Tuhan dan Semesta

Dulu, hingga tahun 1950-an, manusia masih menganggap jenis kelamin bayi dalam kandungan adalah sebuah misteri. Tidak mungkin bagi manusia waktu itu untuk bisa mengetahui jenis kelamin bayi dalam kandungan. Hanya Tuhan yg bisa mengetahui hal tersebut. Namun berkat kerja keras para ilmuwan, ditemukanlah teknik pencitraan dengan menggunakan ultrasonik. Maka terciptalah teknologi ultrasonografi yg sangat bermanfaat di berbagai bidang mulai dari militer, komunikasi, hingga medis dan kesehatan.

Banyak lagi contoh bagaimana sains berusaha mempelajari alam semesta dan perilakunya kemudian menghasilkan teknologi yg membuat kehidupan manusia semakin mudah, nyaman, canggih, dan sehat. Sains dan teknologi menjadi dasar bagi terciptanya peradaban manusia. Dari seluruh makhluk hidup yg ada di muka Bumi ini, hanya manusia satu-satunya makhluk yg bisa mempelajari alam semesta (sains), menciptakan alat bantu (teknologi), membangun komunitas sosial dalam jumlah besar, lalu membangun peradaban berskala besar bagi spesiesnya. Seiring dengan kemajuan sains dan teknologi, semakin canggih pula peradaban manusia, hingga seperti yg kita nikmati di abad 21 ini.

Namun demikian, dalam setiap masa, selalu saja ada segolongan manusia yg berusaha menolak sains dan teknologi. Contohnya pada saat diperkenalkan teknologi ultrasonografi (USG) untuk melihat kondisi bayi dalam kandungan, termasuk jenis kelaminnya, muncul penolakan dari sebagian kalangan. Mereka yg menolak ini umumnya kaum agamis yg masih berpikir primitif, yg beranggapan seharusnya manusia dilarang melewati batas pengetahuan Tuhan. Menurut mereka, jenis kelamin bayi dalam kandungan itu adalah rahasia Tuhan, manusia tidak boleh masuk ke ranah tersebut. Tentu itu adalah alasan yg konyol. Dimana batas pengetahuan manusia dan Tuhan? Buat apa Tuhan memberikan ilmu dan akal pada manusia jika tidak boleh digunakan? Jika memang Tuhan tidak ingin manusia tahu, mengapa Tuhan membiarkan manusia menemukan ilmu dan menciptakan teknologi untuk mengetahui rahasia-Nya? Bukankah Tuhan itu mahakuasa? Kaum agamis yg primitif ini tanpa sadar justru sedang merendahkan Tuhan, tapi merasa sedang membela Tuhan. Sounds familiar? 😊

Nah, agar kaum agamis primitif ini bisa berkembang dan tidak menjadi batu sandungan dalam peradaban manusia, mereka seharusnya memahami bagaimana sains memandang semesta dan Tuhan. Begini…

pythagoras_god_universe

Sains itu berusaha memahami bagaimana alam semesta bekerja melalui para ilmuwan dan pemikirnya dengan serangkaian proses pengamatan, perhitungan, pemodelan, pengujian, dan pembuktian secara obyektif hingga akhirnya manusia paham bagaimana suatu fenomena alam terjadi. Setelah dipahami, semua itu menjadi ilmu pengetahuan dan disebarkan ke manusia lain di muka Bumi agar seluruh manusia bisa menikmati manfaat ilmu tersebut. Sains tidak berusaha memahami Tuhan. Sains tidak menolak Tuhan, juga tidak melibatkan Tuhan. Tidak melibatkan Tuhan bukan berarti sains menolak Tuhan. Sains hanya berusaha memahami salah satu karya Tuhan yg terbesar, yaitu alam semesta, dari sudut pandang dan akal manusia sendiri. Makanya, sains tidak bisa menerima jawaban “kehendak Tuhan” karena itu artinya melibatkan Tuhan.

Kalangan ilmuwan yg mengakui Tuhan, memandang alam semesta tidak diciptakan Tuhan secara langsung jadi hasil akhir, melainkan Tuhan menciptakan aturan dan tata cara kerja alam yg bersifat universal. Aturan dan tata cara kerja alam ini disebut sebagai hukum-hukum alam. Sains hanya berusaha mencari dan memahami hukum-hukum alam ciptaan Tuhan tersebut. Secara umum, sains memahami hukum alam tidak dalam bentuk kata dan kalimat, tetapi dalam angka dan rumus, atau disebut dengan matematika. Tuhan menciptakan hukum alam terlebih dahulu, dan ketika hukum alam itu dijalankan maka terbentuklah alam semesta dengan segala isinya. Contohnya, Tuhan tidak menciptakan Bumi langsung simsalabim jadi Bumi, melainkan Tuhan menciptakan hukum gravitasi dan materi-materi penyusunnya sedemikian hingga terjadi proses yg menghasilkan Bumi. Dengan seperangkat hukum-hukum alam yg diciptakanNya, Tuhan menciptakan bintang, planet dan satelitnya, serta segala hal yg ada di alam semesta, termasuk kehidupan dan manusia. Ketika karena alasan tertentu Tuhan turun tangan langsung dan “mengganggu” hukum alam sehingga terjadi fenomena yg “melanggar” hukum alam yg seharusnya, maka itulah yg kita sebut dengan keajaiban atau mukjizat.

Karena manusia dan alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, maka apa pun yg berhasil ditemukan oleh sains dan diwujudkan menjadi teknologi, sudah pasti dengan ijin dan atas kehendak Tuhan juga. Mustahil manusia mampu memahami ilmu, apalagi menciptakan teknologi, jika tidak dikehendaki oleh Tuhan. Manusia yg menolak Tuhan saja dibiarkan ada, apalagi manusia yg ingin memahami dan memanfaatkan ilmu Tuhan? Kemampuan manusia menemukan ilmu dan menciptakan teknologi merupakan bukti bahwa ilmu Tuhan itu tidak terbatas. Sekaligus juga membuktikan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yg paling istimewa karena bisa memahami (sebagian) ilmu dari Tuhan dan mewujudkannya menjadi teknologi.

“Any sufficiently advanced technology is indistinguishable from magic.” ~Arthur C. Clarke

Setelah melalui proses yg panjang sejak awal manusia bisa baca-tulis, abad 21 ini adalah awal dari era sains dan teknologi yg sangat kompleks dan rumit. Sains hari ini telah bisa menjangkau hal-hal yg di luar kemampuan inderawi manusia. Teknologi hari ini telah mampu melakukan hal-hal yg dianggap tidak mungkin dilakukan oleh manusia di abad sebelumnya. Bagi orang yg ilmunya terbelakang, sains dan teknologi hari ini akan tampak seperti sihir. Bagi orang yg akalnya sempit dan tertutup, sains dan teknologi hari ini akan dianggap tidak masuk akal. Contoh orang-orang yg demikian adalah kaum bumi datar.

Salam akal sehat! 😊

_____
– Gambar diambil dari sini.

Iklan