Sains itu Jujur dan Terbuka

Dalam debat bentuk Bumi, sebagian kaum bumi datar sering mengklaim mereka sudah melakukan riset ilmiah untuk membuktikan bentuk Bumi. Dan, masih klaim mereka juga, hasil riset mereka berhasil membuktikan Bumi itu datar. Namun konyolnya, ketika diminta untuk menunjukkan riset ilmiah yg telah mereka lakukan, mereka selalu menolak dengan berbagai alasan. Tindakan tersebut lagi-lagi membuktikan bahwa kaum bumi datar tidak paham sains, dalam hal ini adalah riset ilmiah.

Sains adalah sebuah sistem berbasis keilmuan yg dibangun dalam rangka untuk mempelajari dan mengenal alam semesta dari sudut pandang manusia. Sains disusun dari riset-riset ilmiah yg dilakukan oleh seluruh ilmuwan di seluruh dunia. Sains tidak mungkin ada jika tidak ada riset ilmiah dari para ilmuwan. Karena sains melibatkan banyak orang dengan banyak pola pikir, bias subyektif, budaya sosial, keyakinan, nafsu dan kepentingan, serta hal-hal tidak ilmiah lainnya maka sains harus memiliki prinsip-prinsip yg juga harus dipegang teguh oleh semua ilmuwan yg terlibat di dalamnya, agar sains bisa diandalkan, diakui, dan diterima oleh seluruh manusia di dunia. 

galileo_paradox.jpg

Dalam konteks ilmiah, setidaknya ada 5 (lima) prinsip yg menjadi pegangan ilmuwan, yaitu:

1. Integrity of knowledge (keterpaduan pengetahuan).

Hipotesis atau teori ilmiah dari sebuah riset ilmiah harus bisa menunjukkan keterpaduan dalam keseluruhan ilmu pengetahuan yg terkait dan diakui selama ini. Riset ilmiah yg kebenarannya tidak didukung apalagi bertentangan dengan ilmu yg terkait, tidak mungkin benar. Kebenaran ilmu pengetahuan itu saling terpadu dan tidak bertentangan satu dengan yg lain karena alam tidak mungkin bertentangan dengan dirinya sendiri. Bahkan ketika ada sebuah teori ilmiah baru yg mengoreksi teori ilmiah lama, maka teori ilmiah baru itu pun tetap harus terpadu dengan teori lainnya yg tidak dikoreksinya (teori-teori yg masih diterima sebagai kebenaran). Itu sebabnya mengapa dalam sains ada semacam obsesi dari para ilmuwan untuk menemukan sebuah teori tunggal yg menjadi dasar dari segala teori ilmiah yg ada, atau dikenal dengan istilah theory of everything.

Misalnya dalam beberapa klaim teori dari kaum bumi datar, sebuah riset A menyimpulkan fenomena X terjadi karena Matahari di luar kubah. Sementara riset B menyimpulkan fenomena X (yg sama) terjadi karena Matahari di dalam kubah. Maka tidak mungkin kedua riset itu benar, pasti salah satunya benar atau kedua-duanya salah. Jika kedua riset itu dianggap benar maka itu adalah sesat pikir yg dikenal dengan istilah kettle logic. Dan itu masih sama-sama dalam bingkai faham bumi datar, sudah ada riset yg saling kontradiksi, belum diuji dengan teori-teori ilmiah lainnya. Dari prinsip ini saja, faham bumi datar sudah bermasalah.

