Ulasan Buku Sains #3

METODOLOGI PENELITIAN dan DASAR-DASAR LOGIKA

IMG_1004_lowBerikut adalah (contoh) buku yg harus dibaca oleh siapa pun yg ingin memahami sains, apalagi yg ingin melakukan penelitian ilmiah. Buku tersebut menjelaskan tentang logika dan metodologi penelitian ilmiah. Jika kita belum paham tentang bagaimana berpikir dengan logika yg benar dan bagaimana melakukan penelitian dengan metode ilmiah yg benar, jangan sok pintar menyalahkan hasil penelitian ilmiah para ilmuwan yg sudah teruji dan terbukti benar.

Pengantar dua pelajaran ini seharusnya sudah disampaikan di jenjang SMA/SMK. Dan dibahas lagi lebih rinci dan mendalam di jenjang pendidikan tinggi. Jika ada yg mengaku paham sains tapi tidak paham logika dan metodologi penelitian yg benar, jelas ia pembual saja. Jika ada yg belum paham logika dan metodologi penelitian yg benar, jelas pendidikannya belum mencapai SMA/SMK apalagi perguruan tinggi. Jika ada yg tidak paham logika dan metodologi penelitian lalu menyalahkan sains maka jelas ia adalah orang bodoh yg sombong. Umumnya kaum bumi datar adalah orang-orang yg demikian. Kaum bumi datar adalah orang-orang yg tidak punya pengetahuan yg cukup namun dengan sombong menyalahkan ilmu yg benar.IMG_1005_low

Nah, kita yg masih punya akal yg sehat dan nurani yg baik, tidak perlu mengikuti kelakuan kaum bumi datar tersebut. Jika kita ingin belajar ilmu (apa pun), mari belajar pada sumber ilmu yg benar atau orang yg ahli dan diakui. Jangan malah belajar ke orang tidak jelas ilmu dan identitasnya di internet, jadi makin bodoh kita nanti. Jika kita telah betul-betul paham ilmunya, baru kita diskusikan ilmu tersebut secara ilmiah dengan logika yg benar.

Salam akal sehat! 😊 

NATGEO FOR KIDS: APA JADINYA?

ng4kids_apa_jadinyaDi tulisan terdahulu, saya pernah membahas tentang salah satu buku dalam serial “National Geographic for Kids: Mengapa?”. Di liburan yg lalu, anak saya menambah koleksi bukunya dengan membeli buku lain di serial yg sama dengan judul “Apa Jadinya?”. Seperti biasa, anak-anak saya lepas di toko buku dan saya biarkan mereka memilih buku apa pun yg mereka ingin baca dan miliki. Jika saya tidak sedang sibuk, saya usahakan sebulan sekali mengantar anak-anak membeli buku.

Secara umum, isi buku “Apa Jadinya?” ini hampir sama dengan “Mengapa?” yaitu membahas ilmu pengetahuan berdasarkan pertanyaan anak-anak yg masih polos dan mungkin agak absurd. Bedanya, buku “Mengapa?” lebih pada pertanyaan-pertanyaan yg cenderung ilmiah atau nyata, sedang buku “Apa Jadinya?” lebih pada pertanyaan-pertanyaan yg bernuansa khayalan atau imajinatif. Misalnya, apa jadinya jika kamu mengembara ke ujung semesta, apa jadinya jika kita bisa berbicara dengan lumba-lumba, apa jadinya jika kamu menggali lubang menembus bumi, dsb. Dan tentu saja, apa jadinya jika bumi datar.

Buku yg judul aslinya adalah “What Would Happen?” dan disusun oleh Crispin Boyer ini membahas seputar ilmu pengetahuan alam (sains). Namun di bagian akhir ada satu bab berjudul “Lari dari Kenyataan” yg isinya lebih ke pertanyaan-pertanyaan imajinatif non-sains, seperti, apa jadinya jika kamu berkerabat dengan raja, apa jadinya jika segala sesuatu gratis, apa jadinya jika zombi menyerang, dan beberapa pertanyaan lain yg membutuhkan jawaban lebih dari kajian ilmu alam. Walaupun hanya satu bab tapi menurut saya itu penting karena pertanyaan anak-anak tak melulu hanya tentang alam semesta.

Walaupun serial buku Natgeo for Kids ini ditujukan untuk anak-anak dengan ilustrasi dan gambar-gambar menarik penuh warna-warni, namun isinya sangat informatif dan bermanfaat sehingga juga bisa dinikmati oleh orang-orang dewasa yg masih awam dalam ilmu alam. Tidak usah gengsi membaca buku ilmu pengetahuan seperti ini jika kita masih banyak kurang paham tentang ilmu pengetahuan alam umum. Jangan sampai wawasan dan pengetahuan kita yg dewasa kalah dengan anak-anak yg suka membaca buku. Apalagi jika kita telah menjadi orang tua, malu dong jika kita tidak bisa menjawab (atau menjawab salah) pertanyaan anak-anak kita sendiri.

