Bagaimana Berdebat yg Baik dan Benar?

Kaum bumi datar sering menantang orang lain untuk berdebat ilmiah, tapi mereka sendiri tidak paham bagaimana debat ilmiah yg baik dan benar. Lagi-lagi ini membuktikan bahwa kaum bumi datar tidak paham apa-apa karena siapa pun yg pernah sekolah tentu paham cara debat ilmiah, apalagi yg pernah mengikuti lomba debat ilmiah. Saya akan menjelaskan secara singkat saja bagaimana debat ilmiah yg baik dan benar.

Sebelumnya saja jelaskan dulu makna ‘debat’. Debat adalah metode komunikasi untuk memperebutkan kebenaran dengan cara mengadu pendapat tiap pihak berdasarkan ilmu, logika, rujukan, dan fakta versi masing-masing. Kemenangan diperoleh pihak yg bisa menjatuhkan argumen lawan. Kemenangan hanya ada di satu pihak, pihak lain harus salah dan kalah. Kebenaran ada di pihak yg menang debat. Komunikasi jenis ini penting dalam melawan kesalahan dan kebodohan karena mampu menunjukkan mana yg benar dan mana yg salah. Dalam komunitas sains, debat adalah salah satu bentuk perjuangan melawan kebodohan.

Hal pertama dalam debat adalah penentuan topik dan batasan debat. Penentuan ini penting agar debat fokus pada topik tertentu saja dan tidak melebar ke mana-mana. Semakin fokus topik debatnya, semakin baik. Contoh topik debat yg bagus misalnya “benarkah berat jenis menyebabkan benda jatuh?” atau “apakah gravitasi bisa dibuktikan?”. Pada umumnya topik debat berupa kalimat tanya yg mengarahkan adanya pro-kontra atau setuju-taksetuju agar peserta debat bisa menentukan posisi terhadap topik debat. Contoh topik debat yg kurang bagus misalnya “mengapa gravitasi menarik benda?” atau “bagaimana satelit buatan bekerja?”. Topik debat yg demikian tidak menunjukkan adanya pro-kontra sehingga tidak mungkin terbangun debat, yg terbangun bukannya debat tetapi proses belajar-mengajar.

Batasan atau lingkup debat juga harus ditentukan sejak awal. Jika debat dengan topik sains maka batasannya adalah ilmu alam yg ilmiah. Peserta debat tidak boleh mengajukan argumen berdasarkan ilmu agama atau ilmu ghaib dalam lingkup debat ilmu alam ilmiah, misalnya. Demikian juga, tidak boleh jika debat dalam lingkup ilmu kebumian lalu peserta debat mengajukan argumen berdasarkan ilmu perbankan. Ini seharusnya jelas bagi setiap orang, tetapi kadang hal-hal yg jelas begini masih harus dijelaskan agar tidak muncul argumen pengalihan dengan alasan ruang lingkup debat belum ditentukan.

Hal kedua dalam debat adalah adanya juri dan/atau moderator. Juri adalah orang yg diakui oleh seluruh peserta debat untuk menentukan pemenang dalam debat. Juri harus punya ilmu yg mumpuni dalam topik debat yg dilaksanakan, mampu bersikap adil dan tidak memihak salah satu peserta, dan tidak boleh jadi bagian dari salah satu peserta debat. Moderator adalah orang yg mengatur jalannya debat, misalnya membatasi waktu bicara peserta debat, mengingatkan peserta yg keluar dari topik dan batasan debat, menegur peserta debat yg melanggar etika, menolak argumen sesat pikir (fallacy) dari peserta debat, dan sebagainya.

Hal ketiga tentu saja adalah peserta debat. Hanya ada dua peserta dalam debat yaitu pihak yg pro/setuju dan yg kontra/taksetuju terhadap topik debat. Tidak ada pihak netral dalam debat karena tujuan debat adalah menentukan salah dan benar, bukan mencari kesepakatan (diskusi) atau perdamaian (dialog). Juri pun tidak bisa netral karena pada akhirnya harus menentukan pihak mana yg menang (benar) dan kalah (salah) dalam debat. Juri harus berpihak pada kebenaran. Jika topik telah ditentukan, juri dan/atau moderator telah disepakati, peserta debat telah jelas dan lengkap, maka debat bisa dilaksanakan.

