita mengetahui seseorang itu pintar atau bodoh jika tingkat pendidikan tidak menjamin kepintaran? Orang yg pintar dan berpendidikan bisa diketahui dari caranya melakukan komunikasi dengan orang lain terutama dalam berdiskusi atau berdebat, apalagi jika komunikasi dilakukan dalam bentuk tulisan. Apa ciri-ciri orang pintar berdasarkan caranya berkomunikasi? Mari kita bahas.

1. BAHASA YG JELAS

Bahasa adalah wujud logika. Orang yg pintar selalu berkomunikasi menggunakan bahasa yg jelas agar mudah dimengerti orang lain. Bahasa orang pintar itu biasanya rapi dan tertib, tata bahasanya bagus, pemilihan dan peletakan tanda bacanya tepat, penggunaan kata sambung dan imbuhannya benar, susunan S-P-O yg benar, diksi yg dipilih mudah dan sederhana (walaupun ini juga tergantung tema), serta struktur kalimatnya runut dan runtun. Logikanya tentu saja tepat dan benar serta relevan. Bahasa orang bodoh adalah kebalikan dari semua itu.

Namun bukan berarti orang pintar selalu berbahasa dengan formal dan kaku. Bahasa yg jelas bisa saja disusun dengan bahasa informal tapi tetap mengikuti kaidah-kaidah berbahasa yg baik. Bahkan dengan bahasa gaul pun, orang pintar tetap bisa berkomunikasi dengan bahasa yg jelas. Namun begitu, umumnya orang pintar tidak suka dan menghindari penggunaan bahasa alay yg tidak jelas itu. Bahasa alay ke laut aja.

2. RUJUKAN YG JELAS

Setiap kali orang pintar menyertakan informasi, informasi tersebut selalu mempunyai rujukan yg jelas dan bisa dipertanggung-jawabkan. Kasarnya, orang pintar itu tidak asbun (asal bunyi) atau asjep (asal njeplak), apalagi berbohong dengan mengada-ada informasi yg tidak ada alias bikin hoax. Orang pintar tentu sangat anti pada fitnah, tuduhan tanpa dasar, dan klaim tanpa bukti karena semua itu kebohongan dan omong kosong yg pasti tidak mempunyai rujukan yg jelas.

Namun bukan berarti orang pintar selalu menyebutkan rujukan informasi dalam komunikasinya. Komunikasi bukan karya tulis ilmiah sehingga tidak perlu menyertakan daftar pustaka. Apalagi informasi yg disertakan adalah informasi yg sudah menjadi pengetahuan umum. Pengetahuan umum seharusnya diketahui semua orang, bahkan yg awam sekalipun. Akan tetapi jika orang pintar diminta rujukan setiap pernyataannya, ia akan sigap menunjukkan rujukannya. Di jaman daring ini, standar minimal rujukan informasi adalah wikipedia.

3. SESUAI KONTEKS DAN RELEVAN

Komunikasi orang pintar selalu dalam konteks atau lingkup bahasan serta selalu relevan dengan topik bahasan. Atau dalam bahasa gaulnya disebut “nyambung”. Jika diskusi dalam lingkup sains maka bahasan selalu dalam konteks sains. Jika diskusi tentang bentuk Bumi maka pernyataannya selalu relevan dengan bentuk Bumi. Tidak tiba-tiba melompat ke urusan politik atau ekonomi apalagi agama ketika sedang berdiskusi bentuk Bumi. Orang bodoh biasanya sering tidak bisa menjaga diskusi sesuai konteks dan relevan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan lemahnya kemampuan logika mereka.

Namun bukan berarti orang pintar tidak mampu berdiskusi lintas topik bahasan atau bahkan lintas ilmu pengetahuan. Justru orang yg wawasan ilmunya luas bisa berganti sudut pandang berdasarkan konteks dan ilmu yg berbeda. Tetapi dalam komunikasi yg baik, peralihan konteks diskusi dilakukan secara tertib dan terarah, tidak asal melompat ke sana ke mari secara tiba-tiba. Dalam sebuah diskusi, biasanya peralihan konteks dilakukan dengan kesepakatan semua pihak yg terlibat dalam diskusi.

4. PERNYATAAN YG KONSISTEN

Karena orang pintar itu logikanya bagus, punya rujukan yg jelas, serta sesuai konteks dan relevan, pernyataan orang pintar selalu konsisten. Tidak seperti peribahasa Jawa, “isuk dele, sore tempe” yg artinya “pagi kedelai, sore (jadi) tempe”, merujuk pada orang yg pernyataan atau pendiriannya suka berubah-ubah. Pernyataan seorang yg pintar tidak akan berubah walaupun dibantah bertubi-tubi dengan berbagai argumen. Orang pintar akan konsisten menyatakan merah itu merah dan kuning itu kuning.

