Ulasan Film Sains #2

Behind The Curve (2018)

netflix_behind_the_curveSore ini saya baru saja selesai menonton film Behind The Curve. Film dokumenter yg mencoba menangkap fenomena kaum bumi datar di negara Amerika Serikat sana. Film yg dibesut oleh studio Netflix dan disutradarai oleh Daniel J. Clark ini menunjukkan bahwa gerakan kaum bumi datar semakin mendapat sorotan publik dunia. Menarik melihat bagaimana film ini bisa menangkap kejujuran kaum bumi datar di sana.

Semakin dikenalnya kaum bumi datar memiliki dua kemungkinan dampak; yg pertama adalah semakin banyak orang yg percaya bumi datar, atau semakin banyak orang yg menolak bumi datar. Dampak mana yg akan terjadi tergantung pada literasi (pemahaman) sains di masyarakat masing-masing. Di negara yg masyarakatnya punya literasi sains yg baik, cenderung akan menolak bumi datar. Sebaliknya, di negara yg masyarakatnya punya literasi sains yg buruk, cenderung akan percaya bumi datar.

Saya masih bertahan pada pendapat saya bahwa masalah utama dari munculnya kembali bumi datar ini adalah literasi sains. Pertama kali orang menjadi percaya pada bumi datar diawali karena ia tidak paham sains yg benar. Literasi sains adalah salah satu tolok ukur kesuksesan program pendidikan di suatu negara. Negara yg program pendidikannya berhasil akan tercipta masyarakat yg rasional dan kritis berdasarkan pola pikir yg ilmiah. Sebaliknya, negara yg program pendidikannya gagal akan tercipta masyarakat yg irrasional dan dogmatis dengan pola pikir yg tidak ilmiah. 

Setelah seseorang percaya bumi datar, maka selanjutnya menjadi masalah psikologis. Jadi, masalah psikologis itu muncul setelah seseorang percaya bumi datar. Hal ini terjadi karena bumi datar berbasis pada keyakinan atau kepercayaan (belief atau faith), bukan berdasarkan observasi ilmiah. Karena berbasis keyakinan, bumi datar menjadi dogma, sama seperti agama. Jika seorang yg percaya bumi datar masih mampu berpegang pada pola pikir ilmiah dan rasional, ia tidak akan lama bertahan sebagai kaum bumi datar sebab mudah sekali membuktikan bumi datar itu salah.

Namun di jaman post-truth (pasca kebenaran) di mana fitnah, berita bohong (hoax), berita palsu (fake news), teori konspirasi, dan anti-sains semakin sulit dibedakan dari informasi dan ilmu yg benar, fenomena bumi datar seolah datang di waktu yg tepat. Era post-truth ini tampaknya akan berkembang menjadi self-truth (kebenaran versi diri sendiri) yg menafikan informasi yg valid dan ilmu pengetahuan yg benar demi membela kebenaran versi individu masing-masing, seperti yg disampaikan oleh Patricia Steere dalam film Behind The Curve ini.

Pewawancara: “Sumber [informasi] mana yg anda percayai?”
Patricia Steere: “Diri saya sendiri.”

FE_mark_sargent.jpg
Mark Sargent, seorang aktivis bumi datar dari Amerika yg cukup terkenal, sedang menunjukkan peta bumi datar.

Nah, bagaimana dengan masyarakat di Indonesia? Walaupun pahit tapi kenyataan harus diakui bahwa masyarakat kita memiliki literasi sains yg sangat rendah. Negara kita berada di peringkat ke-6 dari bawah dalam literasi sains berdasarkan survei PISA di tahun 2015 terhadap 72 negara di dunia. Artinya, kemungkinan besar makin banyak orang di masyarakat kita yg percaya bumi datar. Ini sekaligus juga menunjukkan tingkat keberhasilan pendidikan nasional masih rendah. Sebuah pekerjaan rumah yg besar dan berat bagi pemerintah kita saat ini dan di masa depan.

Lalu, sebagai masyarakat yg masih bisa berpikir rasional dan ilmiah, apa yg harus kita lakukan menghadapi fenomena kaum bumi datar ini? Seperti yg saya jelaskan di artikel saya “Sebab Kebebalan Kaum Bumi Datar”, ada 5 jenis kaum bumi datar yaitu:

  1. awam sains,
  2. korban konspirasi,
  3. mabuk agama,
  4. pencari sensasi,
  5. penjual hoax.

Dari 5 jenis itu, kaum bumi datar yg paling militan, fanatik, dan bebal adalah golongan korban konspirasi dan mabuk agama. Kedua jenis ini menerima bumi datar betul-betul sebagai dogma layaknya agama, mungkin bahkan lebih dari agama. Penjelasan sains seperti apa pun tidak akan bisa mereka terima. Mereka inilah yg butuh penanganan psikologis secara khusus, mungkin juga solusi keagamaan. Masalahnya, merekalah jenis yg terbanyak di masyarakat kita.

Berhubung saya bukan psikolog, saya memilih untuk mendekati kaum bumi datar dari sisi pola berpikir ilmiah. Kaum bumi datar itu telah salah sejak dari pikiran. Mereka kurang paham logika dan cara berpikir ilmiah yg benar. Ini yg harus dibenahi terlebih dulu sebelum mereka dijejali informasi sains yg benar. Tanpa pola pikir yg benar, info sains yg benar hanya akan jadi noise yg tidak mampu mereka pahami.

Salam akal sehat! 😊