Hal keempat dalam debat adalah penonton debat. Penonton bukan hal yg wajib ada dalam debat sebab debat tetap bisa dilaksanakan dengan tiga hal tersebut di atas. Tetapi debat tentu tidak menarik jika tidak ada penonton yg menyemangati peserta debat. Lagipula, jika topik debatnya menarik, siapa sih yg tidak tertarik ikut menonton debat? Sebagai penonton debat, kita tidak boleh ikut berdebat juga, cukup menyimak saja perdebatan yg terjadi antar peserta. Penonton boleh memberi semangat pada peserta yg kita dukung, di saat yg tepat dan cara yg baik. Penonton debat yg tidak tertib apalagi mengganggu proses debat sebaiknya diusir saja dari ruang debat. Penonton ingin menyaksikan debat yg baik, bukan keributan.

Debat dimulai dengan salah satu peserta debat (biasanya penantang debat) menyampaikan argumen berdasarkan ilmu, bangun logika, rujukan data atau pustaka, serta bukti fakta yg sesuai posisinya pada topik (pro atau kontra). Tidak bisa debat dimulai hanya dengan sebuah pertanyaan, apalagi pertanyaan sepele yg jawabannya sudah diajarkan di sekolah. Selanjutnya, pihak lain akan menyampaikan argumen bantahan terhadap argumen lawan berdasarkan ilmu, logika, rujukan, dan fakta yg berbeda. Tidak bisa lawan debat hanya bilang ini salah itu salah tanpa argumen bantahan. Begitu seterusnya peserta debat saling bantah dengan argumen berdasarkan ilmu, logika, rujukan, dan fakta masing-masing, yg diatur oleh moderator. Setelah debat dinyatakan selesai, juri akan menentukan pemenang debat. Peserta debat harus mengakui yg menang sebagai pihak yg benar dan yg kalah sebagai pihak yg salah. Debat memang mirip proses pengadilan.

debate.jpg

Demikian itu jika debat yg dilakukan dalam lingkungan yg terkendali, misalnya dalam lomba debat ilmiah. Namun tidak semua debat terjadi di lingkungan yg terkendali. Kadang debat terjadi di ruang-ruang terbuka bebas yg sering kali tanpa adanya moderator apalagi juri, para pesertanya tidak paham metode dan etika debat, argumen yg diajukan tanpa dasar ilmu dan rujukan yg valid, bahkan penuh dengan sesat pikir dan omong kosong serta hoax saja. Debat yg kacau ala tarung bebas begitu sebaiknya dihindari saja karena tidak ada manfaatnya, kecuali sekadar ingin mencari hiburan saja.

Bukan berarti debat terbuka bebas yg baik dan tertib tidak mungkin terjadi, namun membutuhkan kesadaran dari setiap peserta debat yg paham bagaimana berdebat dengan baik dan benar. Debat terbuka sering terjadi di berbagai forum daring dan media sosial di internet. Yg jadi moderator adalah peserta debat sendiri dan yg menjadi juri adalah para penonton debat. Dalam debat terbuka, umumnya berakhir dengan retorika basa-basi “sepakat untuk tidak sepakat” (agree to disagree). Penonton yg paham ilmu dalam topik debat serta etika dalam berdebat, pasti tahu pihak mana yg benar dan salah dalam sebuah debat terbuka.

Nah, setelah kaum bumi datar paham cara berdebat yg baik dan benar… apakah kaum bumi datar ada yg berani menantang debat tentang bentuk bumi secara ilmiah? Lebih bagus lagi jika kaum bumi datar mengadakan debat ilmiah terbuka, menantang para ilmuwan dan akademisi dengan topik “benarkah bumi itu datar?”. Berani?

Salam akal sehat! 😊