Berilmu Dalam Ketakutan

Sejak gonjang-ganjing pemilu presiden pada tahun 2014 yg lalu, saya mengamati fenomena sosial yg unik dari sebagian kaum beragama dalam berpolitik di negeri ini. Kaum beragama ini tampilan luarnya seolah pemberani yg tidak takut mati, tapi sikap mentalnya justru seperti orang dalam ketakutan (insecure). Mereka emosional dan reaktif sehingga mudah sekali diadu-domba dan diprovokasi. Mereka seolah beragama dalam ketakutan.

Sikap dan perilaku dari kaum beragama yg unik itu saya temukan juga nyaris sama persis dengan sikap dan perilaku kaum bumi datar. Kaum bumi datar merasa dirinya yg paling pintar, tapi faktanya mereka tidak paham ilmu. Kaum bumi datar merasa dirinya menegakkan kebenaran, tapi faktanya mereka menjunjung tinggi kebodohan. Kaum bumi datar merasa dirinya sebagai korban penindasan sehingga perlu melawan sesuatu. Tapi tidak pernah jelas siapa yg sebenarnya harus dilawan, maka siapa pun yg berbeda akan mereka serang. Kaum bumi datar merasa dirinya terancam oleh sesuatu yg juga tidak jelas, maka siapa pun yg berbeda akan mereka curigai (trust issue). Dan jika orang-orang yg berbeda dengan mereka mendapat kesusahan, mereka pun akan riang gembira dan merasa menang. Mereka tertawa di atas duka orang lain yg sebenarnya tidak memusuhi mereka.

Dari sekian jenis kaum bumi datar, yg meyakini bumi datar karena alasan agama merupakan golongan yg paling kuat dalam membela keyakinan bumi datar. Kaum agamis ini merasa sedang melakukan perang suci membela agamanya. Dan sebagian mereka merasa sah-sah saja menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara kotor seperti fitnah dan bohong (hoax), dengan alasan sedang berperang. Dengan tanpa rasa bersalah, mereka memelintir berita dan perkataan orang lain (quote mining) demi membela keyakinan mereka. Termasuk terhadap para ahli agama yg berseberangan, tanpa segan mereka melontarkan fitnah keji dan tuduhan palsu tanpa bukti. Demi membela bumi datar, mereka rela melakukan hal-hal yg dilarang oleh agamanya. Dan ironisnya, mereka tetap merasa benar dan suci, bahkan bangga, setelah melakukan semua itu.

Karena motivasi mereka adalah membela agama maka tentu para ilmuwan atheis (tidak percaya Tuhan) adalah musuh besar mereka. Tanpa alasan dan bukti yg jelas, setiap ilmuwan atheis akan mereka tuding sebagai antek elit global yg menciptakan teori-teori sains yg sesat. Itulah sebabnya mengapa kaum bumi datar agamis ini merasa senang dengan meninggalnya ilmuwan besar dunia, Stephen Hawking, beberapa waktu yg lalu. Tak cukup hanya itu, mereka pun tanpa malu menghujat sang ilmuwan di internet dan media sosial. Semua itu hanya karena satu alasan saja: atheis. Sebagian kaum bumi datar bahkan sudah pada tingkat atheis-phobia (ketakutan atau kebencian yg tidak beralasan pada atheis). Padahal di bidang sains yg sama, ada ribuan ilmuwan lain yg beragama sama dengan mereka. Tapi itu tidak penting, ada satu saja ilmuwan atheis di bidang tertentu maka seluruh ilmu dan ilmuwan di bidang tersebut akan dianggap salah dan sesat oleh mereka.

delution_nitzsche

Jika di politik kita melihat ada sebagian orang yg (merasa) beragama tapi dalam ketakutan, maka kaum bumi datar ini adalah orang-orang yg (merasa) berilmu tapi dalam ketakutan. Mereka merasa paling benar, paling suci, paling pintar, paling beradab, walaupun faktanya berbeda 180º. Namun secara mental, mereka merasa ditindas, terancam, dimusuhi, dan kalah. Akibatnya, mereka memusuhi siapa pun yg berbeda dengan mereka. Mereka curiga pada siapa pun yg tidak dalam lingkungan dengan mereka. Mereka takut pada segala hal atau pihak yg tidak sejalan dengan keyakinan mereka. Kenyataannya, tidak ada pihak yg menindas atau memusuhi mereka. Mereka membangun sendiri musuh khayalan mereka, lalu meyakininya seolah betul-betul ada di dunia nyata.

Mereka sering berkoar-koar bahwa kaum bumi datar itu berpikiran terbuka (open minded), rasional (paham logika), dan suka bereksperimen (riset). Faktanya, grup diskusi mereka bersifat tertutup, tidak menerima orang yg tidak percaya bumi datar, dan menolak semua bukti dan fakta ilmiah yg bertentangan dengan faham bumi datar. Faktanya, mereka tidak paham logika, apalagi matematika, terbukti dari argumen-argumen mereka yg penuh dengan sesat logika (fallacy). Faktanya, mereka tidak pernah melakukan riset ilmiah. Boro-boro riset ilmiah, metode ilmiah saja mereka tidak paham. Lalu bagian mana dari kaum bumi datar yg berpikiran terbuka, rasional, dan suka riset? Tidak ada. Cuma klaim kosong belaka, persis seperti faham bumi datar itu sendiri.

Kondisi kaum bumi datar yg demikian itu menjadi dilema yg serba salah. Jika kita biarkan, mereka akan makin yakin dengan kebenaran faham bumi datar dan semakin berani menyebarkan kesalahan dan kebodohannya ke masyarakat. Jika kita lawan, justru seolah menjadi pembenar bagi kondisi mental mereka yg merasa dimusuhi dan ditindas, yg akan membuat mereka makin teguh membela faham bumi datar. Apa pun yg kita lakukan untuk menyadarkan mereka tergantung pada kondisi mental dan pikiran mereka. Maka, solusinya ada di tangan mereka sendiri. Jika mereka mau membuka pikiran dan wawasan serta menerima ilmu yg benar, mereka akan bisa keluar dari kesesatan faham bumi datar. Jika mereka tetap menutup pikiran dan wawasan dari ilmu yg benar, mereka akan tetap dalam kesesatan. Semoga mereka segera sadar.

Salam akal sehat! 😊 

_____

CATATAN: Mohon maaf jika tulisan saya jarang muncul. Akhir-akhir ini saya sedang sibuk sekali dengan pekerjaan, mungkin hingga beberapa bulan ke depan. Target saya 2 tulisan setiap minggu sulit dipenuhi selama masa sibuk tersebut. Namun saya usahakan setidaknya ada 1 tulisan setiap dua minggu. Semoga maklum. Terima kasih.

– Gambar diambil dari sini.

Iklan