2. Collegiality (kerjasama dalam keilmuan).

Sains menolak segala jenis klaim, yaitu pengakuan kebenaran secara sepihak. Sebelum diterima sebagai kebenaran, sebuah hipotesis ilmiah harus melalui proses kajian sejawat (peer-review) untuk memastikan riset ilmiah yg mendasari hipotesis tersebut telah dilakukan dengan pengamatan dan pengukuran yg benar, data-data diperoleh dan dihitung dengan benar, dan kesimpulan dibuat dengan metode dan logika yg benar pula. Setiap riset ilmiah akan dikaji bersama oleh sesama ilmuwan untuk memastikan riset dilakukan dengan benar (valid) serta metode dan hasilnya terbukti sesuai (confirmed). Kajian sejawat meminimalkan adanya bias subyektif, kepentingan terselubung, dan kesalahan-kesalahan penelitian yg sangat mungkin terjadi. 

Ada alasan mengapa istilahnya bukan collaboration (kerjasama yg sifatnya terbuka) melainkan collegiality (kerjasama dengan keilmuan atau keahlian yg setara). Riset ilmiah tidak bisa dilakukan oleh semua orang, karena ada syarat-syarat keilmuan dan keahlian yg harus dipenuhi oleh pelaku riset. Ini sama saja dengan tidak semua orang boleh melakukan pembedahan pada manusia, karena untuk melakukan itu diperlukan keilmuan dan keahlian yg baru bisa diperoleh melalui rangkaian pendidikan dan praktek yg tidak mudah. Jika pelaku riset tidak memiliki ilmu dan keahlian untuk melakukan riset ilmiah maka secara logika tentu riset ilmiahnya sangat diragukan, baik secara metode, data, maupun hipotesisnya.

Misalnya ada beberapa kaum bumi datar yg mengaku telah melakukan riset ilmiah dan berhasil membuktikan Bumi itu datar. Tetapi yg meneliti hanya seorang lulusan sekolah dasar yg bahkan tidak mampu membedakan kecepatan dan percepatan, atau tidak paham prinsip atas-bawah, atau tidak mengerti matematika dan statistika (ilmu penting dalam pengolahan data). Semua itu adalah ilmu-ilmu dasar yg seharusnya sudah dipahami sebelum melakukan riset ilmiah bentuk Bumi. Jika ilmu-ilmu dasar saja tidak paham, bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan riset ilmiah dengan baik dan benar? Apalagi kemudian berdasarkan riset abal-abal tersebut lalu dengan yakin menyalahkan ilmu yg telah diakui benar secara ilmiah. Absurd.

3. Honesty (kejujuran).

Ini salah satu nilai terpenting dalam riset ilmiah dan sains secara umum. Sains adalah fondasi peradaban manusia dari masa ke masa. Sampai di mana sains mampu memahami semesta, hingga di situ pula teknologi dibentuk, dan di situ pula peradaban manusia dibangun. Demikian seterusnya sesuai perkembangan ilmu dan kecerdasan manusia hingga seperti sekarang ini. Maka sains harus harus berlandaskan pada kejujuran sebab tidak mungkin peradaban dibangun di atas kebohongan. Dan tentu saja, riset ilmiah sebagai metode capaian sains, harus dilakukan dengan penuh kejujuran pula. Sains bisa salah, tapi sains tidak boleh bohong.

Laporan riset ilmiah tidak boleh menambahi atau mengurangi, apalagi mengubah, fakta dan data yg diperoleh selama proses pengukuran atau pengamatan, dengan alasan apa pun. Laporan riset ilmiah harus bisa menjelaskan seluruh proses dalam riset secara jujur dan apa adanya. Jika ada pengukuran yg dianggap kurang tepat karena situasi, kondisi, atau keterbatasan tertentu sehingga mengurangi ketepatan pengambilan data, maka itu pun juga disampaikan. Atau jika ada alat yg diduga kurang akurat namun tidak ada pengganti yg lebih baik, maka itu pun disampaikan juga. Hal itu penting agar ilmuwan lain yg ingin mengulang riset tersebut bisa melakukan pengukuran yg lebih baik agar diperoleh hasil yg lebih tepat. Riset ilmiah itu dikaji bersama dan dilakukan secara berkesinambungan.

