Sains dan Spiritualisme

Di grup bentuk Bumi, kaum bumi datar sering menuduh saya sebagai seorang atheis, yaitu orang yg tidak percaya Tuhan dan agama. Semata karena saya sering membantah argumen agama mereka dengan bukti-bukti ilmiah. Mereka tidak mampu membantah argumen saya secara ilmiah, lalu mereka menggunakan argumen agama dan menuduh saya anti-Tuhan dan anti-agama. Dan seperti biasa, tuduhan itu tanpa disertai bukti apa pun kecuali prasangka buruk berlandaskan kebencian.

Saya memang orang yg rasional dan paham sains secara umum. Namun saya juga orang yg percaya Tuhan dan memeluk agama tertentu. Seperti yg berulang kali saya katakan, sains tidak mengurusi keyakinan siapa pun. Sains hanya berusaha memahami cara kerja alam semesta dari sudut pandang manusia. Sains tidak pernah menyarankan atau melarang siapa pun untuk percaya atau tidak percaya Tuhan, karena Tuhan dan agama adalah urusan pribadi masing-masing manusia. Tuhan dan agama bukanlah urusan sains. 

Siapa pun bisa percaya Tuhan dan menerima kebenaran agama tanpa harus menolak kebenaran sains. Pun sebaliknya, kita bisa menerima kebenaran sains, tanpa harus menolak kebenaran agama. Faktanya, banyak ilmuwan yg masih percaya Tuhan dan beragama dengan taat. Saya percaya bahwa kebenaran agama dan kebenaran sains pasti sejalan, sebab keduanya sama-sama ciptaan Tuhan. Mustahil sama-sama ciptaan Tuhan saling bertentangan. Jika ada yg kita anggap tidak sejalan maka hanya ada dua kemungkinan, yaitu:

1. Sains belum mampu menunjukkan kebenaran yg mencapai tingkat kebenaran agama. Sains berusaha memahami alam semesta dari sudut pandang manusia maka segala keterbatasan dan kekurangan manusia juga menjadi penghambat sains. Oleh karenanya, kebenaran sains bersifat relatif dan sementara, sekaligus dinamis mengikuti perkembangan kecerdasan manusia.

2. Kita yg belum mampu memahami kebenaran sejati ajaran agama. Kebenaran agama itu mutlak dan abadi. Namun pemahaman kita pada agama belum tentu sesuai dengan kebenaran sejati agama, sebab pemahaman kita juga dari sudut pandang manusia yg serba terbatas, bukan dari sudut pandang Tuhan. Maka pemahaman manusia pada ajaran agama sama seperti sains, sama-sama relatif dan sementara, sekaligus dinamis mengikuti perkembangan kecerdasan manusia. 

Kaum bumi datar umumnya membenci atheis, bahkan sebagian hingga tingkat atheist-phobia (ketakutan atau kebencian berlebihan pada atheis tanpa alasan yg masuk akal). Sama halnya di sebagian kalangan atheis pun ada yg theist-phobia. Ini ironis karena sebenarnya atheis dan kaum bumi datar itu sama-sama manusia yg berpikirnya belum selesai. Atheis dan kaum bumi datar (atau kalangan anti-sains umumnya) adalah dua sisi berbeda dari koin yg sama. Koin kesombongan.

Atheis selalu menganggap bahwa kebenaran sains modern itu telah pamungkas (final). Mereka beranggapan sains sudah bisa menjelaskan segala hal dengan pasti dan benar. Ini anggapan yg keliru karena justru bertentangan dengan prinsip sains itu sendiri yaitu skeptis dan bisa-salah (falsifiable). Faktanya, masih banyak fenomena alam yg belum bisa dijawab sains yg modern sekali pun.¹ Dengan anggapan yg keliru itu, atheis menyalahkan dan menolak agama. Atheis hanya memandang dari sisi sains saja. Mereka umumnya tidak paham agama, atau sok paham saja, tapi dengan sombong menyalahkan dan menolak agama (dan Tuhan).

Sementara di sisi lain, hal serupa dilakukan kaum bumi datar. Kaum bumi datar selalu menganggap bahwa pemahaman agama mereka telah pamungkas (final). Mereka beranggapan pemahaman mereka sudah pasti benar. Ini anggapan yg keliru karena pemahaman manusia pada agama tidak dijamin pasti sesuai dengan maksud sejati Tuhan. Faktanya, ada banyak pemahaman agama yg berbeda namun masing-masing juga merasa benar. Dengan anggapan yg keliru itu, kaum bumi datar menyalahkan dan menolak sains. Kaum bumi datar hanya memandang dari sisi pemahaman mereka sendiri saja. Mereka umumnya tidak paham sains, atau sok paham saja, tapi dengan sombong menyalahkan dan menolak sains (dan ilmuwan).

Lihatlah… susunan kalimat saya pun nyaris sama untuk dua kalangan yg berbeda dan terkesan bertolak belakang itu. Ini bukti pertama bahwa atheis dan kaum bumi datar itu punya pemikiran yg sama-sama keliru. Yg sama dari kedua kaum itu adalah sikap mereka yg sombong.