Namun bukan berarti orang yg konsisten adalah orang yg bebal atau ngotot pada egonya sendiri. Orang pintar selalu berpegang pada kebenaran dan terbuka pada kebenaran baru. Jika pernyataannya terbukti salah berdasarkan rujukan yg jelas atau pemahaman yg lebih baik maka orang pintar akan berbesar hati mengakui kesalahannya dan menerima kebenaran baru yg tidak ia ketahui sebelumnya. Orang sepintar apa pun tetaplah manusia yg bisa salah dan lupa. Karena itu orang pintar selalu mengakui yg benar itu benar dan yg salah itu salah.

5. MENGHINDARI SESAT LOGIKA (FALLACY)

Orang pintar itu pasti paham logika yg benar. Karena itu orang pintar tidak mudah terjebak dan selalu berusaha menghindari sesat logika atau fallacy. Sesat logika adalah susunan logika yg keliru dalam argumen. Ada banyak sekali bentuk sesat logika, tetapi yg paling umum kita temukan dalam diskusi atau debat antara lain:

  • ad-hominem yaitu argumen yg menyerang pribadi lawan diskusi dengan tujuan menjatuhkan mental lawan diskusi, bukan menjatuhkan argumennya. Hal yg diserang adalah hal-hal pribadi yg tidak relevan dengan topik bahasan. Misalnya saat diskusi bentuk Bumi, lalu menyerang kondisi fisik, pekerjaan, suku bangsa, agama, dsb. Ini adalah salah satu sesat pikir yg buruk dan hina.
  • red herring yaitu upaya mengalihkan topik diskusi dengan tujuan menghindar dari ketidak-mampuan mempertahankan argumen sebelumnya. Ini adalah salah satu kiat kabur dari debat yg biasa dilakukan orang yg tidak bertanggung jawab.
  • strawman yaitu memberikan pemahaman yg salah (atau konteks yg berbeda) pada argumen lawan lalu memaksakan yg keliru tersebut dan menyerangnya alih-alih membantah argumen lawan secara langsung. Ini adalah cara buruk menjatuhkan argumen lawan.
  • appeal to belief yaitu membantah argumen lawan bukan dengan logika atau rujukan yg benar dan obyektif, melainkan dengan keyakinan pribadi yg subyektif. Misalnya, sains itu harus sesuai dengan agama maka jika ada sains yg bertentangan dengan agama, sains tersebut harus ditolak; padahal sains tidak berurusan dengan agama mana pun sehingga tidak ada sains yg harus bertentangan dengan agama. Ini adalah cara umum yg biasa dilakukan orang-orang yg mabuk agama.
  • appeal to consequences yaitu menolak argumen lawan bukan dari salah atau benarnya melainkan dari konsekuensi argumen secara subyektif atau dengan pemahaman yg keliru. Misalnya, sains itu menjauhkan dari ketuhanan maka menerima sains akan berakibat jadi atheis; padahal sains tidak menjauhkan dari ketuhanan maka sains tidak membuat orang jadi atheis. Ini adalah cara umum yg biasa dilakukan orang-orang untuk mencari pembenaran argumen secara subyektif.

Dan berbagai sesat pikir lainnya.

6. ARGUMEN YG OBYEKTIF

Orang pintar selalu membuat pernyataan atau opini dengan argumen-argumen yg obyektif. Argumen yg obyektif adalah argumen yg sesuai dengan logika yg benar, sesuai dengan ilmu pengetahuan yg diakui, dan sesuai dengan fakta dan kenyataan yg ada. Argumen yg obyektif tidak terkait dengan siapa yg berbicara tapi fokus pada apa yg dibicarakan. Pendapat atau opini memang sifatnya subyektif karena tergantung sudut pandang dan bias pribadi, namun opini tetap harus berdasarkan argumen yg obyektif. Jika argumennya obyektif maka opini itu tentang setuju atau tidak, bukan tentang benar atau salah.hawking_smart_people.png

Dalam sebuah diskusi atau debat, susunan argumen inilah yg jelas sekali membedakan antara orang pintar dan orang bodoh. Argumen orang pintar selalu berdasarkan logika, ilmu, dan fakta. Sedangkan argumen orang bodoh biasanya hanya berdasarkan perasaan, dugaan, dan khayalan (dalam berbagai bentuknya), bahkan hoax. Itu sebabnya argumen orang bodoh sangat mudah dipatahkan secara logika, ilmu, dan fakta namun orang bodoh akan bebal karena mereka bertahan pada emosi dan asumsi mereka sendiri yg keliru. Ciri orang yg emosional adalah mudah melemparkan caci maki dan tuduhan tanpa dasar ketika argumennya dibantah.

Nah… terkait dengan perdebatan bentuk Bumi, khususnya bumi datar vs Bumi bulat, maka semua orang yg berpendidikan pasti akan tahu bahwa orang-orang bodoh ada di pihak kaum bumi datar. Komunikasi kaum bumi datar sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri orang yg pintar, bahkan sebagian besar malah menunjukkan ciri-ciri orang yg bodoh dan barbar. Misalnya dengan semburan caci maki, hujatan, dan fitnah pada kaum Bumi bulat. Semoga kaum bumi datar segera sadar dan kembali ke jalan ilmu yg benar.

Salam akal sehat! 😊