Akun Palsu dan Diskusi Ilmiah

Dalam debat bumi datar (FE) vs bumi bulat (GE), sering kali kedua belah pihak mempertanyakan keaslian akun lawan debat. Mereka beranggapan argumen dari pengguna dengan akun asli lebih bisa dipertanggung-jawabkan daripada argumen dari pengguna dengan akun palsu. Anggapan itu adalah sebuah sesat pikir (fallacy). Begini…

Diskusi ilmiah dibangun dengan argumen-argumen berdasarkan logika, data, fakta, dan bukti ilmiah yg sah (valid) dan diakui benar (confirmed). Argumen-argumen yg tidak berdasarkan prinsip dan konsep keilmiahan, tidak layak digunakan dalam sebuah diskusi ilmiah. Apalagi argumen yg hanya berdasarkan dugaan nirbukti, mitos tahayul, berita bohong alias hoax, atau konspirasi omong kosong, tentu sangat tidak layak digunakan dalam diskusi ilmiah. Dengan begitu, kualitas sebuah argumen ditentukan dari isi argumennya, bukan dari siapa yg menyatakan. Diskusi ilmiah bersifat setara (egaliter) terhadap subyek argumen sebab diskusi ilmiah bertujuan mencari kebenaran berdasarkan ilmu pengetahuan yg benar. Argumen seorang profesor tetap salah jika tidak sesuai ilmu yg benar, sebagaimana argumen seorang lulusan SMA tetap benar jika sesuai dengan ilmu yg benar. Ada ujaran untuk prinsip itu, “berlian tetap berlian walau keluar dari mulut anjing, kotoran tetap kotoran walau keluar dari mulut raja”.

vendetta-anonymous

Di internet dan media sosial, tampil sebagai akun palsu (pseudonym) atau tak dikenal (anonymous) adalah hak setiap orang. Jangankan di dunia maya, di dunia nyata pun setiap orang berhak untuk tampil tidak dikenal atau dikenal dengan identitas palsu. Alasannya bisa beragam dan banyak faktor, tetapi tidak ada satu pun pihak yg berhak melarang kita untuk tampil pseudonim, termasuk penyedia layanan media sosial dan internet itu sendiri. Kita hanya wajib menunjukkan identitas asli pada negara dan lembaga negara atau institusi yg ditunjuk negara (contohnya perbankan), sesuai undang-undang yg berlaku. Selain itu, kita berhak untuk tidak menunjukkan identitas asli. Buktinya, Facebook pun tidak bisa memaksa penggunanya menggunakan identitas asli. Facebook hanya bisa bertindak reaktif (berdasarkan laporan dari pengguna lain dalam jumlah banyak), bukan proaktif, terhadap penggunanya yg menggunakan identitas palsu. Demikian juga di layanan media sosial lainnya di internet. Jadi, jika ada pihak yg memaksa ingin tahu identitas asli kita tanpa alasan atau dasar hukum yg jelas, tanyakan balik “siapa anda?”

Lagipula, tidak ada jaminan identitas yg ditunjukkan orang di internet dan media sosial itu betul-betul asli. Apa susahnya kita mengunggah foto orang lain dan gunakan nama orang lain lalu diakui sebagai identitas diri kita? Mudah sekali. Apalagi di jaman digital yg canggih ini, mengubah tulisan dan gambar di kartu identitas (seperti KTP) dengan aplikasi olah gambar (seperti Photoshop) juga tidak sulit-sulit amat. Itu sebabnya penyedia layanan media sosial memberikan tanda khusus bagi akun yg memang terbukti betul-betul asli. Misalnya di Facebook itu berupa tanda centang biru di laman profilnya. Hanya akun yg memiliki tanda centang biru itu yg sah mengaku bahwa akun Facebook-nya betul-betul asli. Jika akun kita tidak mendapat tanda centang biru itu, maka sejatinya akun kita pun sama palsunya dengan akun-akun orang lain yg tanpa centang biru. Jadi, tidak usah sok mengaku akun asli jika tidak/belum ada tanda centang biru.

Akun yg foto dan namanya sesuai identitas asli pun belum tentu bisa dipercaya. Di internet dan media sosial banyak beredar orang-orang yg tampil dengan identitas asli tapi perilakunya jahat atau tidak bertanggung-jawab. Jangan sembarangan memberikan data pribadi yg sensitif dan rahasia (privacy) di media sosial pada orang yg tidak kita kenal betul. Sudah banyak terjadi kejahatan, mulai dari penipuan hingga pembunuhan, yg berawal dari ketidak-hati-hatian berinteraksi dengan orang asing di media sosial. Maka dari itu, selalu waspada dan berhati-hatilah di internet karena kita tidak tahu siapa bisa berbuat apa pada kita.

Oleh karena itu, hentikan sesat pikir akun asli itu argumennya lebih bisa diterima. Mari kita diskusi dan debat ilmiah dengan cara dan bukti yg ilmiah juga. Jangan seperti kaum bumi datar yg debatnya cuma bermodal asumsi, dugaan, khayalan, hoax, dan omong kosong. Mereka tidak mungkin bisa berdebat secara ilmiah karena bumi datar itu hanya dongeng tanpa ilmu sama sekali. Ilmiah dari Hongkong?

Salam akal sehat! 😊

_____
– Gambar diambil dari sini.

Iklan