Sains dan Percaya

Lagi-lagi kaum bumi datar menunjukkan ketidak-pahamannya tentang sains, tapi sok merasa paling mengerti sains. Sering kita baca komentar begini, “Hawking itu atheis, kita tidak boleh percaya omongan orang atheis karena mereka tidak percaya Tuhan”. Komentar seperti itu, selain menunjukkan sesat pikir (fallacy), membenturkan agama dan sains, juga menunjukkan yg bersangkutan tak paham sains. Begini…

Dalam sains, tidak ada prinsip “percaya” (faith), karena sains memang bukan sistem kepercayaan. Sains adalah sistem pembuktian karena setiap pengetahuan di sains harus didasari oleh penelitian dan olah pikir yg ditunjang oleh bukti-bukti (baik berupa fakta empiris, matematis, atau logis) yg bisa diverifikasi oleh semua orang secara obyektif. Selama penelitian itu bisa dibuktikan sesuai kaidah dan metode ilmiah maka hasil penelitian akan diterima sebagai fakta dan kebenaran, hingga terbukti salah (prinsip falsifiable). Sebagai fakta ilmiah, tidak penting dan tidak relevan apakah orang akan percaya atau tidak. Mau semua orang tidak percaya, fakta tetap fakta. Pun sebaliknya, mau semua orang percaya, bohong tetap bohong.

Contoh, teori relativitas Einstein diakui kebenarannya karena memang teori itu bisa dibuktikan secara ilmiah oleh ilmuwan-ilmuwan lain yg kredibel (yg mampu membuktikannya). Bukan karena para ilmuwan percaya begitu saja pada Einstein, sebab Einstein bukan nabi. Bahkan ilmuwan yg membenci Einstein pun, mau tidak mau ikut melakukan verifikasi dan mengakui teori relativitas. Perkara Einstein itu agamanya apa, pilihan politiknya apa, istrinya berapa, dan sebagainya tidak relevan dan tidak bisa menggugurkan kebenaran teori relativitas. Emosi (cinta atau benci) tidak bisa menggugurkan kebenaran sains. Benar katakan benar, salah katakan salah.

science fact
Sains itu bukan tentang kepercayaan, melainkan tentang bukti dan fakta.

Lalu bagaimana dengan kita-kita yg awam sains dan bukan ilmuwan? Sebagai orang yg awam sains, ya kita harus tahu diri. Pengetahuan sains yg telah terbukti benar secara meyakinkan akan menjadi pengetahuan umum, termasuk menjadi kurikulum dan pelajaran di sekolah. Kita tidak usah repot-repot bikin penelitian sendiri untuk membuktikan teori-teori sains yg telah diterima kebenarannya di dunia sains. Apalagi sok pintar bikin penelitian yg membantah sains. Bagaimana kita bisa bikin penelitian, jika ilmunya saja tidak paham? Maka posisikan diri kita sebagai pembelajar, bukan ilmuwan, dimana kita tinggal “percaya” (trust) saja pada ilmu-ilmu dari para ilmuwan yg diakui. Sebagaimana percayanya murid pada guru. Jika murid tidak mau percaya pada guru, lalu murid mau belajar apa?

Paham ya, bedanya antara faith dan trust? Faith itu percaya sekedar percaya saja, jaminan tanpa perlu pembuktian, dan berlaku tetap. Trust itu percaya karena ada bukti atau rekam jejak yg membuatnya layak untuk dipercaya (trustworthy), dan berlaku selama memang masih bisa dipercaya. Ada ujaran dalam bahasa Inggris, “faith is given, trust is earned”. Susah diterjemahkan karena dalam bahasa Indonesia keduanya sama-sama diartikan ‘percaya’.

Oleh karena itu, jika kaum bumi datar tidak atau belum paham sains, silakan belajar sains yg baik dan benar dari sumber-sumber yg bisa dipertanggung-jawabkan. Belajarlah pada ahlinya supaya tidak tersesat pada ilmu-ilmu yg sesat dan menyesatkan. Apa yg kalian tidak pahami bukan berarti itu salah. Jangan tidak paham sains malah menyalahkan sains. Itu seperti buruk rupa cermin dibelah.

Salam akal sehat! 😊

Iklan