Kemudian, mari kita bahas bukti kedua mengapa atheis dan kaum bumi datar itu adalah manusia yg berpikirnya belum selesai. Kebutuhan manusia pada tingkat yg paling dasar terdiri dari 3 saja, yaitu:

1. Fisik (raga).
2. Pikiran (akal).
3. Spiritual (jiwa).

Ketiga-ketiganya harus dipenuhi dengan baik agar manusia bisa hidup dengan tercukupi dalam segala aspek, atau biasa disebut hidup bahagia. Kebutuhan fisik dipenuhi dengan sandang, pangan, dan papan yg layak. Ilmu pengetahuan (knowledge) memenuhi kebutuhan pikiran. Agama (atau spiritualisme secara umum) memenuhi kebutuhan jiwa. Manusia membutuhkan ketiganya sekaligus; sandang-pangan-papan memberikan kehidupan, sains memberikan pengetahuan, dan agama memberikan ketenangan. Akal dan jiwa, keduanya sama-sama membutuhkan asupan. Bisa jadi itu alasan dari salah satu ujaran Albert Einstein yg paling terkenal, yaitu “sains tanpa agama itu lumpuh, agama tanpa sains itu buta”.

einstein_arrogance.jpg

Kaum bumi datar yg anti-sains itu kurang asupan pengetahuan sehingga mereka jadi bodoh (dalam ilmu alam). Untuk menutupi kekurangan asupan itu, kaum bumi datar memenuhinya dari agama. Tentu ini solusi yg kurang tepat karena bukan untuk peruntukannya. Agama tidak memberikan pengetahuan alam, tetapi dari ketenangan jiwa. Agama tidak memberikan jawaban secara rinci atas pertanyaan-pertanyaan kita tentang alam semesta yg menuntut pembuktian fisik dengan pengamatan obyektif. Maka jangan heran jika kaum bumi datar secara konyol suka mencocokkan ayat kitab suci dengan pemahaman mereka pada alam semesta. Itu adalah upaya mereka dalam mencari jawaban atas berbagai fenomena alam semesta. 

Oleh karena itu, kita harus memahami sains dan agama secara berbeda, jangan dicampur-aduk agar tidak rusak semuanya. Ini sudah saya jelaskan dalam tulisan saya berjudul “Sains dan Agama” dan “Sains dan Percaya”. Silakan dibaca.

Sementara di sisi lain, kaum atheis yg anti-agama itu kurang asupan jiwa sehingga jiwa mereka terasa “kering” atau “kosong”. Untuk menutupi kekurangan itu, kaum atheis memenuhinya dengan berbagai cara. Ada yg mencari melalui sains kejiwaan atau ilmu psikologi atau bahkan ilmu syaraf (neurologi), yg tentu saja kurang tepat. Karena, menurut saya, psikologi itu lebih ke ranah emosi yg hanya tampilan luar kejiwaan, tapi bukan jiwa itu sendiri. Walaupun psikologi bisa menjawab beberapa pertanyaan spiritualisme tapi tidak akan pernah bisa menjelaskan spiritualisme tingkat tinggi. Contohnya, mengapa saya adalah saya? 

Ada pula yg mencari ke ajaran-ajaran spiritualisme non-agama yg beraneka-macam itu. Maka jangan heran jika ada sebagian atheis yg katanya tidak percaya Tuhan tapi percaya hantu, mitos, dan hal-hal ghaib yg tidak terbukti secara ilmiah. Jangan heran pula jika ada sebagian atheis yg katanya tidak percaya Tuhan tapi berdoa ketika dalam keadaan panik, sakit, atau terdesak. Itu adalah sebagian upaya mereka dalam mencari ketenangan jiwa. Spiritualisme hanya bisa dicapai dengan pengalaman pribadi yg intim dan subyektif, tidak perlu pembuktian apa pun ke orang lain.

Jadi, kaum bumi datar seharusnya tidak perlu lagi membenci kaum atheis yg anti-agama karena mereka itu sebenarnya sama-sama bodoh dalam konteks yg berbeda. Pola pikir mereka pun serupa dan sebangun, sama-sama timpang, sehingga hidup mereka terasa kurang lengkap. Ada kebutuhan mendasar yg tidak bisa mereka penuhi dengan baik. Yg jelas, keduanya sama-sama sombong. Dan sombong itu lebih buruk daripada bodoh.²

Salam akal sehat dan jiwa yg damai. 😊

_____
¹ Ini mungkin perlu saya bahas di lain kesempatan.

² Di agama yg saya anut, dikatakan bahwa Tuhan mengutuk lalu mengusir Iblis dari surga bukan karena Iblis itu bodoh, melainkan karena Iblis itu sombong. Bahkan dikatakan juga bahwa dosa terbesar Iblis bukanlah menyekutukan Tuhan, melainkan sikap sombongnya pada Tuhan. Secara moral, bodoh itu hanya merugikan diri sendiri, tetapi sombong itu selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain.

Iklan