Guru Yang Tidak Arif

Di sebuah grup debat bumi datar, ada seorang kaum bumi datar yg berbagi sebuah kisah. Kisah tentang seorang guru yg bijak tapi sebenarnya salah.* Mungkin guru kaum bumi datar sejenis dengan guru dalam kisah ini. Dari kisah tersebut kita bisa maklum mengapa kaum bumi datar tetap bodoh, bahkan bangga dengan kebodohannya. Berikut kisahnya… 

Alkisah dahulu kala hiduplah seorang guru yg sangat dihormati karena beliau tegas dan jujur. Karena ketegasan dan kejujurannya, beliau dipercaya oleh banyak orang untuk mengajar anak-anak mereka.

Suatu hari, ada dua orang murid sang guru yg berdebat panas hingga nyaris berkelahi. Mereka ribut berdebat tentang berapakah hasil dari 3×7. Murid A adalah murid yg dikenal pandai, berkata hasil dari 3×7 adalah 21. Murid B adalah murid yg dikenal bodoh dan nakal, berkata hasilnya adalah 27. Keduanya sama-sama bersikukuh dengan hasil masing-masing. 

Lalu atas dukungan murid lain, mereka dibawa menghadap ke sang guru. Kepada sang guru, dengan sombong si murid B berkata, “Jika saya benar, murid A harus dihukum cambuk 10×. Tapi jika dia benar, saya rela dihukum pancung. Hahahaha…”. Mendengar sesumbar murid B, murid A berkata pada sang guru, “Biarlah guru saja yg menentukan siapa yg salah dan benar di antara kami.”

Tanpa disangka, sang guru menyeret murid A dan mencambuknya sebanyak 10×. Murid A yg yakin jawabannya benar, protes dan bertanya pada sang guru, “Bukankah 3×7 itu hasilnya 21, guru? Mengapa saya yg dihukum?” Sang guru menjawab, “Engkau kuhukum bukan karena jawabanmu benar, tetapi karena engkau tidak arif menghadapi murid bodoh. Lebih baik aku mencambukmu daripada nyawa seorang muridku hilang sia-sia. Sikap arif itu lebih penting daripada kepintaran.”

Pesan moral kisah di atas katanya adalah pentingnya bersikap arif dengan cara menahan diri dari perdebatan tidak penting. Tujuannya baik, tapi contoh kisahnya salah. Kisah ini justru membuat orang bodoh jadi percaya diri dengan kebodohannya, sementara orang pintar jadi rendah diri dengan kepintarannya. Mungkin itu sebabnya kaum bumi datar susah menerima kebenaran ilmu pengetahuan. Guru seperti dalam kisah ini malah berbahaya bagi ilmu dan pendidikan.

teacher_accountability

Mengapa sang guru tidak bisa menolak permintaan si murid bodoh? Mengapa pula murid yg masih belajar dituntut untuk bisa bersikap arif? Seharusnya sang gurulah yg bisa memberi teladan bagaimana bersikap arif pada orang bodoh. Kearifan itu bukan menghindari konflik dengan segala cara, termasuk menyembunyikan kebenaran dan membela kebodohan. Kearifan adalah menyelesaikan konflik dengan cara yg baik, jujur, dan adil. Salah katakan salah, benar katakan benar. Guru yg baik dan arif pasti paham bagaimana cara menyelesaikan konflik dan menyampaikan kebenaran tanpa harus menyakiti siapa pun.

Salam akal sehat! 😊 

__________
* Motivator banyak gunakan trik seperti itu. Kisah yg seolah indah dan bijak tapi banyak cacat logika di dalamnya.

– Gambar diambil dari sini.

Iklan