Terlebih lagi kaum bumi datar yg saya berani katakan seluruhnya tidak paham atau salah paham terhadap ilmu alam, saya sarankan untuk juga membaca serial buku Natgeo for Kids. Banyak sekali pertanyaan kaum bumi datar yg telah dijawab dalam buku di serial ini. Daripada sok pintar tapi malah pamer kebodohan di media sosial, ada baiknya kaum bumi datar membaca buku-buku ini dulu sebelum ribut bertanya di media sosial dan internet.

Selamat membaca dan salam akal sehat! 😊 

DASAR-DASAR ASTRONOMI

Bagi yg ingin memahami ilmu astronomi harus membaca buku yg berjudul “Fundamental Astronomy” (Dasar-Dasar Astronomi). Buku ini disusun oleh beberapa ilmuwan astronomi dan astrofisika dari beberapa perguruan tinggi di Finlandia. Buku ini banyak digunakan sebagai buku teks dalam mata kuliah dasar astronomi di berbagai perguruan tinggi di Eropa. Buku ini bukan jenis buku ringan karena materinya cukup banyak dan tebalnya lebih dari 500 halaman.fundamental_astronomy

Sebagaimana judulnya, buku ini menjelaskan berbagai pengetahuan dasar astronomi untuk memahami ilmu astronomi lebih lanjut. Karena itu, buku ini juga perlu dibaca oleh orang-orang yg hobi astronomi atau astronom amatir. Hal yg dibahas antara lain: sistem koordinat bola yg memiliki berbagai jenis kerangka acuan sehingga bisa diketahui skala dan posisi benda-benda langit secara akurat menjadi peta langit; sistem waktu terkait dengan gerakan benda langit misalnya untuk penentuan dan perhitungan kalender; peralatan ukur dan pengamatan astronomi yaitu berbagai jenis teleskop optik dan teleskop radio; teknik perhitungan dan pengukuran cahaya, panas, dan radiasi khususnya pada jarak yg sangat jauh; teknik perhitungan dan pengukuran gerakan benda langit dengan hukum-hukum fisika (klasik) sehingga bisa diketahui pergerakan dan massanya; penjelasan sistem tata surya hingga sistem galaksi; dan ditutup dengan bahasan astrobiologi dan eksoplanet yaitu tentang kemungkinan adanya kehidupan di luar bumi dan tata surya. Jika anda penggemar astronomi, semua topik di atas pasti menarik untuk dibaca.

Berhubung buku ini ditujukan untuk jenjang perguruan tinggi maka pengetahuan tentang matematika, fisika, kimia, dan biologi di jenjang sebelumnya sudah harus dikuasai dengan baik. Dalam buku ini ada cukup banyak penjelasan dengan perhitungan matematika berdasarkan ilmu fisika dasar. Misalnya dalam topik sistem koordinat, karena bumi itu bulat maka perhitungan koordinat juga dilakukan dengan acuan bentuk bulat (sphere) sehingga pemahaman pembaca terhadap geometri dan trigonometri harus baik. Begitu juga kalkulus dasar dibutuhkan dalam perhitungan gerak sehingga pembaca juga dituntut paham kalkulus dengan baik. Jika pembaca kurang menguasai ilmu-ilmu dasar tersebut, bahasan perhitungan bisa saja dilompati, namun akan mengurangi pemahaman teknis yg menjadi basis pengetahuan astronomi. Ibarat kita makan durian tapi tanpa mau repot membelah dan mengambil daging durian dari buahnya.

Ilmuwan mengatakan matematika adalah bahasa alami semesta karena seluruh fenomena alam semesta bisa dijelaskan dengan perhitungan matematika. Bahkan sebagian ilmuwan, secara filosofis, meyakini bahwa bahasa Tuhan yg paling universal adalah matematika. Matematika bukan ilmu kira-kira atau asumsi seperti yg dituduhkan oleh kaum anti-sains. Banyak penemuan sains yg diawali dari perhitungan matematika lalu terbukti dengan pengamatan di dunia nyata. Contoh yg paling terkenal dalam dunia astronomi adalah penemuan planet Neptunus oleh seorang ilmuwan Perancis bernama Urbain Le Verrier yg mengamati “kejanggalan” jalur orbit Uranus secara matematis sehingga dikatakan dia telah “menemukan planet baru di ujung penanya”. Penemuannya matematis tersebut kemudian terbukti benar melalui pengamatan langsung sekitar 3 bulan kemudian, pada September 1846.

Jadi, bagi yg ingin memahami ilmu astronomi beserta segala bukti ilmiahnya, yg telah ditemukan oleh para ilmuwan yg ahli sejak ratusan tahun yg lalu, silakan pelajari dan pahami isi buku ini. Kita kini hidup di jaman modern, di jaman manusia sudah mampu menjelajah tata surya dan mampu mengamati hingga tepi semesta, astronomi adalah ilmu yg penting. Jangan sampai raga kita hidup di jaman modern abad ke-21 tetapi akal kita masih tertinggal di jaman purba abad ke-12 SM, yaitu seperti kaum bumi datar.

Selamat membaca dan salam akal sehat. 😊