Namun bagaimana pun juga, ilmuwan tetaplah manusia biasa. Yg namanya manusia, pasti berkelindan dengan nafsu dan kepentingan. Sains pernah melalui masa-masa kelam di mana beberapa riset ilmiah dibuat dengan penuh kebohongan. Contohnya adalah skandal fosil manusia Piltdown, di awal abad ke-19. Karena keterbatasan pembanding, fosil tersebut sempat diterima kalangan ilmiah sebagai bukti pertama ditemukannya “missing link” dalam teori evolusi Darwin. Harus diakui skandal ini menjadi catatan buruk dalam sejarah sains. Tetapi berkat prinsip yg berlaku dalam sistem sains serta masih banyaknya ilmuwan yg berpegang teguh pada prinsip itu maka kebohongan fosil manusia Piltdown pun akhirnya terbongkar melalui serangkaian penemuan fosil lain. Sejak kasus tersebut, dunia ilmiah semakin ketat dalam melakukan riset ilmiah dan kajian sejawat. Tentu mungkin saja masih ada kebohongan dalam riset ilmiah, tetapi kebohongan tersebut –jika ada– tidak akan bertahan lama karena sistem dan metode ilmiah telah mengantisipasi adanya kemungkinan itu.

Prinsip kejujuran dalam sains ini menjawab tuduhan kaum bumi datar yg katanya sains modern itu penuh rekayasa. Dan tentu saja mereka tidak bisa menyertakan bukti tuduhan tersebut. Dari tuduhannya saja, mereka sudah tidak jujur, lalu bagaimana kita bisa percaya mereka jujur dalam riset ilmiah yg mereka lakukan?

4. Objectivity (obyektivitas).

Sains berusaha mempelajari dan memahami alam semesta dari sudut pandang manusia. Sementara manusia itu memiliki banyak kecenderungan subyektif yg bisa mempengaruhi keabsahan sebuah hipotesis dan proses dalam riset ilmiah. Sains itu harus anti-SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Untuk itu sains perlu memiliki mekanisme yg bisa menghilangkan semua pengaruh subyektif tersebut agar diperoleh hipotesis dan riset ilmiah yg bisa dibuktikan oleh ilmuwan mana pun secara obyektif.

Salah satu mekanisme itu adalah laporan ilmiah yg rinci. Sebuah riset ilmiah harus tetap menghasilkan fakta dan data yg sama, terlepas siapa pun yg melakukan riset tersebut. Oleh karena itu, laporan riset ilmiah harus menyertakan seluruh rincian prasyarat, proses, alat, dan metode yg dilakukan agar riset tersebut bisa dikaji lebih lanjut oleh ilmuwan lain. Dengan demikian, setiap riset ilmiah harus bisa diuji (testability) dan diulang (reproducibility) oleh ilmuwan lain tanpa pengaruh apa pun dari pelaku riset pertama. Sebuah riset ilmiah yg menghasilkan fakta dan data yg berbeda ketika riset tersebut dilakukan ulang oleh ilmuwan lain, tentu akan ditolak sebagai kebenaran ilmiah karena tidak memenuhi prinsip obyektifitas ini.

Kaum bumi datar pada umumnya tidak paham prinsip obyektivitas ini. Mereka mengklaim telah melakukan riset ilmiah tapi tidak ada satu pun laporan ilmiah yg dengan rinci menjelaskan seluruh proses dan metode ilmiah yg mereka lakukan. Biasanya hanya berupa video atau foto yg entah bagaimana mereka membuat atau memperolehnya, lalu secara sepihak memutuskan kebenaran dari video/foto tersebut. Hal seperti itu bukan riset ilmiah, tapi hanya klaim sepihak tanpa bukti, sehingga tidak bisa dijadikan dasar penentuan sebuah kebenaran ilmiah, apalagi menyalahkan kebenaran ilmiah yg telah diakui selama ini.

5. Openness (keterbukaan).

Sains itu dilakukan untuk kepentingan seluruh manusia. Karena itu sains harus bersifat terbuka, agar bisa dipelajari dan dikaji oleh siapa pun. Untuk itulah kemudian lahir berbagai jurnal ilmiah sebagai pusat-pusat penerbitan laporan hasil riset ilmiah para ilmuwan dari seluruh dunia, sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing. Selain membantu dalam keterbukaan, jurnal ilmiah juga penting dalam publikasi. Dengan adanya jurnal ilmiah, semua orang dari mana pun bisa mengikuti perkembangan penelitian ilmiah di seluruh dunia. Termasuk para investor dan pelaku industri.

Ilmuwan-ilmuwan sedunia berlomba agar laporan riset ilmiah mereka bisa terbit dalam jurnal-jurnal ilmiah, apalagi yg kelas dunia. Tujuannya bukan semata agar terkenal, tetapi agar risetnya bisa dikaji oleh ilmuwan-ilmuwan sedunia. Semakin banyak ilmuwan lain yg mengakui sebuah riset ilmiah sah dan benar maka semakin cepat hipotesis dari riset tersebut diterima sebagai teori ilmiah. Teori ilmiah baru yg diakui benar akan melahirkan teknologi baru pula. Teknologi baru yg efektif dan efisien akan laku di industri, maka ilmuwan bisa mencapai kesejahteraan. Teknologi dan industri makin maju maka makin canggih peradaban manusia. Dan seluruh manusia bisa ikut menikmatinya.

Keterkaitan antara sains, teknologi, dan industri melalui keterbukaan dan kejujuran sains ini membantah tuduhan kaum bumi datar bahwa elit global –jika memang ada– menguasai dunia dengan sains penuh rekayasa. Justru sebaliknya, elit global bisa menguasai dunia karena mendukung sains yg jujur dan terbuka. Sains yg bohong dan rekayasa tidak bisa menjadi dasar teknologi sehingga tidak mungkin menjadi basis industri. Jika tidak bisa membangun industri, lalu bagaimana mendapatkan keuntungan? Elit global justru sangat berkepentingan untuk mendukung sains yg jujur dan terbuka, bukan sebaliknya. Sejarah sudah membuktikan, industri yg didasarkan pada pseudosains (sains palsu atau bohong) tidak pernah berhasil.

Ironisnya, kaum bumi datar sendiri malah tidak bisa berlaku jujur dan terbuka dalam segala klaim mereka. Dan seperti biasa, mereka yg tidak jujur tetapi orang lain yg dituduh berbohong. Kaum bumi datar katanya telah melakukan riset, tetapi ketika diminta menunjukkan laporan dan rincian risetnya, mereka malah menghindar dengan alasan kerahasiaan. Jika dirahasiakan, lalu bagaimana orang lain bisa mengkaji dan mengakui risetnya benar? Kaum bumi datar hanya bisa mengklaim kebenaran secara sepihak, tapi tidak mampu menyajikan bukti-bukti ilmiahnya. Segala alasan kaum bumi datar untuk tidak menunjukkan hasil riset mereka –itu pun jika benar-benar ada– menjadi bukti bahwa klaim riset mereka hanya omong kosong belaka.

Faham bumi datar terbukti salah dan bohong secara ilmiah dari segala sisi. Dari sisi prinsip dan konsep ilmiah banyak yg tidak terpenuhi, dari sisi riset ilmiah banyak yg tidak terpenuhi, dari kesesuaian dengan ilmu alam lainnya banyak yg tidak terpenuhi, dan berbagai kesalahan dan kebohongan lainnya. Dengan segala kesalahan dan kebohongan tersebut, faham bumi datar sangat tidak layak bahkan untuk sekadar disebut hipotesis ilmiah, apalagi teori ilmiah. Faham bumi datar itu memang lebih cocok disebut sebagai dongeng saja.

Salam akal sehat! 😊 

_____
Gambar diambil dari sini.

Iklan